Cross BorderMengapa Militer Tiongkok Bisa Kuat?

Mengapa Militer Tiongkok Bisa Kuat?

Tiongkok baru-baru ini meluncurkan kapal induk tercanggihnya yang diberi nama Fujian. Itu hanya jadi salah satu bukti bahwa saat ini militer Tiongkok semakin kuat. Bagaimana ini bisa terjadi?


PinterPolitik.com

Beberapa waktu terakhir dunia sering dikejutkan oleh kabar tentang pengembangan militer Tiongkok. Terbaru, pemerintah Tiongkok meluncurkan memiliki kapal induk ketiganya, Fujian, pada tanggal 17 Juni 2022. Kapal ini digadangkan jadi kapal induk pertama yang seluruh desainnya murni buatan Tiongkok.

Matthew Funaiole, pengamat dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan Fujian menjadi kapal induk modern pertama Tiongkok yang kemampuannya tidak main-main. Diperlengkap dengan sistem peluncuran berbantuan katapel elektromagnetik, Fujian mampu meluncurkan beragam jet tempur dengan lebih cepat dan juga mampu membawa lebih banyak amunisi.

Dengan sejumlah fitur canggih lainnya, Fujian bahkan dianggap akan menyaingi kemampuan kapal induk canggih Amerika Serikat (AS) Gerald R Ford. Funaiole juga menilai peluncuran Fujian telah menjadi momentum baru bagi Tiongkok sebagai negara dengan angkatan laut terkuat kedua di dunia, karena kapal induk adalah inti kekuatan dari armada kekuatan besar.

Well, Fujian bukan satu-satunya kejutan yang muncul dari perkembangan militer Tiongkok. Baru-baru ini juga beredar berita bahwa Tiongkok tengah mengembangkan pangkalan militer baru di Kamboja. Ini tentu akan menjadi sumber kecemasan baru bagi negara-negara Asia Tenggara – mengingat Tiongkok punya kepentingan yang sangat agresif terhadap Laut China Selatan (LCS).

Menariknya, semua perkembangan militer Tiongkok ini terjadi ketika dunia sedang dihadapi berbagai krisis. Menurut Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI), lembaga internasional yang berdedikasi menganalisis data kontrol senjata dunia, Tiongkok adalah negara dengan peningkatan anggaran pertahanan terkonsisten di dunia, yakni 27 tahun berturut-turut.

Bahkan, dari 2019 sampai 2022, periode ketika pandemi Covid-19 dan imbas konflik Rusia-Ukraina menyerang dunia, anggaran pertahanan Tiongkok tidak terfluktuasi dan tetap sanggup meningkatkan angkanya secara signifikan.

Saat ini, anggaran pertahanan Tiongkok mencapai angka US$230 miliar, atau sekitar Rp 3.400 triliun meningkat 7,1 persen dari tahun sebelumnya, dan menjadi peningkatan tertinggi semenjak 2019.

Hal ini memancing pertanyaan, mengapa perkembangan militer dan pertahanan Tiongkok bisa terus naik ketika banyak negara lain yang justru sedang kesulitan?

image 24

Resep Militerisasi Tiongkok?

Tidak hanya perkembangan ekonomi, peningkatan militer Tiongkok yang begitu pesat juga telah menyita perhatian dunia. Tertutupi oleh bayangan negara besar lainnya seperti Uni Soviet dan Eropa, Tiongkok tiba-tiba saja menjadi negara dengan militer terkuat dunia kedua setelah Perang Dingin berakhir.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Well, setidaknya kita bisa melihatnya dari tiga alasan. Pertama, ini karena pemerintah Tiongkok telah melaksanakan strategi yang disebut military-civil fusion (MCF). Ini adalah strategi reformasi Tiongkok yang bertujuan untuk menderegulasi industri pertahanan di Tiongkok dengan mendorong sektor swasta untuk berinvestasi, dan memproduksi peralatan yang juga bisa dimanfaatkan oleh militer.

Baca juga :  Menlu Rusia Lavrov: Nyet, PBB!

Reformasi tersebut bertujuan untuk meringankan beban administrasi pada perusahaan pertahanan swasta, dan merangsang persaingan yang lebih besar bagi industri pertahanan Tiongkok. Strategi ini sebenarnya sudah diterapkan sejak zaman kepemimpinan Mao Zedong tetapi Richard Bitzinger, pengamat pertahanan dari S.Rajaratnam School of International Studies, menilai MCF di bawah Xi Jinping lebih ambisius daripada para pemimpin-pemimpin Tiongkok sebelumnya.

MCF ini juga diterapkan ketika pandemi Covid-19 melanda Tiongkok. Dengan alasan memastikan keamanan di seluruh wilayah Tiongkok dan distribusi vaksin yang cepat, pemerintah Tiongkok mampu menggunakan momen pandemi untuk juga menguatkan pelatihan militernya.

Kedua, eksploitasi perkembangan teknologi. Jon Bateman dalam bukunya US-China Technological “Decoupling”, menilai bahwa kunci perkembangan militer Tiongkok adalah perkembangan teknologinya. Pemerintah Tiongkok mampu menggunakan kapabilitas riset yang dimiliki sejumlah perusahaan dan universitas di negaranya untuk mengembangkan teknologi militer, dengan memberikan stimulus dan perlindungan politik.

Menurut riset yang dilakukan Australian Strategy Policy Institute (ASPI), Partai Komunis Tiongkok (PKT) memiliki sejumlah relasi dengan berbagai perusahaan Big Tech Tiongkok. Ini kemudian mampu menjamin segala aktivitas penelitian dan pengembangan yang dilakukan bisa diselaraskan dengan kepentingan pertahanan negara.

Ketiga, kemampuan Tiongkok untuk “menjiplak” teknologi militer negara-negara Besar. Pengamat militer Kris Osborn dalam tulisannya China Loves to Steal U.S. Military Technology. Next: The U.S. Military’s Tactics? menyebutkan bahwa alasan kenapa teknologi militer Tiongkok bisa begitu cepat berkembang adalah karena mereka selalu meniru kesuksesan teknologi negara lain tetapi mampu membuatnya lebih murah dan lebih banyak.

Alasan ini tentu didukung oleh keunggulan Tiongkok sebagai raksasa ekonomi itu sendiri, yang memang terkenal memiliki kemampuan dalam sektor industri.

Ironisnya, melihat tiga alasan ini, kita bisa menilai bahwa pesatnya perkembangan teknologi Tiongkok sebenarnya adalah karena mereka menerapkan suatu konsep yang membuat AS menjadi negara digdaya militer, yakni military-industrial complex. Ini adalah pandangan atau “-isme” yang melihat hubungan antara militer suatu negara dan perkembangan industrinya perlu dilihat sebagai satu kesatuan.

Presiden ke-34 AS Dwight D. Eisenhower dalam pidato terakhirnya pada 17 Januari 1961 menggunakan istilah ini sebagai harapan perkembangan industri AS di masa depan bisa lebih menggunakan kemampuannya untuk menjaga pertahanan negara karena, di era modern, aspek politik, ekonomi, sosial, hingga spiritual akan berkaitan dengan kemampuan suatu negara untuk menjaga kemerdekaannya.

Dengan -isme yang sama, Tiongkok berhasil bangkit sebagai pesaing AS, tidak hanya dalam aspek ekonomi tetapi juga militer. Ke depannya, melihat perkembangan sekarang, bisa dipastikan tantangan dari Tiongkok akan terus berdatangan.

Ini kemudian membawa kita ke pertanyaan selanjutnya. Mengapa Tiongkok bisa dengan percaya diri meningkatkan kapabilitas militernya? Dan mengapa AS tidak bertindak sama dengan menghambat perkembangannya layaknya ketika Perang Dingin dulu dengan Uni Soviet?

Paman Sam Kecolongan?

Berbeda dengan Uni Soviet, meski AS beberapa kali terlihat mengancam tantangan militer dari Tiongkok, itu semua masih bisa disebut termasuk dalam kategori retorika semata. Faktanya, selama ini Tiongkok memang belum termasuk dalam daftar “negara musuh” dalam Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi (CAATSA).

Baca juga :  HRS, Senjata PDIP Lumpuhkan Anies?

Ada yang melihat hal ini terjadi karena AS memang tidak memandang militer Tiongkok sebagai sebuah ancaman. Namun, sepertinya pendapat itu kurang tepat.

Nahal Toosi dan Lara Seligman dalam tulisan The U.S. Overestimated Russia’s Military might. Is it Underestimating China’s?, di laman Politico menilai bahwa ada dugaan AS justru keliru dalam menakar potensi ancaman militer Tiongkok.

Menurut salah satu sumber pemerintahan Biden yang tidak disebut namanya, saat ini disebutkan bahwa sedang ada pengecekan ulang besar-besaran data intelijen AS. Dan yang jadi salah satu kekhawatiran utama dalam proses pengecekan ulang tersebut adalah permintaan mendesak dari pejabat-pejabat Negeri Paman Sam tentang kapabilitas militer Tiongkok.

Selain karena faktor kemampuan pemerintah Tiongkok dalam menutup-nutupi perkembangan militernya, pengecekan ulang data intelijen ini terjadi akibat beberapa tahun ke belakang fokus spionase AS disebut lebih difokuskan pada eskalasi konflik di Eropa dan Rusia.

Selain itu, berdasarkan hasil investigasinya, Nahal dan Lara juga mengatakan minimnya kepastian intelijen tentang potensi militer Tiongkok juga disebabkan gerakan strategis Xi Jinping dalam memberantas mata-mata asing di dalam pemerintahannya.

Menurut sebuah laporan dari lama New York Times pada tahun 2017 yang berjudul Killing C.I.A Informants, China Crippled US Spying Operations, disebutkan bahwa sejak tahun 2010 pemerintah Tiongkok secara sistematis telah membunuh atau memenjarakan banyak mata-mata Badan Intelijen Pusat (CIA) dan melumpuhkan upaya pengumpulan intelijen AS selama bertahun-tahun mendatang.

Jika hal-hal ini memang benar adanya, maka bisa kita interpretasikan Tiongkok telah menggunakan upaya pengelabuan untuk meningkatkan kekuatannya tanpa diketahui oleh musuh-musuhnya. Ditambah dengan bergerak pasti di balik pandemi Covid-19 dan Perang Ukraina yang telah menarik perhatian dunia, Tiongkok mampu memperkuat posisi geopolitiknya tanpa mendapat persekusi dari AS sebagai polisi dunia.

Filsuf Tiongkok, Sun Tzu dalam Thirty-Six Stratagems, menuliskan satu strategi yang berbunyi: deceive the heavens to cross the sea. Ini dimaknai sebagai upaya seseorang yang ingin mendapatkan keunggulan dari lawan yang lebih unggul dengan semampu mungkin tidak memberikan kesempatan untuk melihat sehingga lawannya itu akan selalu merasa was-was dan tidak tahu bagaimana strategi selanjutnya yang akan dijalankan.

Mungkin saja, Xi Jinping melaksanakan strategi yang satu ini, dan sukses.

Pada akhirnya, meski pantas dikagumi, bangkitnya Tiongkok sebagai raksasa geopolitik di Asia Pasifik juga perlu menjadi kekhawatiran Indonesia. Sebagai salah satu negara tetangga, kita juga perlu mewaspadai dampak kekuatan Tiongkok pada pertahanan dan keamanan negara.

Terlebih lagi, militer konvensional bukan satu-satunya arena pertempuran di masa depan. Masih ada dunia perang asimetris yang juga perlu kita perhatikan. (D74)

More from Cross Border

Pelosi ke Taiwan Hanya Setting-an?

Kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan buat heboh kawasan Indo-Pasifik, khususnya Tiongkok. Mungkinkah ini hanya setting-an?

Perang Ukraina Hancurkan Mimpi Xi Jinping?

Perang Rusia-Ukraina hingga saat ini masih berlangsung. Sebagai negara yang sangat dekat dengan Rusia, publik menyoroti dampaknya pada Tiongkok. Apakah perang ini membawa keuntungan? Atau justru menyakiti Xi Jinping?

Timor Leste, Warisan Politik Jokowi?

Pemerintahan Jokowi memberikan dukungan agar Timor Leste jadi anggota ASEAN. Apakah Timor Leste jadi warisan politik Jokowi?

Tiongkok Harusnya Ikut Perang Ukraina?

Perkembangan teknologi jet tempur Tiongkok belakangan ini terlihat semakin mengesankan. Meski begitu, hampir tidak ada negara yang berminat beli jet tempur mereka. Mengapa demikian?

More Stories

Dari Uni Soviet ke BIN: Budi Gunawan Kunci Kuat PDIP?

https://youtu.be/9hDbho_tq3M Ini mungkin menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan karier Budi Gunawan setelah dilantik menjadi Kepala Badan Intelijen Negara atau BIN di tahun 2016...

Dapat LPDP Tapi Nggak Mau Pulang…

Perdebatan soal banyaknya alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tidak bersedia pulang ke Indonesia setelah lulus muncul di media sosial (medsos),...

GoTo Bisa Pengaruhi 2024?

Perkembangan perusahaan teknologi besar (big tech) semakin mengesankan. Melalui teknologi seperti big data, misalnya, perusahaan seperti GoTo mampu mengetahui preferensi masyarakat Indonesia. Ini tentunya...