Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Mengapa Jokowi-UEA Makin Mesra?

Mengapa Jokowi-UEA Makin Mesra?


H33 - Thursday, April 22, 2021 21:00
Jokowi dan Mohamed bin Zayed (Foto: istimewa)

0 min read

Jika diperhatikan, hubungan Indonesia dan Uni Emirat Arab belakangan tampak semakin akrab. Di atas kertas, ada perkara investasi yang bisa jadi penyebab kunci. Di luar itu, relasi keduanya mungkin bisa dilihat dari sisi lain.


Pinterpolitik.com

Beberapa waktu lalu, publik sempat dihebohkan dengan perubahan nama Jalan Tol Jakarta-Cikampek II menjadi Jalan Layang MBZ Sheikh Mohamed bin Zayed. Bagi beberapa orang, hal tersebut tidak lazim karena nama sosok luar negeri diabadikan sebagai nama jalan di dalam negeri.

Sebenarnya, boleh jadi pemerintah punya argumentasi khusus terkait hal itu. Pemberian nama sang putra mahkota itu adalah penghormatan kepada negara Uni Emirat Arab (UEA). Lebih dari itu, sebelumnya nama Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah lebih dahulu diabadikan sebagai nama jalan di Abu Dhabi, UEA.

Di luar kondisi tersebut, jika diperhatikan, relasi Indonesia dengan UEA tampak kian mesra dalam beberapa waktu terakhir. Ada banyak proyek cukup penting yang melibatkan negara Timur Tengah tersebut.

Di atas kertas, hal tersebut tentu cukup masuk akal. Membangun relasi diplomatik dan ekonomi tentu dapat menjadi hal yang sangat membantu bagi kedua pihak. Terlebih, untuk sisi ekonomi, UEA relatif punya potensi investasi yang bisa dimanfaatkan.

Terlepas dari itu, apakah sebenarnya ada hal lain yang bisa diamati dalam hubungan antara Indonesia dan UEA dalam beberapa waktu terakhir? Mengapa Indonesia di bawah kepemimpinan Jokowi terlihat kian akrab dengan UEA?

Hubungan UEA-Indonesia

Pengabadian nama Putra Mahkota UEA Mohamed bin Zayed (MBZ) bisa jadi adalah fenomena yang cukup menggambarkan relasi mesra Indonesia dan UEA. Sebab, bagi beberapa orang cukup aneh ada nama tokoh asing dijadikan nama jalan strategis di Indonesia.

Di luar itu, sebenarnya ada banyak jejak kedekatan yang bisa ditelusuri dalam hubungan Indonesia dan UEA. Tak berjarak lama dari pengabadian nama MBZ sebagai nama jalan, tersiar kabar kalau UEA akan membangun pabrik vaksin COVID-19 di Indonesia.

Baca Juga: Sri Mulyani dan Bayang-bayang “Makhluk Halus”

Sebelum itu, ada banyak kerja sama yang terjalin antara Indonesia dan UEA. Pada Maret lalu, UEA berkomitmen untuk berinvestasi di Sovereign Wealth Fund (SWF) Indonesia. Nilai komitmennya yaitu 10 miliar dolar AS jadi yang terbesar dibanding negara lain. Masih terkait dengan itu, SWF UEA sendiri ditunjuk sebagai penasihat bagi SWF Indonesia.

Ada pula proyek pembangunan Masjid Raya Grand Sheikh Zayed di Solo. Masjid ini dibangun dengan dana hibah dari UEA senilai 20 juta dolar AS atau setara dengan Rp300 miliar. Masjid berkapasitas 10 ribu orang ini disebut-sebut sebagai monumen persahabatan antara Solo-Indonesia dan UEA.

Dirunut lagi ke belakang, UEA sempat meneken 16 perjanjian kerja sama senilai Rp314 triliun dengan pemerintah Indonesia. Kerja sama ini meliputi sektor-sektor seperti keagamaan, pendidikan, pertanian, kesehatan, riset, dan migas.

Yang paling segar di ingatan mungkin tentu saja soal keterlibatan UEA di proyek ibu kota baru. Negeri kaya minyak itu sempat mengungkapkan komitmen mereka untuk berinvestasi di ibu kota baru.

Tak hanya itu, di proyek tersebut, nama MBZ dijadikan sebagai ketua dewan pengarah pembangunan Ibu Kota Negara (IKN). Sang pangeran dianggap mampu mengembangkan kota Abu Dhabi di negara asalnya.

Dari jejak-jejak tersebut, cukup tergambar bagaimana UEA dan Indonesia terlihat semakin dekat. Meski sebenarnya sudah membangun hubungan sejak 1976, boleh jadi bagi banyak orang hubungannya tak pernah seintens sekarang.

Kemunculan UEA

Di atas kertas, membangun relasi dengan negara seperti UEA apalagi untuk perkara investasi memang tergolong rasional. Negeri petrodollar itu memang bisa dianggap sebagai negara yang punya potensi investasi menjanjikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, UEA bisa dibilang sebagai salah satu negara paling strategis di Timur Tengah. Setelah Arab Spring di tahun 2011, negara tersebut dianggap beberapa orang mulai memegang dominasi di Timur Tengah.

Di bawah kendali MBZ sang putra mahkota, UEA mulai bersolek diri menjadi negara yang diperhitungkan. Negeri tersebut memulai banyak proyek di beragam fokus termasuk pendidikan, sains, teknologi, dan keuangan.

Baca Juga: Risma Perlu “Cubit” Sri Mulyani?

Secara domestik, hal itu membuat UEA perlahan bertransformasi menjadi negara tujuan urbanisasi baik secara regional maupun internasional. Hal ini membuat posisi mereka kian strategi dan dapat menjadi hub alias penghubung bagi sekelilingnya.

Dari segi infrastruktur, UEA memang mengalami pembangunan yang cukup menjanjikan. Dikutip dari Gallup, Infrastruktur seperti jalan dan transportasi publik dinilai memuaskan oleh publik di negara tersebut. Hal serupa tampak berlaku untuk tata kota, di mana masyarakat di sana juga puas tinggal di kawasan perkotaan.

Jika melihat pada sisi keuangan, di mata banyak pengamat UEA juga merupakan salah satu pusat keuangan dunia. Dalam survei yang dilakukan Duff & Phelps, UEA masuk jajaran pusat keuangan dunia bersama New York, London, Singapura, Luksemburg, dan Hong Kong.

Hal itu tentu masih ditambah dengan sokongan kekayaan minyak yang secara alamiah mereka miliki. Kondisi tersebut dapat membuat potensi keuangan dan investasi negara tersebut cukup menjanjikan.

Berdasarkan kondisi tersebut, cukup wajar jika Indonesia membangun hubungan mesra dengan UEA. Kemampuan mereka bertransformasi, membangun infrastruktur, dan berinvestasi bisa menjadi hal berharga untuk geliat pembangunan dalam negeri.

MBZ dan Relasinya dengan AS

Bisa dikatakan kalau kemunculan UEA sebagai kekuatan di Timur Tengah dibidani oleh MBZ. New York Times bahkan menyebutkan bahwa sang putra mahkota adalah orang terkuat di kawasan Arab.

Lalu, bagaimana ia bisa menjadi orang terkuat di kawasan tersebut?

Tentu, hal ini bisa saja terkait dengan berbagai kekuatan internal dari mereka sendiri. Di luar itu, penting pula dilihat dari bagaimana UEA di bawah MBZ yang kerap sebagai pemimpin de facto membangun relasi dengan berbagai kekuatan eksternal.

Selama beberapa waktu terakhir, UEA tergolong cukup rajin membangun dan memperkuat hubungan dengan kekuatan besar baik dengan negara-negara tetangga maupun kekuatan besar lainnya. Salah satu kekuatan besar tersebut adalah Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari New York Times, sejak lama MBZ adalah sosok ally alias sekutu kunci bagi AS. Pengaruhnya kemudian disebut-sebut semakin kuat tatkala Negeri Paman Sam tersebut dipimpin oleh Donald Trump.

Baca Juga: Siapa Pembimbing Sri Mulyani?

Beberapa diplomat yang dikutip dalam artikel tersebut menyebut kalau AS menganggap sang pangeran adalah teman baik di kawasan. Ia dianggap sebagai sosok yang bisa diandalkan untuk meredam pengaruh Iran.

Nah, merujuk pada kondisi tersebut, selain perkara keahlian dalam membangun infrastruktur dan kemampuan investasi, boleh jadi ada hal lain yang membuat Indonesia di bawah Jokowi kian mesra dengan UEA di bawah MBZ.

Selama beberapa waktu terakhir, Indonesia cenderung dianggap membangun hubungan dekat dengan Tiongkok. Hal ini terutama berlaku untuk urusan pembangunan infrastruktur.

Dengan adanya kemesraan baru dengan UEA, Indonesia bisa saja menurunkan kesan bahwa mereka terlalu berkiblat kepada Beijing. Bisa saja ada kesan bahwa UEA muncul sebagai sosok lain yang juga intens berhubungan dengan Indonesia.

Di luar itu, terkait dengan relasi UEA-MBZ dan AS, hubungan mesra Indonesia dan UEA juga bisa menjadi gambaran kalau Indonesia juga masih berupaya menjaga relasi dengan AS. Hal ini terutama jika dikaitkan dengan persaingan AS dan Tiongkok sebagai kekuatan utama dunia.

Merujuk pada kondisi tersebut, melalui kemesraan dengan UEA, Jokowi bisa saja tengah membangun semacam balance of power atau keseimbangan kekuatan.

Salah satu pendapat terkait teori tersebut diungkapkan misalnya oleh Kenneth Waltz. Ia menyebutkan kalau negara bisa melakukan penyeimbangan eksternal dengan membangun relasi untuk menjaga keamanan diri mereka.

Dengan keseimbangan tersebut, Indonesia bisa saja menyelamatkan diri dari ancaman ketika dua kekuatan dunia berkonflik. Karena tak condong pada satu pihak, bisa saja Indonesia tak harus mengalami kerugian akibat kebijakan salah satu pihak yang berkonflik. Tak hanya itu, Indonesia juga bisa mengambil manfaat ekonomi dari keduanya dengan langkah seperti ini.

Pada akhirnya, perlu dilihat lebih jauh akan berlanjut seperti apa relasi antara Jakarta dan Abu Dhabi. Yang jelas, dengan berbagai kondisi itu, jangan kaget kalau kedua negara ini akan semakin mesra. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait