Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Membaca Tiongkok di Afghanistan

Membaca Tiongkok di Afghanistan


A72 - Saturday, August 21, 2021 18:35
Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi (kanan) bersama dengan kepala politik Taliban Afghanistan Mullah Abdul Ghani Baradar (kiri) (Foto: Al Jazeera)

0 min read

Beberapa hari sebelum keberhasilan kelompok Taliban merebut Afghanistan, dunia dikejutkan dengan adanya pertemuan penting antara Kementerian Luar Negeri Tiongkok dengan delegasi Taliban. Spekulasi bermunculan, berbagai pihak pun mempertanyakan apakah kemenangan ini akan berpengaruh kepada posisi Tiongkok di sana?


PinterPolitik.com

Juru Bicara Taliban mengatakan, ada sembilan perwakilan Taliban yang bertemu langsung dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Tiongkok Wang Yi di Kota Tianjin selama dua hari. Mereka membahas proses perdamaian dan masalah keamanan.

Dilaporkan Reuters, Tiongkok dalam pertemuan tersebut mengatakan bahwa mereka berharap Taliban dapat memainkan peran penting dalam mengakhiri perang Afghanistan dan membangun kembali negara itu dari kekacauan.

Di kesempatan yang sama, Wang Yi sekaligus menyerang Amerika Serikat (AS) dengan menyebut penarikan pasukan AS dan NATO dari Afghanistan menunjukkan kegagalan kebijakan AS terhadap Afghanistan.

Dari sisi Taliban, pertemuan dengan Tiongkok sebagai salah satu poros kekuatan dunia ini sangat strategis, sekaligus menunjukkan bahwa kelompok militan ini mulai diakui di panggung internasional sebagai salah satu kekuatan politik.

Menanggapi pertemuan tersebut Menlu AS Anthony Blinken mengeluarkan pernyataan klise yang menganggap keterlibatan Tiongkok di Afghanistan merupakan suatu “hal positif” jika hanya bertujuan untuk melakukan resolusi perdamaian terhadap konflik yang terjadi.

Menarik di sini untuk menganalisis sejauh mana keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan akan berdampak pada posisi regional dan global Tiongkok. Kemudian yang terpenting apa motif dari keterlibatan Beijing dalam isu ini?

Faktor Ekonomi?

Hanya berselang beberapa jam setelah kelompok Taliban berhasil menguasai Afghanistan, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying menyatakan bahwa Beijing siap untuk meningkatkan intensitas kerja sama persahabatan dengan Afghanistan.

Pernyataan Hua tersebut disambut baik oleh Taliban, dalam satu kesempatan mereka secara terbuka menantikan partisipasi Tiongkok dalam rekonstruksi dan pembangunan Afghanistan.

Pernyataan ini mungkin melegitimasi dugaan beberapa analis bahwa motif keterlibatan Beijing di Tiongkok bukanlah sekadar untuk melakukan resolusi perdamaian terhadap konflik yang terjadi.

Baca Juga: Ada Tiongkok di Drama Myanmar?

Pengamat isu internasional dan timur tengah Pizzaro Gozali Idrus memaparkan, faktor utama kepentingan Tiongkok untuk terlibat dalam upaya resolusi konflik ini adalah faktor ekonomi.

Lebih lanjut Pizaro menambahkan, memang saat ini Tiongkok telah menjadi salah satu investor terbesar di Afghanistan, namun keberadaannya masih di bawah bayang-bayang India yang mendapat back-up langsung dari AS.

Oleh karena itu, momentum kondisi politik ini dirasa tepat oleh Tiongkok untuk “mengunci” India yang sedang dalam posisi tak menentu setelah kepergian AS dari Afghanistan dan panas dingin hubungan yang terjadi dengan Taliban.

Seperti yang diketahui, Afghanistan masih memiliki cadangan sumber daya alam terbesar di dunia yang belum dieksploitasi seperti tembaga, batu bara, kobalt, merkuri, emas, dan lithium, senilai lebih dari US$ 1 triliun.

Selain itu Tiongkok saat ini diketahui sedang melaksanakan proyek besar Belt and Road Initiative (BRI), salah satunya Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan (CPEC) di kawasan ini. Afghanistan dianggap sangat strategis bagi Tiongkok untuk mengembangkan proyek ini untuk memperluas jalur ekonomi sekaligus memperbesar pengaruh di kawasan.  

BRI sendiri secara umum adalah rencana investasi infrastruktur yang sangat besar untuk membangun jalur kereta api, jalan raya, laut, dan lainnya yang membentang dari Tiongkok hingga Asia Tengah, Afrika, dan Eropa. Dengan kondisi saat ini, Beijing disebut melihat peluang untuk melibatkan Afghanistan, yang selama ini terganjal oleh keberadaan India dan AS.

Lalu benarkah ekonomi menjadi faktor utama?

Stabilitas Adalah Kunci

Artikel yang diterbitkan Brookings yang berjudul How will China seek to profit from the Taliban’s takeover in Afghanistan memaparkan bahwa memang benar ada tujuan ekonomi dari keterlibatan Tiongkok dalam isu ini, namun untuk saat ini kepentingan utama Beijing didominasi oleh masalah keamanan dan geopolitik.

Para pemimpin Beijing khawatir tentang ancaman ketidakstabilan dari apa yang terjadi di Afghanistan saat ini dapat melebar ke Tiongkok. Seperti yang diketahui, Tiongkok dan Afghanistan mempunyai batasan wilayah langsung yang membentang sepanjang 76 KM.

Di antaranya, Beijing khawatir kemenangan Taliban ini dapat menginspirasi kelompok Islam ekstremis yang berada di beberapa provinsi di Tiongkok. Beberapa kelompok tersebut memang disinyalir mempunyai hubungan khusus dengan Afghanistan.

Bahkan Menlu Wang Yi sendiri secara terang-terangan mengatakan bahwa Beijing berharap Taliban akan menindak Gerakan Islam Turkestan Timur karena itu dianggap menjadi ancaman langsung terhadap keamanan nasional Tiongkok.

Gerakan Islam Turkestan Timur atau East Turkestan Islamic Movement (ETM) sendiri merupakan organisasi separatis yang dibentuk oleh para militan Uighur. Gerakan ini sangat aktif di wilayah Xinjiang di barat laut Tiongkok.

Pada dasarnya dalam kasus ini prioritas utama Beijing adalah stabilitas kawasan. Oleh karena itu, strategi Beijing saat ini diprediksi akan mengakui Taliban, namun di sisi lain juga mendorong Taliban agar memperhatikan masalah keamanan Tiongkok.

Sebab ketidakstabilan lebih lanjut di Afghanistan akan berdampak pada kedaulatan dalam negeri Tiongkok, selain itu juga terhadap stabilitas kawasan.

Baca Juga: Jokowi, Tiongkok, dan Bayangan Nazi

Jika stabilitas kawasan ini terganggu, jelas akan mengganggu koridor ekonomi Tiongkok yang sedang dibangun di kawasan. Dengan Pakistan, misalnya, dalam beberapa tahun terakhir Tiongkok sendiri merupakan investor terbesar di sana, jika ketegangan terus berlanjut, dikhawatirkan berpotensi akan mengganggu proyek besar tersebut.

Dari beberapa analisis di atas menunjukkan bahwa dalam kasus ini perspektif keamanan dan stabilitas kawasan menjadi lebih relevan dibanding faktor ekonomi.

Belajar dari AS

Dalam artikel yang diterbitkan The Economist berjudul China is happy to see America humbled in Afghanistan memaparkan kondisi Afghanistan saat ini adalah kesempatan Tiongkok untuk memajukan model hubungan luar negeri yang didasarkan pada kepentingan keamanan dan ekonomi yang ditimbang dengan dingin.

Beberapa pejabat penting di Beijing memaparkan mereka tidak memiliki ambisi untuk menjalankan atau mengubah Afghanistan menjadi model bentuk pemerintahan mereka sendiri atau bahkan akan menjadikannya panggung perang baru dengan AS.

Zhu Yongbiao, direktur Pusat Studi Afghanistan di Universitas Lanzhou, menyebut Beijing telah belajar dari kasus keberadaan AS di Afghanistan sebelumnya.

Dalam kasus ini Tiongkok mendapatkan pelajaran dari AS bahwa model asing tidak dapat “secara sewenang-wenang” diterapkan ke negara dengan sejarah dan budaya yang sangat berbeda.

Zhu menambahkan saat ini Beijing menganggap stabilitas dan kepercayaan adalah kunci keberhasilan dari berbagai tujuan diplomatik. Mereka diprediksi lebih bersabar dan berhati-hati dalam meningkatkan keterlibatannya dalam isu ini.

Sebagian besar studi yang meneliti tentang pengaruh Tiongkok dan AS di Afghanistan yang dewasa ini kian intens mendasarkan pada teori ortodoks dalam studi Hubungan Internasional seperti teori realisme.

Teori realisme sendiri memandang bahwa hubungan antar bangsa dipandang sebagai konflik yang tak terhindarkan. Negara harus mencari kekuasaan dominan dalam pentas global agar dapat bertahan.

Hasil riset lebih sering menafsirkan langkah Tiongkok dalam kasus ini sebagai sebuah upaya untuk menjadi sebuah negara adidaya dunia. Padahal konteks yang ada tidak sesederhana itu.

Menariknya Tiongkok dalam isu ini menyadari mendukung Taliban secara berlebihan atau memaksakan dominasinya di sana akan membawa risiko. Dilaporkan Reuters, Beijing sendiri tampak masih ragu-ragu apakah Taliban akan menepati janjinya untuk memutuskan hubungan dengan kelompok teroris.

Beijing, diyakini akan lebih berhati-hati dan tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan AS di Afghanistan.

Baca Juga: Perang Dunia III, Biden Lawan Tiongkok-Rusia?

Secara realistis setidaknya sampai saat ini, mereka tidak akan memaksa Afghanistan untuk mengubah dan mengikuti model pemerintahan seperti yang Beijing inginkan atau bahkan menjadikannya sebagai arena pertempuran baru dengan AS.

Pada akhirnya menarik untuk melihat kiprah lanjutan Tiongkok di Afghanistan. (A72)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait