Site icon PinterPolitik.com

Kosmologi Geopolitik: Draco vs Shenlong

file 00000000ed00820b927b70c4a616748f

Dengarkan artikel berikut

https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/generated-audio-july-26-2026-4_52pm.wav

Audio ini dibuat dengan teknologi AI.

Filosofi dua naga tampak mengatur cara Kekuatan Barat dan Kekuatan Timur membaca dunia — dan Indonesia, suka atau tidak, harus memilih ke mana ia berdiri di antara keduanya.


PinterPolitik.com

Coba tanyakan pada anak kecil di Eropa dan anak kecil di Tiongkok apa yang harus dilakukan pada naga. Jawabannya akan bertolak belakang. Yang satu akan bilang: bunuh dia, seperti St. George menombak naga demi menyelamatkan kerajaan. Yang lain akan bilang: hormati dia, karena kaisar sendiri disebut “putra naga.”

Perbedaan ini terlihat sepele, seperti obrolan kelas sastra tentang dongeng lama yang lucu untuk dibahas sambil lalu. Tapi coba tengok lebih dekat cara dua kekuatan besar dunia bicara tentang stabilitas hari ini: satu tradisi kebijakan luar negeri terbiasa membingkai persoalan lewat kosakata “ancaman” yang harus dijinakkan, tradisi lain terbiasa membingkai lewat kosakata “harmoni” yang harus dijaga. Dua kosakata ini bukan kebetulan linguistik semata.

Draco, dalam pengertian luas mitologi Yunani-Romawi dan Nordik, adalah kekacauan purba yang harus ditaklukkan agar tatanan bisa lahir. Shenlong (神龍), naga suci dalam kosmologi Tiongkok, justru penjaga tatanan itu sendiri — dipeluk erat oleh kekuasaan, bukan dibasmi olehnya. Dua cetak biru bawah sadar inilah yang, jauh setelah orang berhenti percaya pada naga secara harfiah, masih diam-diam menjalankan cara berpikir para perumus strategi di dua belahan dunia. Dan di tengah dua kosmologi yang sedang berebut pengaruh di kawasan kita sendiri itu, Indonesia berdiri — sering kali tanpa sadar sudah memilih pihak lewat kosakata yang dipakainya sehari-hari.

Dari Mitologi Menjadi Strategi

Titik pentingnya bukan sekadar generalisasi murah “Barat galak, Timur ramah” — generalisasi semacam itu terlalu murah untuk dijadikan alat analisis serius. Tradisi Celtic-Wales, misalnya, punya Y Ddraig Goch, naga merah yang justru jadi lambang kebanggaan bangsa dan kini menghiasi bendera Wales, bukan monster yang harus dibunuh. Titik pentingnya: setiap peradaban mewariskan pola dasar bawah sadar tentang bagaimana kekuasaan seharusnya diraih, dan pola itu terus terpakai jauh setelah orang berhenti percaya pada naga secara harfiah.

Henry Kissinger, dalam bukunya *On China*, menawarkan cara membaca pola itu lewat dua permainan strategi yang filosofinya nyaris berlawanan: catur dan weiqi (dikenal juga sebagai Go). Dalam catur, pemain saling menyerang di pusat papan sampai salah satu raja jatuh — logika *total victory* yang persis sama dengan logika ksatria-membunuh-naga: ada satu momen final yang menentukan siapa berkuasa dan siapa kalah. Dalam weiqi, dua pemain justru mulai dari papan kosong dan perlahan saling mengepung wilayah, tanpa pernah benar-benar “membunuh” lawan sampai habis — kemenangan dimaknai sebagai keunggulan posisi relatif, bukan penghancuran total. Ini persis logika Shenlong: kekuasaan bukan soal siapa membunuh siapa, tapi siapa yang paling luas mengepung ruang pengaruh.

Kerangka Max Weber tentang legitimasi kekuasaan — tradisional, karismatik, dan legal-rasional — bisa dipertajam lagi kalau dua mitos naga ini dipakai sebagai lensa tambahan. Dalam pola Draco-Fafnir, kekuasaan diperlakukan sebagai barang terbatas yang berpindah tangan lewat kemenangan fisik. Ini mengendap jadi kebiasaan politik nyata di Eropa: gelar bangsawan yang eksplisit merujuk pada penaklukan, sampai ke logika containment era Perang Dingin yang menganggap kekuasaan dunia sebagai kue terbatas yang harus direbut sebelum direbut pihak lain. Dalam pola Shenlong, sebaliknya, kekuasaan bukan direbut dari pihak lain, melainkan dianugerahkan selama harmoni terjaga — dan dicabut bukan karena kalah perang, tapi karena disharmoni internal. Retorika resmi Tiongkok modern soal “kebangkitan damai” adalah gaung langsung dari logika ini.

Kalau logika Draco menuntut ada naga yang harus ditaklukkan sebelum kekuasaan dianggap sah, konsekuensi strukturalnya jelas: sistem itu butuh pasokan naga yang tidak pernah putus. Sejumlah pengamat kebijakan luar negeri pernah menyebut fenomena ini sebagai *enemy-deprivation syndrome* — kecenderungan mencari musuh pengganti begitu satu ancaman besar hilang dari peta, seperti yang terjadi begitu Uni Soviet runtuh pada 1991. John Mearsheimer, lewat kerangka *offensive realism*, memberi penjelasan struktural kenapa pola semacam ini bisa berulang lintas era: dalam sistem internasional yang anarkis, tanpa otoritas tunggal yang mengatur semua negara, kekuatan besar tidak pernah benar-benar merasa aman, sehingga cenderung memaksimalkan pangsa kekuasaan sekaligus mencegah kekuatan besar lain melakukan hal serupa. Ini bukan soal niat baik atau buruk satu pihak, melainkan tekanan struktur sistem itu sendiri.

Penting dicatat, pembacaan ini bukan konsensus tunggal. Sejumlah akademisi dan mantan pejabat pernah menandatangani surat terbuka berjudul “China is Not an Enemy,” yang menilai pendekatan konfrontatif semacam ini kontraproduktif. Kishore Mahbubani, diplomat senior Singapura yang buku-bukunya banyak dibaca kalangan pembuat kebijakan, mengajukan pengamatan sejalan: Politbiro Tiongkok, menurutnya, bertindak lebih dekat dengan cita-cita “raja-filsuf” klasik ketimbang rezim ideologis irasional. Tapi kerangka Shenlong yang sama juga harus dipakai membaca sisi gelapnya secara jujur — klaim *nine-dash line* di Laut China Selatan dan diplomasi “Wolf Warrior” menunjukkan naga penjaga harmoni ini pun bisa memakai cakarnya kapan perlu. Perdebatan ini sendiri adalah bukti bahwa framing “naga yang harus ditaklukkan” atau “naga penjaga harmoni” bukan fakta objektif, melainkan pilihan kerangka berpikir yang punya konsekuensi anggaran, aliansi, dan risiko konflik yang nyata.

Refleksi di Antara Dua Naga

Di titik inilah kerangka naga menjadi sangat relevan bagi Indonesia, bukan sekadar bahan diskusi akademis. Secara kultural, Indonesia jauh lebih dekat ke kosmologi Timur soal naga — sebagai entitas yang dihormati dan dinegosiasikan, bukan monster yang harus dibasmi begitu saja. Tapi secara geopolitik konkret, Indonesia juga tidak nyaman sepenuhnya dengan versi Shenlong ala Beijing, karena klaim historis Tiongkok di Laut Natuna Utara bersinggungan langsung dengan kedaulatan kita sendiri.

Ini menempatkan Indonesia pada posisi yang unik: tidak ikut logika “naga harus ditaklukkan,” tapi juga tidak menelan mentah-mentah logika “naga sebagai penjaga tatanan yang sah.” Sikap ini bisa disebut *dragon-agnostic* — memanfaatkan kedua kerangka kosmologi untuk kepentingan sendiri tanpa terikat penuh oleh salah satunya, sejalan dengan dorongan Mahbubani agar kekuatan menengah Asia Tenggara tidak latah ikut permusuhan yang bukan permusuhan sendiri, dan tidak pula naif menelan retorika harmoni siapa pun tanpa verifikasi.

Tapi sikap *dragon-agnostic* bukan sekadar taktik diplomasi bebas-aktif yang sudah kita hafal sejak bangku sekolah. Ia menuntut sesuatu yang lebih berat secara filosofis: kesediaan untuk hidup tanpa mitos tunggal tentang dari mana kekuasaan yang sah berasal. Baik tradisi Draco maupun tradisi Shenlong, pada akhirnya, sama-sama membutuhkan cerita — cerita tentang naga yang harus dikalahkan, atau cerita tentang naga yang harus dipeluk — untuk membuat kekuasaan terasa alami, hampir-hampir kodrati. Bangsa yang menolak menelan mentah-mentah dua cerita itu sekaligus harus berani menanggung ketidaknyamanan tidak punya narasi kosmik instan yang siap pakai untuk membenarkan posisinya.

Justru di situlah letak peluangnya. Indonesia punya tradisi simbolis sendiri soal kekuasaan — dari relief naga di candi-candi kuno hingga falsafah kepemimpinan Jawa dan Nusantara — yang tidak pernah sepenuhnya patuh pada logika menaklukkan atau logika dianugerahi begitu saja. 

Alih-alih meminjam mentah-mentah kerangka Barat atau Tiongkok, tugas sesungguhnya adalah menulis ulang mitologi kekuasaan versi sendiri: satu yang tidak butuh naga untuk dibunuh, tidak butuh naga untuk disembah, melainkan naga untuk diajak duduk semeja sebagai mitra setara. Sebab pada akhirnya, kekuatan menengah yang paling lincah bukanlah yang paling kuat di antara dua naga besar, melainkan yang paling jernih memahami bahwa kedua naga itu, seperti semua mitos kekuasaan, hanyalah cerita yang dipilih manusia untuk membuat dominasinya sendiri terasa wajar — dan cerita, betapa pun tua dan sakralnya, selalu bisa ditulis ulang oleh mereka yang berani. (D74)

Exit mobile version