Dengarkan artikel ini:
Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu?
“Why do we need to know about the human mind? Because things are designed to be used by people, and without a deep understanding of people, the designs are apt to be faulty, difficult to use, difficult to understand.” – Donald A. Norman, The Design of Everyday Things (1988)
Cupin sebenarnya hanya ingin membeli minyak goreng. Pagi itu ia melangkah ke koperasi dekat rumah, dan papan namanya berbunyi Koperasi Desa Merah Putih.
Ia tertegun sebentar, lalu tersenyum kecil. Bukan karena harga, melainkan karena nama itu terasa akrab di telinganya belakangan ini.
Di kepala Cupin, frasa “Merah Putih” mulai berdenyut seperti lagu yang sulit dilupakan. Kabinet tempat para menteri bekerja pun bernama Kabinet Merah Putih.
Ketika ia menyalakan televisi sore harinya, layar menayangkan kabar tentang Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang jumlahnya sudah melampaui delapan puluh ribu unit. Cupin manggut-manggut, mencatat dalam hati bahwa angka itu bukan angka yang kecil.
Tidak berhenti di situ, Cupin lalu membaca berita tentang Sekolah Garuda yang lambangnya berwarna merah dan putih. Ia membayangkan anak-anak berseragam, berdiri di bawah panji yang warnanya sama dengan bendera di tiang halaman.
Belum reda rasa penasarannya, muncul kabar lain tentang CNG Merah Putih, bahan bakar gas yang disiapkan sebagai alternatif bagi LPG. Cupin menyadari satu hal sederhana, bahwa warna bangsanya kini melekat pada hampir semua hal yang ia sentuh sehari-hari.
Ke kiri ia melihat koperasi, ke kanan ia melihat sekolah dan energi, semuanya berbalut merah putih. Bagi Cupin, ini bukan lagi kebetulan, melainkan sebuah pola yang dirancang dengan rapi.
Cupin lalu mencoba menghitung dalam hati berapa banyak hal di sekitarnya yang menyandang nama itu. Semakin ia menghitung, semakin ia sadar bahwa daftarnya jauh lebih panjang daripada yang ia kira.
Ia membayangkan seorang warga desa yang menyebut nama koperasi itu setiap hari tanpa pernah merasa sedang berbicara tentang bangsa. Bagi Cupin, di sanalah letak yang menarik, yaitu ketika nama besar menyusup ke dalam percakapan paling sederhana.
Namun, di sela kekagumannya, dua pertanyaan menggantung di benak Cupin. Mengapa sebuah pemerintahan begitu konsisten menyematkan nama bangsa pada program-programnya, dan apakah konsistensi semacam itu memang punya makna yang lebih dalam daripada sekadar penamaan?
Kiri, Kanan, Makna yang Dirancang
Cupin teringat bahwa nama dan tampilan tidak pernah benar-benar netral. Dalam dunia desain, setiap pilihan visual selalu membawa pesan, entah disadari atau tidak.
Ia teringat gagasan Donald Norman dalam buku The Design of Everyday Things, yang menegaskan bahwa benda-benda di sekitar kita dirancang untuk memandu perilaku. Bagi Cupin, sebuah nama yang konsisten bekerja seperti gagang pintu yang memberi tahu tangan ke mana harus mendorong.
Pikiran Cupin lalu melompat pada konsep tentang bagaimana merek membangun kesetiaan. Ia ingat tulisan Marty Neumeier dalam buku The Brand Gap, yang menyatakan bahwa merek yang kuat lahir dari konsistensi, bukan dari kampanye yang sesaat.
Dari sudut pandang itu, Cupin memahami bahwa penamaan Merah Putih bukanlah sekadar label. Ketika program yang berbeda-beda berbagi satu penanda yang sama, publik membacanya sebagai satu kesatuan yang koheren.
Cupin lalu mengingat pemikiran Simon Anholt, penggagas gagasan tentang nation brand, yang berargumen bahwa reputasi sebuah negara dikelola layaknya sebuah merek besar. Ia menulis dalam jurnal “Place Branding and Public Diplomacy” bahwa citra bangsa dibentuk lewat pengalaman yang berulang, bukan lewat slogan semata.
Cupin menyadari bahwa fenomena ini bukan milik Indonesia seorang. Di Amerika Serikat, label Made in America telah lama menjadi penanda yang membangkitkan rasa memiliki di benak konsumen.
Ia juga teringat Korea Selatan, yang membungkus produk budaya dan teknologinya dalam semangat nasional yang terasa di hampir setiap ekspor mereka. Bagi Cupin, ini menunjukkan bahwa banyak negara sengaja menautkan identitas bangsa pada hal-hal yang dipakai warganya setiap hari.
Bahkan, Cupin membayangkan Jepang dengan estetika nasional yang melekat pada produk dan ruang publiknya. Konsistensi semacam itu, pikir Cupin, membuat warga terus-menerus diingatkan tentang siapa mereka tanpa harus diberi tahu secara langsung.
Cupin mulai menangkap benang merahnya, bahwa desain dan penamaan adalah cara halus untuk membentuk persepsi. Yang dirancang bukan sekadar barang atau program, melainkan juga rasa kebersamaan yang menyertainya.
Sampai di titik ini, dua pertanyaan baru muncul di kepala Cupin. Apakah ada nama ilmiah untuk gejala ketika simbol kebangsaan disematkan pada hal-hal rutin, dan apakah negara-negara besar lain melakukannya dengan cara yang sama atau berbeda?
Kiri, Kanan, Bendera yang Berbisik
Cupin akhirnya menemukan istilah yang ia cari, yaitu banal nationalism. Konsep ini diperkenalkan oleh Michael Billig dalam buku Banal Nationalism yang terbit pada tahun 1995.
Billig berargumen bahwa nasionalisme yang paling kuat justru yang paling tidak terlihat. Ia hadir setiap hari, lewat bendera yang menggantung lemas di depan gedung dan kata “kita” yang terselip di halaman koran.
Cupin memahami bahwa nasionalisme tidak selalu berwujud upacara megah atau pidato yang menggebu. Justru karena ia banal dan berulang, simbol kebangsaan bekerja di bawah kesadaran dan terus mengingatkan warga akan bangsanya.
Cupin lalu teringat Inggris, tempat Union Jack tersebar di mana-mana. Bendera itu hadir pada cangkir, kaus, tas belanja, hingga sampul album musik, sehingga rasa kebangsaan terjaga lewat benda sehari-hari.
Di Amerika Serikat, Cupin membayangkan bendera bintang dan garis yang berkibar di halaman rumah, di seragam olahraga, hingga di kemasan produk. Bahkan, pemerintah di sana mengatur agar bendera resmi diproduksi di dalam negeri, sehingga simbol itu sekaligus menjadi pernyataan tentang asal-usul.
Cupin juga teringat Prancis, dengan semboyan kebangsaan yang terpampang di gedung-gedung publiknya. Semua contoh ini menegaskan tesis Billig, bahwa bangsa dipelihara lewat pengulangan yang nyaris tak terasa.
Dari kerangka itu, Cupin membaca ulang program-program Merah Putih di sekelilingnya. Ia melihat bahwa pemerintahan Prabowo tampak memahami prinsip ini dengan baik, yaitu menempatkan simbol bangsa pada titik-titik yang paling sering disentuh rakyat.
Koperasi tempat warga berbelanja, sekolah tempat anak-anak belajar, dan energi yang menyalakan dapur, semuanya menjadi ruang pertemuan antara warga dan bangsanya. Bagi Cupin, ini adalah cara mengubah rutinitas menjadi pengingat yang lembut tentang identitas bersama.
Cupin pun teringat gagasan Benedict Anderson dalam buku Imagined Communities, yang menyatakan bahwa bangsa pada dasarnya adalah komunitas yang dibayangkan. Jika Anderson menjelaskan bagaimana bangsa dibayangkan, maka Billig melengkapinya dengan menjelaskan bagaimana bangsa itu dipelihara setiap hari.
Cupin merenung bahwa pengulangan punya kekuatan yang sering diremehkan. Sesuatu yang dilihat sekali mungkin terlupakan, tetapi sesuatu yang dilihat setiap hari perlahan menjadi bagian dari cara seseorang memandang dunia.
Ia juga menyadari bahwa nama bangsa yang melekat pada sebuah layanan membawa tanggung jawab tersendiri. Ketika warga membaca kualitas layanan itu sebagai cerminan bangsanya, maka konsistensi simbol sekaligus menjadi dorongan untuk menjaga mutu.
Pada akhirnya, Cupin menutup renungannya dengan satu kesimpulan yang tenang. Sebuah bangsa rupanya tidak hanya hidup di tiang bendera dan hari peringatan, tetapi juga di nama-nama yang diucapkan warganya setiap pagi, dan barangkali di situlah letak ketahanannya yang sesungguhnya. (A43)
