Dengarkan artikel ini:
Khofifah pimpin Jatim nyaris tanpa sorotan, beda jauh dari gubernur Jawa lain yang ramai. Sengaja merunduk atau memang melemah?
“The political salience of an issue refers to its importance to the average voter, relative to other political issues.” – Pepper D. Culpepper, Quiet Politics and Business Power (2012)
Cupin sedang menggulir layar ponselnya ketika ia tersadar akan sebuah keganjilan kecil. Linimasanya penuh dengan Dedi Mulyadi yang sedang menegur pelajar di tepi jalan, lengkap dengan jutaan penonton yang ikut berkomentar.
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali melihat Gubernur Jawa Timur muncul di berandanya. Anehnya, tidak ada satu pun yang bisa ia ingat dengan pasti.
Padahal, pikir Cupin, Jawa Timur bukan provinsi kecil yang mudah dilupakan. Provinsi itu menampung hampir seperenam penduduk Indonesia dan menjadi penyumbang ekonomi terbesar kedua di Pulau Jawa.
Cupin lalu membandingkan dalam kepalanya. Dedi Mulyadi punya kanal YouTube dengan jutaan subscriber yang konon melampaui kanal milik Presiden.
Pramono Anung di Jakarta rajin berbicara soal “komunikasi dengan hati” hingga menjadi bahan kajian. Bahkan Ahmad Luthfi di Jawa Tengah, yang kerap dikritik kurang tampil, masih lebih sering mampir ke layar Cupin ketimbang Khofifah Indar Parawansa.
Semakin dipikir, semakin Cupin merasa ada yang menarik. Khofifah seolah memimpin dengan suara yang nyaris tak terdengar, sementara rekan-rekannya berlomba menjadi tontonan.
Yang membuat Cupin penasaran, kesenyapan ini bukan berarti tanpa hasil. Angka kemiskinan ekstrem Jawa Timur turun drastis dari sekitar 4,4 persen pada 2020 menjadi hanya 0,66 persen pada awal 2024.
Indeks Pembangunan Manusia provinsi itu pun naik melampaui rata-rata nasional. Ada banyak yang dikerjakan, tetapi sedikit sekali yang diceritakan.
Cupin teringat pada sebuah hidangan khas Madura bernama bebek songkem. Bebek itu dimasak dengan kepala ditekuk menunduk seperti orang bersungkem, lalu dikukus pelan berjam-jam dalam bungkus daun pisang.
Mungkinkah Khofifah sedang memerintah dengan resep yang sama, menunduk dan dikukus pelan tanpa gemericik minyak yang berisik? Dua pertanyaan menggantung di benak Cupin: apakah kesenyapan ini tanda Khofifah sedang melemah di periode keduanya, atau justru sebuah pilihan yang ia ambil dengan sengaja?
Menuju ‘Bebek Lumpuh’?
Cupin mulai menelusuri kemungkinan pertama, bahwa Khofifah sedang menjadi apa yang dalam ilmu politik disebut lame duck. Istilah itu merujuk pada pejabat yang kekuasaannya meredup karena tak lagi bisa maju pada periode berikutnya.
Khofifah kini berada di periode keduanya sebagai gubernur, yang berdasarkan aturan adalah periode terakhirnya. Secara teori, pejabat di posisi ini sering kehilangan daya tawar karena para pendukung mulai berpaling pada calon penerus.
Konsep lame duck ini dibahas dengan baik oleh ilmuwan politik. Dalam jurnal “The Lame Duck Phenomenon” yang membahas dinamika kekuasaan eksekutif, periode akhir sering digambarkan sebagai masa ketika pengaruh politik menyusut perlahan.
Cupin teringat contoh klasik di Amerika Serikat. Seorang presiden di periode kedua, seperti yang dianalisis dalam banyak literatur kepresidenan, kerap kesulitan meloloskan agenda karena Kongres tahu kekuasaannya akan segera berakhir.
Ilmuwan politik Richard Neustadt dalam bukunya Presidential Power and the Modern Presidents pernah menegaskan bahwa kekuasaan sejati seorang pemimpin terletak pada kemampuannya membujuk, bukan sekadar memerintah. Ketika periode akhir tiba, daya bujuk itulah yang pertama kali memudar.
Cupin lantas membandingkan perjalanan karier Khofifah sendiri. Pada era sebagai Menteri Sosial di bawah pemerintahan sebelumnya, namanya kerap muncul di pemberitaan nasional karena program bantuan sosial berskala besar.
Posisi menteri memang menempatkan seseorang di panggung nasional yang sorotannya jauh lebih terang. Sebagai gubernur, terutama di periode kedua, panggung itu menyempit menjadi urusan daerah yang kurang menarik bagi media nasional.
Namun Cupin menemukan keganjilan dalam teori lame duck ini. Jika benar Khofifah sedang lumpuh, mengapa kinerja Jawa Timur justru tetap kuat?
Provinsi itu mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Pulau Jawa pada awal 2026. Rencana pembangunan jangka menengahnya pun disahkan tepat waktu, sebuah tanda mesin birokrasi yang masih berjalan rapi.
Cupin juga mencatat sederet terobosan yang tetap lahir. Ada layanan transportasi Trans Jatim yang meraih penghargaan inovasi, ada program magang vokasi ke luar negeri, dan ada ajang inovasi pendidikan tahunan.
Menariknya, justru program yang paling butuh sorotan publik yang paling sering dikritik. Program bursa kerja kaum muda, misalnya, sempat disebut dewan sebagai “keren di nama” namun lemah di eksekusi.
Pola ini membuat Cupin berpikir ulang. Khofifah tampak kuat justru pada hal-hal yang dikerjakan dalam senyap, dan tampak lemah pada hal-hal yang menuntut panggung.
Dua pertanyaan baru muncul di kepala Cupin: apakah kesenyapan ini benar-benar tanda kelumpuhan, atau jangan-jangan sebuah pilihan yang menguntungkan? Dan jika menguntungkan, keuntungan macam apa yang ia kejar dengan merunduk?
Bukan ‘Bebek Lumpuh’, Tapi ‘Bebek Songkem’?
Cupin lalu menemukan sebuah konsep yang membalik seluruh asumsinya. Ilmuwan politik dari Universitas Oxford, Pepper Culpepper, dalam bukunya Quiet Politics and Business Power mengajukan gagasan bahwa kekuasaan paling efektif justru dijalankan ketika perhatian publik atas suatu isu sedang rendah.
Culpepper menyebut kondisi ini sebagai low salience. Dalam situasi minim sorotan, seorang aktor bisa bekerja leluasa tanpa diawasi terlalu ketat oleh publik maupun media.
Cupin merasa potongan teka-tekinya mulai menyatu. Mungkin Khofifah bukan bebek yang lumpuh karena terpaksa, melainkan bebek yang sengaja merunduk karena perhitungan.
Ada beberapa alasan masuk akal di balik pilihan merunduk ini. Pertama, Khofifah berada dalam orbit kasus dugaan korupsi dana hibah Jawa Timur, meski statusnya sejauh ini sebagai saksi, bukan tersangka.
Dalam posisi sensitif semacam itu, menurunkan profil diri adalah disiplin yang masuk akal. Setiap pernyataan yang viral hanya akan menciptakan permukaan serang baru bagi lawan-lawannya.
Kedua, sebagai kader partai dengan posisi yang dinamis terhadap pemerintahan pusat, Khofifah punya alasan untuk menjaga keselarasan. Ia tampak konsisten memposisikan diri sebagai mitra pembangunan yang menautkan visi daerahnya pada agenda nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Di sinilah filosofi bebek songkem terasa paling pas. Hidangan itu secara historis adalah buah tangan penghormatan yang dibawa warga saat bersungkem kepada kiai, sebuah simbol takzim dan bukan tantangan.
Cupin lalu membandingkan dengan tokoh dunia. Kanselir Jerman Angela Merkel memimpin selama enam belas tahun dengan gaya teknokratis nan senyap, sampai-sampai lahir kata kerja merkeln untuk menggambarkan caranya menunda sikap dan menghindari gebrakan.
Kekuasaan Merkel justru bertahan lama karena ia jarang menjadikan dirinya pusat keramaian. Model serupa terlihat pada teknokrasi Singapura, yang menilai pemimpin dari hasil nyata dan bukan dari teater politik.
Namun Cupin tak ingin terlalu cepat memuji. Strategi merunduk ini menyimpan jebakan yang nyata, persis seperti bebek songkem yang aromanya terkurung rapat dalam daun pisang.
Kerja yang tak diceritakan berisiko dianggap tak pernah ada di mata publik. Bumbu boleh meresap sempurna, tetapi kerumunan di luar tak akan tahu ada sesuatu yang sedang matang.
Ada pula risiko ruang kosong yang diisi pihak lain. Dalam ekonomi perhatian, panggung yang Anda tinggalkan akan diisi oleh lawan, oleh isu, bahkan oleh kabar bohong.
Cupin menyadari ironi terdalam dari semua ini. Bebek songkem butuh berjam-jam untuk matang, sementara politik di era serba viral kerap tak memberi waktu beberapa menit sebelum sebuah narasi telanjur ditulis oleh orang lain.
Pada akhirnya, Cupin memilih untuk tidak buru-buru menghakimi. Kesenyapan Khofifah bisa dibaca sebagai kelemahan seorang bebek lumpuh, namun bisa pula dibaca sebagai kebijaksanaan seorang bebek songkem yang sengaja menunduk dan membungkus rapat kekuatannya.
Mana yang benar mungkin baru akan terjawab oleh waktu. Sebab sejarah politik kerap mengingat mereka yang membangun dalam diam, tetapi sejarah juga ditulis oleh mereka yang sempat didengar, dan di persimpangan itulah Khofifah kini berdiri menunggu apakah zaman bersedia menanti sampai masakannya matang. (A43)
