Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Kenapa Ahokers Bisa Muncul?

Kenapa Ahokers Bisa Muncul?


G69 - Tuesday, November 2, 2021 17:00
Foto: Suara.com

0 min read

Fenomena munculnya relawan terhadap tokoh politik kembali menghiasi dinamika politik Tanah Air. Bahkan, ada pula kelompok yang cenderung fanatik dalam mendukung jagoannya, seperti Ahokers. Lantas, apa dampak dari hal ini? Lalu mengapa fanatisme terhadap tokoh politik tertentu dapat terjadi?


PinterPolitik.com

Memenangkan calon pemimpin mulai di daerah hingga pusat merupakan sebuah tujuan yang harus direalisasikan oleh partai politik (parpol). Namun, seiring berjalannya waktu, peran tersebut tidak hanya dilakukan oleh parpol. Munculnya sekelompok orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai relawan politik adalah fenomena lama, namun makin masif dan menunjukkan signifikansi sejak pemilihan presiden tahun 2014. Eksistensi  relawan Joko Widodo (Jokowi) disebut memberikan warna dan harapan baru dalam iklim relawan politik.

Kelompok relawan kemudian semakin menjamur dan mengental saat calon Gubernur DKI Jakarta, yakni Basuki Tjahaja Purnama atau dikenal dengan Ahok menjelma sebagai sosok yang sangat fenomenal. Momentum inilah yang memicu lahirnya sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai Ahokers. Mereka terkenal dengan karakternya yang loyal dan militan. Terbukti saat mereka menyatakan dukungannya terhadap Ahok dengan cara berkumpul dan menyalakan lilin di depan pintu masuk utama Rutan Kelas I Cipinang, Jakarta Timur.

Aksi tersebut dilakukan sebagai wujud kesetiaan untuk mendukung mantan Bupati Belitung Timur itu ketika dipenjara karena kasus penistaan agama. Mereka terus mengekspresikan dukungannya dan tidak berhenti berorasi di depan rutan agar bisa bertemu langsung dengan Ahok. Namun keinginan tersebut tidak tercapai sehingga menyebabkan tensi semakin panas dan membuat para Ahokers melakukan aksi bakar-bakaran di depan rutan.

Meski dipenuhi dengan bumbu drama, Ahok tetap dipenjara dan baru bebas pada bulan Januari tahun 2019 lalu. Para Ahokers pun masih setia dan tidak meninggalkan Ahok selama masih mendekam di penjara. Saat kebebasannya pun, mereka rela menunggu di depan Mako Brimob agar bisa menyambut Ahok ketika bebas dari penjara. Hal ini membuktikan begitu besar cinta dari pendukungnya terhadap Ahok.

Baca Juga: Perang Relawan Ganjar vs Puan

Fenonema ini pun memberikan sebuah bukti bahwa individu atau kelompok bisa dilanda ‘cinta buta’ terhadap seseorang yang dianggap hebat. Mereka rela untuk mengorbankan apapun terhadap sosok yang mereka puja. Seperti halnya yang terlihat dari kelompok Ahokers yang setia membela Ahok hingga sekarang.

Meski kerap memuja dengan cara yang cenderung keras namun ternyata eksistensi mereka memiliki pengaruh yang cukup besar dalam dinamika politik dalam negeri. Maka, tidak heran jika sekumpulan orang yang membentuk kelompok sejenis ini justru semakin menjamur. Lantas apa yang menyebabkan fenomena relawan tumbuh subur? Secara khusus, kenapa fanatisme terhadap sosok tertentu dapat terjadi?

Efek Ikut-ikutan?

Sebagaimana diketahui, eksistensi Ahokers sebagai relawan pendukung Ahok diikuti oleh simpatisan lainnya. Menjamurnya para relawan terhadap tokoh politik juga mulai terlihat menjelang kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Berbagai tokoh yang diprediksi akan bertarung pada kontestasi pilpres ramai menjadi pembicaraan publik. Mulai dari relawan Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Puan Maharani, hingga Airlangga Hartarto ramai menghiasi pemberitaan media. Bahkan ada pula relawan Luhut B. Pandjaitan.

Para relawan ini pun mendeklarasikan diri, sebagai sekumpulan orang yang tidak memiliki kepentingan atau hubungan dengan partai politik dan kelompok kepentingan lainnya. Mayoritas alasan terbentuknya pun hanya sebagai wadah untuk meningkatkan popularitas sosok yang mereka dukung. Seperti pernyataan relawan Ganjar yang bernama GP Mania menyebut bahwa mereka tidak terafiliasi dengan partai politik tertentu. Demikian halnya dengan relawan Anies yang menyatakan terbentuknya kelompok relawan tidak ada permintaan langsung dari Anies Baswedan maupun partai poltik lainnya.

Menjamurnya kelompok relawan ini pun mengingatkan pada fenomena bandwagon effect. Dalam tulisan berjudul Bandwagon Effect karya Rudiger Schmit-Beck, dijelaskan fenomena bandwagon merupakan sebuah dampak akibat dari tingginya kepercayaan dan kebiasaan yang mampu menginspirasi orang lain terkait nilai-nilai tersebut.

Hal serupa juga dijelaskan dalam tulisan berjudul Social Indicators in Online News Environments: The Influence of Bandwagon Cues on News Perceptions karya Natalee K Seely. Mengacu pada kecenderungan orang untuk bertindak karena dipengaruhi oleh kelompok lainnya, masing-masing individu kemudian merasa bahwa pengaruh yang kuat dari pihak eksternal bisa mempengaruhi mereka untuk mengambil sebuah keputusan.

Demikian juga dengan munculnya fenomena maraknya relawan terhadap tokoh politik Tanah Air. Jumlahnya semakin banyak terutama menjelang kontestasi Pilpres 2024. Meski secara rentang waktu masih cukup jauh, yakni 2 tahun lagi, namun para relawan sudah mendeklarasikan diri sejak sekarang. Masing-masing individu begitu antusias untuk membentuk suatu kelompok yang saling bergantung satu dengan yang lainnya.

Baca Juga: Relawan Jokowi Pecah, Ganjar Menguat?

Hal ini terlihat dari sebuah tulisan berjudul When and Why Did Human Brains Decrease in Size? A New Change-Point Analysis and Insights From Brain Evolution In Ants karya Jeremy M. DeSilva dan peneliti lainnya. Intinya, perkembangan evolusi otak manusia sejak zaman pleistosen telah membentuk karakter manusia masa kini yang cenderung tergantung pada kecerdasan secara kolektif. Hal ini menyebabkan penyusutan ukuran otak manusia pada 3.000 tahun lalu karena mereka membutuhkan sedikit energi untuk menyimpan berbagai informasi.

Manusia tidak hanya menyimpan kecerdasannya untuk diri sendiri melainkan mulai membagikannya kepada manusia lainnya sehingga mampu menghasilkan sebuah keputusan secara bersama atau kelompok. Pandangan secara antropologis inilah yang juga menjadi salah satu alasan manusia cenderung membentuk kelompok-kelompok. Maka, sebenarnya maraknya sekumpulan manusia yang mengatasnamakan diri sebagai relawan tokoh politik bukanlah sesuatu yang asing. Lalu bagaimana pengaruhnya terhadap dinamika politik di Indonesia?

Menyebabkan Kehancuran?

Munculnya kelompok yang menamakan diri sebagai relawan suatu tokoh politik memang bertujuan positif, yaitu memberikan dukungan pada sosok yang didambakan. Namun, ada kalanya dukungan yang diberikan terlalu berlebihan atau mengarah ke fanatisme. Kondisi ini sudah terlihat di era Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu dengan kemunculan relawan Ahokers. Kini, para relawan sejenis juga bermunculan, namun masih belum dapat diukur sejauh apa kecintaannya terhadap sosok yang mereka dukung.

Namun, intinya karakter fanatisme bisa melekat pada beberapa individu dalam kelompok tersebut. Hal ini harus diwaspadai dan mendapatkan perhatian khusus karena fanatisme juga bisa memberikan dampak negatif. Dalam tulisan berjudul The Rise of Fanaticism and The Impact on Society karya Sadie Wolfe, fanatisme bisa mengarah ke dampak negatif dan merusak. Penyebabnya karena fanatisme buta dapat menjustifikasi pemahaman mereka untuk mencapai suatu kepentingan. Bahkan, untuk meraihnya seorang pemimpin di dalam kelompok tersebut menggunakan isu budaya dan agama untuk menciptakan fanatisme yang membabi buta.

Beberapa contoh fanatisme yang berdampak negatif juga disebutkan di dalam tulisan ini, yaitu momentum holocaust, tragedi Rwanda, dan fenomena terorisme. Tiga contoh ini memperlihatkan fanatisme berlebihan bisa berujung pada kehancuran apabila ada penyalahgunaan wewenang dengan menggunakan politik identitas dan agama. Seperti sosok Raja Henry VIII yang dinilai menunggangi agama untuk mencapai kekuasaan dengan memanfaatkan kekuatan dari gereja saat itu.

Kemudian ada juga fanatisme yang melahirkan gerakan teroris seperti ISIS dan Al-Qaeda. Dalam tulisan berjudul The Pragmatic Fanaticism of Al-Qaeda: An Anatomy of Extremism in Middle Eastern Politics karya Michael Doran, dijelaskan kelompok fanatik seperti Al-Qaeda memiliki tujuan utama untuk menyingkirkan AS di semenanjung Persia. Kelompok ini juga mengajak seluruh umat Muslim untuk mengantisipasi setiap adanya ancaman, namun hal ini berimbas pada jatuhnya korban jiwa.

Baca Juga: Relawan Politik, Benalu Demokrasi?

Ada pula tulisan berjudul The Many Faces of Fanaticism karya Kalmer Marimaa yang menjelaskan fanatisme merupakan sebuah fenomena yang sudah tidak asing dengan kegiatan manusia. Meski lekat dengan kehidupan manusia, namun secara umum fenomena tersebut bisa mengarah ke arah positif, netral, hingga destruktif. Selain itu, dalam tulisan ini juga dijelaskan bahwa fanatisme dipahami sebagai sebuah karakter dari individu yang memiliki rasa kecintaan yang tergolong ekstrem sehingga tidak bisa melontarkan kritik terhadap individu atau kelompok lain.

Imbas dari fanatisme, terciptalah sebuah labelling yang berbeda dengan orang lain, misalnya seseorang yang dianggap sebagai pelaku kejahatan. Namun, di mata para pendukungnya, sosok tersebut dianggap sebagai pahlawan. Label berbeda ini juga terjadi di era modern seperti sekarang, khususnya di sektor politik Tanah Air. Apalagi memasuki era post-truth, di mana masyarakat lebih senang untuk mendengar atau melihat apa yang mereka sukai.

Maka bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa fanatisme yang membabi buta bisa saja berakhir pada kehancuran dan perpecahan. Apabila kondisi ini terus terjadi, dinamika politik di Indonesia bisa terdampak. (G69)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait