Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Jokowi di Antara Prabowo-Luhut

Jokowi di Antara Prabowo-Luhut


A43 - Friday, July 17, 2020 17:00
Presiden Joko Widodo (Jokowi) (tengah) didampingi oleh Luhut Binsar Pandjaitan (kiri) bertemu dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) pada tahun 2016 silam. (Foto: Antara)

0 min read

Sebuah asumsi bahwa pengaruh Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto bisa menyalip pengaruh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan muncul ke publik. Asumsi ini berkaitan dengan pilihan pimpinan proyek lumbung pangan (food estate) dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang jatuh pada Prabowo.


PinterPolitik.com

“It is important to draw wisdom from different places. If you take it from only one place, it becomes rigid and stale” – Iroh, Avatar: The Last Airbender (2005-2008)

Sebagian besar masyarakat yang tergolong dalam kelompok usia milenial dan generasi Z pasti mengetahui serial kartun yang berjudul Avatar: The Last Airbender (2005-2008). Kisah dalam kartun yang berasal dari Amerika Serikat (AS) – khususnya bagian opening-nya – tersebut hampir dapat dipastikan cukup melekat di ingatan banyak orang Indonesia.

Alkisah, terdapat sebuah kota megah dan besar di Kerajaan Bumi yang bernama Ba Sing Se. Dalam kota yang megah tersebut, terdapat pemerintahan kerajaan yang mengklaim dapat melindungi warganya dari serangan kerajaan lain, yakni Kerajaan Api.

Namun, di balik klaim tersebut, pemerintahan kota itu berusaha menutup-nutupi informasi terkait berlangsungnya perang yang bergelora di luar tembok-tembok kota. Bahkan, pemerintahan tersebut menyembunyikan informasi itu dari sang raja.

Adalah sebuah kelompok keamanan elite – bernama Dai Li – yang melakukan semua upaya penutupan informasi tersebut. Kelompok ini dipimpin oleh seseorang petinggi yang bernama Long Feng.

Meski begitu, sang raja tetap percaya pada Long Feng. Sampai-sampai, semua yang dikatakan Long Feng akan berakhir menjadi keputusan dan titah resmi kerajaan.

Mungkin, bisa dibilang Long Feng ini merupakan sosok pembisik di balik semua kemegahan dan ketenaran Kota Ba Sing Se. Tokoh ini pun tampaknya mengingatkan sejumlah warganet dengan salah satu pejabat di Indonesia, yakni Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

Akun guyonan politik @PolJokesID, misalnya, menyandingkan cuplikan seri kartun tersebut – menggambarkan Long Feng tengah berbisik pada Raja Kuei – dengan foto Luhut bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pasalnya, tidak sedikit warganet menilai Luhut merupakan sosok yang kuat di Kabinet Indonesia Maju – dan Kabinet Kerja (2014-2019).

Meski begitu, beberapa pihak menilai bahwa sosok yang biasa disebut sebagai menteri segala urusan tersebut mulai kehilangan supremasi pengaruhnya di kabinet. Hal ini dikarenakan oleh kemunculan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto yang semakin dipercaya oleh Jokowi.

Nanat Fatah Natsir – pengamat politik dari UIN Bandung – menjelaskan bahwa Prabowo bisa memengaruhi dinamika kekuatan dalam kabinet Jokowi. Bahkan, bukan tidak mungkin sang Menhan dapat menyalip pengaruh Luhut.

Apa yang dijelaskan oleh Nanat bukan tidak mungkin dapat terjadi. Namun, bila asumsi itu benar, mengapa kira-kira Jokowi kini lebih memilih Prabowo dibandingkan Luhut? Dinamika politik apa yang mungkin mendasari pilihan tersebut?

Pertimbangan Jokowi?

Bila asumsi yang diungkapkan oleh Nanat benar adanya, dinamika politik bukan tidak mungkin mendasari keputusan tersebut. Mungkin, Jokowi memiliki pertimbangan politik tertentu untuk menguatkan pengaruh Prabowo dibandingkan Luhut di Kabinet Indonesia Maju.

Bukan tidak mungkin, Jokowi kini membutuhkan Prabowo guna mengimbangi kekuatan-kekuatan politik lain di pemerintahan. Pasalnya, pengaruh Prabowo dalam kancah politik Indonesia tidak dapat dipungkiri cukup besar.

Peran pengimbangan seperti ini juga pernah melekat pada Menko Marves Luhut. Pada periode pertama pemerintahan Jokowi, Luhut dianggap penting dalam menghalau kekuatan partai-partai politik besar, khususnya PDIP dan Megawati Soekarnoputri.

[bctt tweet="Jokowi bisa jadi membutuhkan Prabowo guna mengimbangi kekuatan-kekuatan politik lain di pemerintahan." username=""]

Kanupriya Kapoor dalam tulisannya di Reuters menjelaskan bahwa Luhut dianggap berperan dalam menjadi jembatan di antara partai-partai politik – begitu juga bagi para investor. Perannya sebagai penjaga gerbang (gate keeper) juga membuat kepentingan partai-partai politik terhalau dari kontrol Luhut dan Jokowi.

Mungkin, mirip seperti Luhut, Prabowo kini bisa mengisi peran tersebut. Pasalnya, bukan tidak mungkin sang Menhan memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menghalau kepentingan-kepentingan politik yang tidak sejalan dengan kepentingan Jokowi.

Partai Gerindra yang dipimpin oleh Prabowo, misalnya, telah menjadi salah satu partai politik yang berpengaruh dengan jumlah kursi yang cukup besar di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bukan tidak mungkin, dengan pengaruh yang besar tersebut, Jokowi ingin Prabowo dapat mengimbangi pengaruh PDIP dan Megawati.

Selain itu, seperti Luhut, Prabowo juga memiliki banyak relasi bisnis dengan pihak-pihak asing. Pasalnya, mengacu pada tulisan Kapoor, Luhut kerap menjadi pintu masuk bagi para investor asing.

Prabowo sendiri dengan latar belakangnya di militer dan bisnis memiliki relasi dengan negara Paman Sam. Mantan Komandan Tertinggi Pasukan Sekutu NATO Jenderal (Purn.) Wesley Kanne Clark, misalnya, merupakan salah satu tokoh AS yang disebut memiliki relasi bisnis dengan sang Menhan.

Lantas, apa konsekuensi lanjutan dari pilihan Jokowi? Mengapa Jokowi mulai memberikan kepercayaan lebih pada Prabowo?

Prabowo atau Luhut?

Mungkin, seperti apa yang diungkapkan Nanat, Jokowi kini lebih mengandalkan Prabowo dibandingkan Luhut dengan dipilihnya sang Menhan sebagai leading sector di proyek lumbung pangan (food estate). Namun, dugaan lain bisa juga muncul.

Dengan Jokowi yang semakin mengandalkan Prabowo, bukan tidak mungkin pemerintah Indonesia mulai membuka pengaruh terhadap pada AS. Pasalnya, sang Menhan juga pernah menyebutkan bahwa dirinya adalah anak kesayangan AS.

Bila benar begitu, bisa jadi tengah terdapat persaingan proxy – istilah yang digunakan untuk menggambarkan perwakilan asing di suatu negara – antara Luhut dan Prabowo. Bila berkaca pada rekam jejak Luhut, sang Menko Marves memang dianggap dekat dengan Tiongkok. Bahkan, Luhut pernah mengatakan bahwa kekuatan negara Tirai Bambu merupakan hal yang tidak terelakkan.

Apabila konteks proxy ini benar adanya, bukan tidak mungkin AS memiliki pengaruh yang terus berkembang di pemerintahan Indonesia dengan semakin besarnya peran Prabowo. Pemerintah Indonesia sendiri disebut-sebut berencana untuk membeli sejumlah alat utama sistem pertahanan (alutsista) dari negera Paman Sam.

Meski begitu, hitung-hitungan politik domestik bisa juga memengaruhi peralihan kepercayaan Jokowi ini. Bukan tidak mungkin, sang presiden lebih mengandalkan Prabowo karena Luhut kerap mendapatkan sentimen negatif dari masyarakat – khususnya di tengah pandemi Covid-19.

Pernyataan Luhut sendiri kerap menuai kontroversi di masyarakat. Soal pandemi Covid-19, misalnya, lelucon yang membandingkan virus Corona dengan jenis mobil membuat publik geram.

Buruknya dampak sentimen negatif seperti ini bisa dijelaskan dengan sebuah istilah yang disebut sebagai political gaffe(kesalahan politik). Di AS, istilah ini dikenal juga sebagai Kinsley gaffe yang kerap menghantui karier politisi.

Selain itu, perhitungan politik domestik ini juga bisa didasarkan pada kemungkinan di masa mendatang. Pasalnya, Prabowo memiliki karier politik yang lebih menjanjikan dibandingkan Luhut.

Berdasarkan berbagai hasil survei mengenai calon presiden periode 2024-2029, nama Prabowo selalu muncul sebagai nama yang menjanjikan. Dibandingkan Luhut, bukan tidak mungkin Jokowi lebih membutuhkan sang Menhan agar dapat mengisi dinamika politik di masa mendatang.

Jokowi sendiri dirumorkan ingin mendirikan poros ketiga pada Pemilu 2024. Bisa jadi, Prabowo adalah kunci lanjutan agar poros ini dapat terbangun guna menyaingi poros pertama yang didominasi PDIP.

Namun, tentu saja, semua gambaran kemungkinan di atas belum tentu benar adanya. Pasalnya, kebenaran akan asumsi antara Luhut dan Prabowo ini pun hanya Jokowi dan orang tertentu saja yang tahu secara pasti.

Yang jelas, Jokowi memiliki pertimbangan politiknya sendiri apabila benar Prabowo menyalip pengaruh politik Luhut di Kabinet Indonesia Maju. Mungkin, apa yang dilakukan sang presiden ini sejalan dengan kutipan percakapan Iroh dari Avatar: The Last Airbender di awal tulisan. Mari kita nantikan saja kelanjutannya. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Jokowi bisa jadi membutuhkan Prabowo guna mengimbangi kekuatan-kekuatan politik lain di pemerintahan.

Click to tweet

Berita Terkait