Site icon PinterPolitik.com

Indonesia, Si Paling ‘Negara Potensi’?

indonesia si paling negara potensi

Sebuah keluarga Indonesia pada dasawarsa 1970-an menonton sebuah harapan masa depan Indonesia di televisi. (Foto: AI-generated)

Dengarkan artikel ini:

https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2026/07/indonesia-si-paling-negara-potensi.mp3
Audio ini dibuat menggunakan AI.

Selalu berpotensi, tak pernah berhasil. Dari Fairchild sampai Lokananta, kenapa Indonesia betah berhenti di ambang? Apakah ini Kutukan Ambang?


PinterPolitik.com

“…overdriving of an established form in such a way that it becomes rigid through an inward overelaboration of detail.” – Clifford Geertz, Agricultural Involution (1963)

Cupin sedang menyeruput kopi ketika sebuah utas melintas di layar ponselnya. Isinya sebuah daftar yang menohok, dan ia membacanya sambil mengernyit.

Utas itu menyusun bukti satu per satu. Indonesia berpotensi punya industri musik rekaman mandiri lewat Lokananta sejak 1956, berpotensi jadi produsen minyak atsiri terbesar dunia, bahkan berpotensi jadi perakit semikonduktor pertama di ASEAN melalui Fairchild pada 1973.

Lalu penutupnya terasa seperti tamparan halus. “Semua cuma jadi potensi,” tulis akun itu, dan komentar di bawahnya ramai mengangguk setuju.

Cupin tahu sindiran itu terasa akrab justru karena ia benar. Namun, ia juga curiga bahwa menyebut sesuatu sebagai “potensi yang gagal” adalah diagnosis yang terlalu malas.

Sebab pertanyaan yang sebenarnya bukan apakah Indonesia gagal mengubah potensi. Pertanyaannya adalah mengapa kegagalan itu selalu berpola, berulang di sektor yang tidak saling berhubungan, lintas rezim, selama tujuh dekade.

Cupin membuka catatan lamanya dan menemukan data yang menguatkan kecurigaannya. Pangsa manufaktur terhadap PDB Indonesia pernah mencapai puncak sekitar 32 persen pada 2002, tetapi kini hanya berkisar 17 persen menurut angka yang dirujuk banyak ekonom.

Yang membuat Cupin merenung bukan angkanya, melainkan waktunya. Ekonom Harvard Dani Rodrik, dalam kajiannya “Premature Deindustrialization”, menyebut fenomena ini sebagai deindustrialisasi dini, seolah tangga menuju kemakmuran ditarik sebelum sebuah negara sempat menaikinya.

Indonesia mulai kehilangan pangsa manufakturnya ketika pendapatan per kapitanya baru sekitar 2.000 dolar AS. Bandingkan dengan Korea Selatan yang menua secara industrial pada 8.000 dolar dan Jepang pada 18.000 dolar, dan Cupin pun paham betapa “prematur” kejatuhan itu.

Ia menamai pola ini dalam kepalanya sebagai Kutukan Ambang. Sebuah kondisi ketika sebuah negara berulang kali sampai di ambang sebuah industri, tetapi secara sistematis gagal melewatinya.

Cupin menyandarkan punggung dan menatap langit-langit. Jika modal, bakat, dan sumber daya selalu ada, lalu apa sebenarnya yang hilang setiap kali kita berdiri di depan pintu?

Dan kalau pola ini bukan kecelakaan melainkan struktur, di lapisan mana persisnya struktur itu bekerja, di negara ataukah di dalam diri kita sendiri?

Potensi yang Dijaga, Bukan Digerakkan

Cupin melanjutkan penelusurannya dan menemukan bahwa jawaban lapisan pertama terletak pada peran negara. Ia teringat karya sosiolog Berkeley, Peter Evans, yang berjudul Embedded Autonomy.

Setelah membandingkan industri komputer di Korea, Brasil, dan India, Evans menyimpulkan bahwa negara berkembang bergerak di sebuah spektrum. Di satu ujung ada negara predatoris yang hanya mengeruk, dan di ujung lain ada negara developmental yang aktif menggerakkan transformasi industri.

Di tengah keduanya berdiri negara “antara” yang oleh Evans disebut menjalankan peran custodian atau penjaga. Negara jenis ini mengatur, melindungi, dan mengawasi sebuah industri, tetapi tidak punya kesanggupan kelembagaan untuk menumbuhkannya.

Kunci keberhasilan, kata Evans, adalah kombinasi paradoks yang ia namai embedded autonomy. Birokrasi yang cukup otonom untuk punya arah sendiri, sekaligus cukup menyatu dengan dunia usaha untuk memahami realitas pasar.

Cupin merasa kisah Fairchild adalah ilustrasi paling telak dari kegagalan kombinasi itu. Ketika pasar cip global lesu pada awal 1980-an dan perusahaan hendak mengotomasi lini produksinya, Kementerian Tenaga Kerja menolak pengurangan pekerja.

Negara saat itu bertindak sebagai penjaga tenaga kerja, melindungi lapangan kerja jangka pendek. Namun, ia terputus dari logika pasar cip global yang justru menuntut modernisasi agar bisa bertahan.

Hasilnya bukan lapangan kerja yang terjaga, melainkan seluruh industri yang hilang. Fairchild, National Semiconductor, dan Monsanto akhirnya hengkang, dan tujuan mereka adalah Malaysia.

Malaysia memilih peran yang berbeda, yaitu penggerak. Negara jiran itu membenahi infrastruktur, mempermudah perizinan, dan memberi ruang bagi modernisasi, sampai akhirnya Penang menyebut dirinya “Silicon Valley of the East”.

Hari ini Malaysia memasok hampir sepertiga jasa perakitan dan pengujian semikonduktor dunia. Indonesia, yang justru memulai lebih dulu, malah tersingkir dari arena yang sama.

Inilah inti Kutukan Ambang menurut Cupin. Persoalannya bukan negara yang lemah, sebab negara kita justru sering sangat hadir dan interventif.

Masalahnya, ia hadir sebagai penjaga, bukan sebagai penggerak. Penjaga memelihara apa yang ada dan enggan pada disrupsi, otomasi, serta risiko yang sesungguhnya menjadi syarat melewati ambang.

Cupin lalu bertanya-tanya sendiri sambil menutup laptopnya sejenak. Jika insting negara adalah melindungi, dari mana sebenarnya insting itu lahir dan mengapa ia begitu kuat?

Dan kalau kelembagaan hanyalah cermin dari kebiasaan yang lebih dalam, kebiasaan budaya seperti apa yang membuat kita begitu betah berdiri di ambang?

Agar Potensi Tak Selamanya “Si Paling”

Cupin menyadari bahwa kelembagaan tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari pengerasan kebiasaan budaya. Ia pun menemukan kosakata paling tajam pada antropolog Amerika, Clifford Geertz, dalam bukunya Agricultural Involution.

Meneliti pertanian Jawa, Geertz menemukan pola yang ia sebut involusi. Ketika tekanan meningkat, masyarakat merespons bukan dengan transformasi, melainkan dengan mengelaborasi yang sudah ada, membagi lahan makin halus tanpa mengubah bentuk dasarnya.

Geertz menamainya change without change, yaitu perubahan tanpa perubahan. Kerumitan terus bertambah di dalam, tetapi tidak ada lompatan menuju tahap yang baru.

Cupin merasa istilah itu menjelaskan kebiasaan kita untuk setengah-setengah. Alih-alih melompati ambang yang menuntut risiko dan konflik terbuka, kita cenderung menyempurnakan posisi di ambang itu.

Kita menambah kajian, membentuk panitia, atau merevitalisasi gedung tua menjadi ruang kreatif yang cantik. Sibuk, rumit, dan penuh aktivitas, tetapi tetap berdiri di lantai yang sama.

Kecenderungan ini, pikir Cupin, diperkuat oleh temuan lintas budaya Geert Hofstede. Indonesia tercatat memiliki power distance yang sangat tinggi dan kolektivisme yang kuat, sebuah kombinasi yang melahirkan masyarakat penjunjung harmoni dan konsensus.

Nilai-nilai itu indah untuk kohesi sosial, tetapi mahal untuk lompatan industrial. Sebab lompatan sejati selalu disruptif, menciptakan pemenang dan pecundang, serta menuntut seseorang berani menantang otoritas yang mapan.

Di sinilah kutukan bekerja paling halus, menurut renungan Cupin. Menolak otomasi demi melindungi ribuan pekerja terasa benar secara budaya, justru pada saat ia salah secara strategis.

Meski begitu, Cupin menolak kesimpulan bahwa budaya adalah takdir yang mengunci nasib bangsa. Malaysia dan Korea Selatan juga masyarakat yang hierarkis dan kolektif, tetapi keduanya berhasil melompat.

Buktinya jelas bahwa budaya hanya membentuk kecenderungan, bukan menentukan hasil akhir. Yang membedakan adalah hadirnya kepemimpinan dan kelembagaan yang sanggup menyalurkan energi kolektif itu ke arah tujuan pembangunan.

Cupin melihat sinyal yang menjanjikan pada babak sekarang, ketika kerangka kelembagaan Indonesia mulai bergeser ke arah penggerak. Lewat Danantara, negara tidak lagi sekadar mengatur, tetapi menjadi investor strategis yang berupaya menuntaskan proyek hilirisasi secara konkret.

Ia juga mencatat langkah di semikonduktor yang kali ini menempuh pintu berbeda. Kesepakatan dengan Arm dan investasi ventura pada awal 2026 menyasar segmen desain serta kekayaan intelektual cip, sebuah upaya melompat di lantai yang lebih tinggi ketimbang sekadar kembali ke lantai lama.

Cupin menutup catatannya dengan satu kesimpulan yang tenang. Indonesia tidak pernah kekurangan potensi dan sesungguhnya tidak pula dikutuk oleh budayanya, sebab arus budaya selalu bisa dibendung dan diarahkan oleh kelembagaan yang tepat.

Yang selama ini menjadi pekerjaan rumah bersama hanyalah keberanian untuk sesekali melewati ambang, bukan sekadar merawatnya dengan indah. Semoga suatu hari kata “berpotensi” berganti menjadi kata “berhasil”. (A43)


Exit mobile version