Dengarkan artikel ini:
Dari Sekolah Garuda, Badan Gizi Nasional (BGN), sampai Danantara, simbol Garuda muncul di mana-mana di era Prabowo Subianto. Mengapa demikian?
“Di tengahnya terdapat gambar kepala Burung Garuda dengan warna kuning keemasan, melambangkan kemakmuran” – Partai Gerindra
Cupin baru saja turun dari bus ketika ia melihat papan besar bertuliskan “Sekolah Garuda”. Kepala burung Garuda berwarna merah mengembang di atas tulisan itu. Ia menatapnya lama, lalu berbisik pelan, “Garuda lagi. Di mana-mana ada Garuda.”
Tak salah. Di era Prabowo Subianto, simbol Garuda muncul di hampir setiap proyek besar negara. Seolah burung mitologis itu bukan sekadar lambang negara di dinding kantor pemerintahan, tetapi makhluk hidup yang menjelma di setiap kebijakan, logo, hingga nama institusi.
Cupin juga mencatat bahwa bukan hanya Sekolah Garuda yang mengusung simbol itu. Ada Danantara, holding BUMN baru yang disebut-sebut bakal menjadi motor penggerak ekonomi nasional, juga memakai Garuda di logonya dengan kepala menengadah dan dada tegap, seperti sedang bersiap terbang.
Danantara, yang namanya berarti “pembawa kemakmuran,” menaungi sektor-sektor strategis seperti energi, pertambangan, dan telekomunikasi. Narasi resminya berbicara tentang “kebangkitan ekonomi Indonesia yang berdaulat,” tapi Cupin melihat hal lain. Ia melihat sebuah benang merah visual dan ideologis yang menghubungkan proyek-proyek besar negara.
Mulai dari program ketahanan pangan, penguatan pertahanan nasional, hingga kebijakan digitalisasi birokrasi, semuanya menampilkan jejak simbol Garuda. Seolah burung mitos itu bukan lagi lambang, tetapi mantra politik yang diulang terus agar melekat di benak publik.
Cupin termenung. Mengapa Garuda begitu sentral di era Prabowo? Apakah ini hanya karena presiden menyukainya, atau ada strategi lebih besar di balik penyebaran simbol ini, sebuah upaya untuk menanamkan pesan nasionalisme dengan cara yang halus tapi efektif?
Garuda: Burung Agung dari Masa Silam
Suatu sore, Cupin membuka buku tua di perpustakaan. Lembarannya kuning, judulnya Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism karya Benedict Anderson. Ia tersenyum kecil. “Ah, ini orang yang bilang bangsa itu komunitas terbayang,” katanya pelan.
Dalam buku itu, Anderson menjelaskan bahwa bangsa lahir dari imajinasi kolektif. Orang-orang yang tak saling kenal bisa merasa sekelompok karena berbagi simbol, bahasa, dan sejarah yang sama. Simbol-simbol itu menjadi penanda kebersamaan, semacam bendera batin yang mengikat orang tanpa perlu kata-kata.
Cupin menutup buku itu dan berbisik, “Kalau begitu, Garuda itu bukan cuma burung, tapi jembatan imajinasi bangsa.”
Benar saja, Garuda punya akar yang dalam dalam sejarah Nusantara. Ia datang dari mitologi Hindu-Buddha yang telah hidup di wilayah ini sejak berabad-abad lalu.
Dalam kisah klasik, Garuda adalah kendaraan Dewa Wisnu, burung raksasa yang kuat, setia, dan mampu terbang menembus tiga dunia. Ia melambangkan kekuatan, kebebasan, dan perlindungan.
Ketika para pendiri bangsa Indonesia mencari lambang negara setelah kemerdekaan, Garuda dipilih bukan karena kebetulan. Ia membawa resonansi spiritual dan kultural yang akrab bagi masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Garuda menjadi simbol ideal, agung tapi familiar, mitologis tapi bermakna politik.
Dalam Garuda Pancasila, lima sila tergambar di dadanya. Sayapnya terbentang lebar, menandakan cita-cita tinggi bangsa. Kepala menoleh ke kanan sebagai lambang kebenaran, sementara cakarnya mencengkeram pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu.
Cupin menatap lambang itu lama-lama di dinding museum. Ia membayangkan bagaimana simbol ini dulu dimaknai berbeda di setiap era. Pada masa Soekarno, Garuda adalah simbol revolusi dan kebangkitan bangsa yang baru merdeka. Pada masa Soeharto, ia menjadi ikon stabilitas dan pembangunan. Kini, di era Prabowo, Garuda muncul kembali, lebih besar, lebih menonjol, seolah menandakan kebangkitan baru nasionalisme.
Cupin lalu menemukan satu lagi buku yang menarik, National Identity karya Anthony D. Smith. Di dalamnya, Smith menjelaskan tentang “ethno-symbolism”, teori bahwa identitas nasional dibangun bukan hanya lewat politik dan ekonomi, tapi lewat simbol, mitos, dan ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi. Simbol, tulis Smith, adalah “penyimpan makna” yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Cupin tersenyum membaca kalimat itu. Ia merasa seperti menemukan kunci untuk memahami fenomena “Garuda Everywhere.” Simbol itu hidup dan terus dimaknai ulang sesuai konteks zaman. Ia bukan artefak mati, melainkan organisme kultural yang beradaptasi mengikuti arah politik dan psikologi kolektif bangsa.
Dan mungkin, pikir Cupin, apa yang dilakukan Prabowo bukanlah menciptakan makna baru, tetapi menghidupkan kembali makna lama dalam kemasan baru.
Garuda dan Strategi Simbolisasi Prabowo
Cupin ingat, dulu waktu masih kecil, ayahnya sering menunjuk lambang di topi tentara yang lewat di depan rumah. “Itu Garuda,” kata ayahnya, “lambang keberanian.” Kini, bertahun-tahun kemudian, Cupin menyadari betapa dalam makna kalimat sederhana itu, apalagi jika diucapkan oleh seseorang seperti Prabowo Subianto, mantan jenderal yang hidup dalam disiplin dan simbol militer.
Bagi Prabowo, Garuda bukan hanya lambang negara. Itu bagian dari identitas pribadi.
Sejak mendirikan Partai Gerindra pada 2008, yang logonya juga menampilkan kepala Garuda, ia sudah menjadikan simbol ini sebagai representasi diri. Ia ingin dikenal sebagai pemimpin yang kuat, tegas, dan nasionalis.
Latar belakang militernya memperkuat ikatan itu. Dalam dunia TNI, Garuda hadir di setiap insignia dan dokumen resmi, menjadi representasi nilai-nilai seperti keberanian, pengabdian, dan kesetiaan. Prabowo, yang tumbuh dan berkarier di dunia itu, tampaknya melihat Garuda sebagai cermin dari ideal kepemimpinan yang ia junjung.
Namun, fenomena Garuda Everywhere di era pemerintahannya tidak bisa hanya dijelaskan lewat faktor personal. Ada perhitungan politik yang matang di dalamnya.
Dengan menjadikan Garuda sebagai benang merah visual dan ideologis dari berbagai program, mulai dari Sekolah Garuda, Danantara, hingga logo kementerian, Prabowo menciptakan semacam brand pemerintahan. Sebuah citra yang konsisten dan mudah dikenali, sekaligus menanamkan kebanggaan nasional secara halus di benak publik.
Cupin membaca teori Michael Billig dalam Banal Nationalism (1995), yang menjelaskan bagaimana simbol-simbol nasional yang diulang dalam kehidupan sehari-hari, seperti bendera di gedung, lagu di televisi, atau lambang di uang, secara perlahan menanamkan nasionalisme tanpa terasa.
Ia menyebutnya “flagging,” pengibaran simbol yang tak pernah berhenti. Nasionalisme, kata Billig, tidak selalu lahir di medan perang, seringkali ia tumbuh di rutinitas yang tampak biasa.
Cupin tersenyum kecil. “Jadi Garuda di logo Danantara itu juga bendera kecil,” gumamnya. “Cara halus negara bilang: kamu bagian dari Indonesia yang kuat.”
Tapi ada lapisan lain. Dalam buku Ritual, Politics, and Power (1988), antropolog David I. Kertzer menulis bahwa kekuatan simbol politik terletak pada kemampuannya menghubungkan rasionalitas dengan emosi. Simbol tidak hanya menyampaikan pesan, ia juga menciptakan rasa, rasa kebersamaan, kebanggaan, bahkan pengorbanan. Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, simbol semacam Garuda berfungsi sebagai perekat sosial yang menciptakan rasa satu meski berbeda.
Cupin paham sekarang mengapa Garuda digunakan begitu luas. Bukan sekadar untuk estetika, tapi untuk membangun arsitektur emosional dari pemerintahan Prabowo. Dengan menampilkan Garuda secara berulang, Prabowo sedang membangun bahasa simbol kekuasaan. Bahasa yang menyatukan, menggerakkan, dan membangun legitimasi.
Cupin menutup catatannya dengan kalimat sederhana. “Garuda terbang tinggi bukan karena sayapnya, tapi karena bangsa di bawahnya percaya bahwa mereka juga bisa terbang.” (A43)

