Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Ganjar Pranowo, The Next Jokowi?

Ganjar Pranowo, The Next Jokowi?


A43 - Wednesday, October 28, 2020 8:30
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo (kiri) ketika menyambut kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) (kanan) di Kota Solo, Jateng, pada Oktober 2019 lalu. (Foto: Twitter/@ganjarpranowo)

0 min read

Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo disebut di sejumlah hasil survei menjadi nama yang paling berpotensi menjadi calon presiden pada tahun 2024 mendatang. Mungkinkah Ganjar menjadi the next Joko Widodo (Jokowi)?


PinterPolitik.com

“Yang patah tumbuh, yang hilang berganti” – Banda Neira, grup musik asal Indonesia

Kutipan lirik Banda Neira di awal tulisan mungkin bisa diterapkan ke banyak aspek dalam kehidupan. Secuil lirik dari lagu yang berjudul “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti” ini setidaknya menyiratkan bahwa segala sesuatu akan patah dan berakhir, serta kembali tumbuh dan berganti menjadi yang baru.

Mungkin, lirik itu juga dapat menggambarkan kisah yang tertuang dalam film-film Marvel, khususnya Avengers. Pasalnya, di film Avengers: Endgame (2019), Steve Rogers memutuskan untuk berhenti menjadi Captain America setelah melakukan perjalanan waktu ke masa lalu.

Tentu saja, keputusan Steve ini membuat dunia kehilangan tokoh Captain America. Mungkin, guna mencegah hilangnya peran ini, Sam Wilson (atau Falcon) mengangkat kembali tameng Captain America dan mengambil peran pahlawan super satu ini.

Bukan tidak mungkin, munculnya pengganti pahlawan era Perang Dunia II ini akhirnya membawa nuansa baru. Sosok Sam sebagai Captain America baru ini bisa menjadi sejarah baru bagi dunia pahlawan super Marvel.

Pergantian seperti ini pun juga terjadi dalam dunia politik. Bagaimana tidak? Dalam sebuah demokrasi, pejabat yang menduduki jabatan eksekutif senantiasa berganti guna mencegah penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam hal ini, posisi presiden juga pasti akan selalu diisi oleh orang-orang yang berbeda seiring berjalannya waktu. Bila kini jabatan presiden Indonesia diduduki oleh Joko Widodo (Jokowi), bukan tidak mungkin di masa mendatang akan muncul nama-nama baru yang akan berkompetisi guna memperebutkan kursi kepresidenan.

Publik dan media pun mulai meraba-raba mengenai siapa nama-nama potensial yang dapat menjadi presiden pada tahun 2024 mendatang. Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, misalnya, sempat menjadi sosok yang dinilai paling populer untuk menjadi calon potensial pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Namun, klasemen yang biasa dipuncaki oleh Prabowo ini kini mulai mengalami perubahan. Dalam sejumlah survei yang dilakukan oleh Indikator Politik, nama Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo muncul sebagai sosok yang paling populer bila menjadi calon presiden (capres) 2024.

Melejitnya popularitas Ganjar ini memunculkan asumsi bahwa Gubernur Jateng ini dapat menjadi capres yang paling populer dari kalangan PDIP. Bahkan, ada anggapan bahwa Ganjar akan muncul sebagai politikus yang menjanjikan layaknya Jokowi pada masa lampau.

Bila benar begitu, sejumlah pertanyaan tentu saja bisa muncul. Mengapa Ganjar dapat muncul sebagai politikus yang menjanjikan sebagai capres pada tahun 2024 nanti? Lantas, apakah mungkin ada dinamika politik yang menghantui kemungkinan ini?

Seorang Outsider?

Kemunculan Ganjar ini dapat saja dianggap sebagai kebangkitan seorang political outsider – politikus yang tidak berasal dari lingkaran kekuatan utama dan besar. Bukan tidak mungkin, fenomena munculnya outsider seperti ini terjadi karena sejumlah faktor.

Andreas Jungherr, Ralph Schroeder, dan Sebastian Stier dalam tulisan mereka yang berjudul Digital Media and the Surge of Political Outsiders menjelaskan bahwa fenomena political outsiders ini terjadi di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat (AS), Jerman, dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Biasanya, para outsiders ini muncul sebagai penantang terhadap kekuatan-kekuatan lama yang telah terbangun. Jungherr dan rekan-rekan penulisnya menyebutkan bahwa para outsiders juga berusaha mengambil ruang politik melalui medium komunikasi baru, yakni media digital.

Di AS, misalnya, outsiders seperti ini menggunakan jaringan digital guna menjaring pemilih. Upaya seperti ini dapat dilihat dari politisi seperti Barack Obama dan Bernie Sanders. Bahkan, Presiden AS Donald Trump juga menggunakan ruang digital guna mengambil alih perhatian – meski kerap menimbulkan kontroversi.

Penggunaan ruang digital seperti ini juga tengah digunakan oleh para outsiders di Indonesia. Dengan  pengguna internet yang terus tumbuh, tidak dapat dipungkiri politisi akan menggunakan media  guna memperkuat momentum politik.

Media sosial Twitter, misalnya, digunakan untuk berkomunikasi dengan konstituen masing-masing. Andrea Harrera dalam salah satu tulisannya menjelaskan bahwa outsiders seperti Ganjar dan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menggunakan media sosial layaknya fungsi media massa.

Selain itu, bukan tidak mungkin kemunculan Ganjar sebagai outsider yang menjanjikan disebabkan oleh momentum politik di tengah pandemi Covid-19. Pasalnya, tidak dapat dipungkiri bahwa sejumlah kepala daerah lebih mendapatkan perhatian (spotlight).

Gubernur New York Andrew Cuomo, misalnya, dinilai dapat “memanjat” ke panggung politik nasional. Asumsi ini didasarkan pada perhatian yang meningkat tajam perihal penanganan pandemi Covid-19.

Ganjar pun bisa jadi mendapatkan momentum serupa. Pasalnya, secara konstan, Gubernur Jateng itu juga menaruh perhatian besar terhadap penanganan pandemi Covid-19.

Lawan Puan?

Meski begitu, perhatian besar ini bisa jadi didapatkan dari komunikasi para outsider ini. Jokowi yang juga kerap dianggap sebagai outsider, misalnya, dinilai dapat menonjol akibat gaya komunikasinya yang dikenal sebagai blusukan.

Namun, kemunculan Ganjar sebagai outsider ini bisa saja mengalami hambatan. Pasalnya, bila membandingkan dengan fenomena Jokowi di masa lampau, kalangan kekuatan politik lama (insiders) bisa jadi merasa terganggu akibat munculnya para outsiders ini.

Marcus Mietzner dalam bukunya yang berjudul Reinventing Asian Populism menjelaskan bahwa fenomena Jokowi membuat para insiders merasa terancam dan menganggapnya sebagai politikus panjat sosial (pansos). Hal ini bisa saja membuat para insiders melakukan manuver politis tertentu guna menghalau outsiders.

Tantangan bagi Ganjar ini bisa jadi muncul dari Ketua DPR RI Puan Maharani – putri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri – yang disebut-sebut tengah mempersiapkan diri dan dipersiapkan untuk maju dalam Pilpres 2024. Sejalan dengan asumsi ini, Mietzner dalam podcast Talking Indonesia menyebutkan bahwa Puan bisa menjadi harapan bagi kembali bangkitnya dinasti politik Soekarno.

Namun, di luar dinamika politik outsider-vs-insider, bukan tidak mungkin Ganjar akan menghadapi dinamika politik lain, yakni kekuatan asing. Lantas, apakah mungkin ada kekuatan asing yang bisa memengaruhi kemungkinan Ganjar dalam pertarungan politik di masa mendatang?

Interferensi Asing?

Dinamika politik domestik sebenarnya kerap kali tidak lepas dari perebutan pengaruh politik di tingkat internasional. Bahkan, interferensi atau campur tangan asing ini dapat memengaruhi pertarungan elektoral suatu negara.

Damien D. Cheong, Stephanie Neubronner, dan Kumar Ramakrishna dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) dalam tulisan mereka yang berjudul Foreign Interference in Domestic Politics menjelaskan bahwa campur tangan asing dilakukan oleh kekuatan-kekuatan negara lain guna memenuhi kepentingan mereka.

Bahkan, tidak jarang kekuatan-kekuatan asing ini melalukan kultivasi terhadap politisi lokal. Kultivasi ini kadang dilakukan dengan membangun jaringan personal dan pertemanan (friendship).

Pembangunan jaringan politisi oleh kekuatan asing ini bisa jadi pernah terjadi di Indonesia di masa lampau. Pada tahun 1965, misalnya, Soeharto disebut membangun kerja sama dengan Central Intelligence Agency (CIA) guna menghalau Partai Komunis Indonesia (PKI).

Selain kultivasi ini, campur tangan asing dapat juga terjadi dalam pertarungan politik Pemilu. Kasus ini disebut-sebut terjadi dalam Pemilu AS 2016 dan Pemilu Prancis 2017.

Isu campur tangan asing dalam Pemilu di Indonesia juga pernah muncul di Pilpres 2019 lalu. Isu ini sempat dilontarkan oleh salah satu pihak yang bersaing dengan menyebutkan adanya peran negara melalui pesan-pesan propaganda.

Namun, kemungkinan seperti ini sulit dibuktikan – mengingat sifat campur tangannya yang kerap bersifat rahasia (covert). Meski begitu, bukan tidak mungkin dinamika politik seperti ini, baik domestik maupun asing, dapat memengaruhi kemungkinan Ganjar pada tahun 2024 mendatang – entah pihak siapa yang akan mendukungnya. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait