Dengarkan artikel ini:
Presiden Prabowo Subianto dikenal dengan kebiasaannya meminum kopi hitam. Apa sebenarnya filosofi kopi ala Prabowo?
“Mereka sudah tahu, kalau Prabowo Subianto ada kopi, dia bicaranya 3,5 jam. Satu cangkir 3,5 jam, kalau dua cangkir 7 jam” – Prabowo Subianto, Presiden ke-8 RI
Cupin duduk menyimak pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto lewat layar televisi di ruang tamu kecilnya. Di antara kalimat-kalimat tegas dan jeda dramatis, mata Cupin terpaku pada satu detail yang muncul di layar: secangkir kopi hitam yang sesekali diangkat Prabowo sebelum melanjutkan pidatonya.
Bukan pertama kalinya Cupin melihat kebiasaan itu. Ia ingat, bahkan saat debat calon presiden atau kunjungan ke markas militer, Prabowo hampir selalu ditemani secangkir kopi hitam, tanpa gula, tanpa susu, hanya pahit dan pekat.
Menurut ajudan yang pernah diwawancarai media, kopi hitam bukan sekadar minuman bagi Prabowo. Ia menyebutnya sebagai “teman berpikir” yang membantu Presiden tetap fokus dan tahan banting dalam menghadapi tekanan politik.
Cupin memiringkan kepalanya, mencoba membayangkan betapa kopi itu menjadi bagian dari ritme kerja sang presiden. Mungkin di balik keheningan ruang kerja, aroma robusta dari gelas porselen itu jadi saksi bagi keputusan-keputusan besar yang akan memengaruhi jutaan rakyat.
Namun, kebiasaan itu juga membuat Cupin bertanya-tanya. Mengapa Prabowo begitu suka minum kopi hitam? Mungkinkah ini bukan sekadar soal selera, melainkan simbol dari watak pemerintahannya nanti—pekat, lugas, dan tak diberi pemanis?
Selera Makanan Presiden: Sebuah Idiosinkrasi?
Cupin menyantap mi rebus sembari memperhatikan pidato kenegaraan Presiden Prabowo. Tatapannya sesekali berpindah dari layar ke cangkir kopi hitam yang Prabowo genggam erat—tanpa gula, tanpa susu, hitam dan tegas.
Di sela siaran, Cupin teringat sebuah tulisan akademis yang pernah ia baca. Dalam How What You Eat Reveals Your Personality oleh Ioannis Tsartsapakis dan Aglaia Zafeiroudi, disebutkan bahwa selera makan mencerminkan lima aspek utama kepribadian manusia, termasuk disiplin dan kestabilan emosi.
Ia juga membaca dalam tulisan Michał Folwarczny berjudul Plate, Glass, and Social Class bahwa orang dengan orientasi dominasi lebih memilih makanan atau minuman yang memberi kesan kuat, seperti daging merah atau kopi pahit. Menurutnya, selera seperti itu menggambarkan pemimpin yang berwatak tegas, ingin menunjukkan otoritas, dan tidak segan tampil keras.
Tak berhenti di situ, Cupin juga teringat tulisan Nutrition and Cognitive Performance in Executive Leadership oleh Anderson dan Protein Intake Patterns and Cognitive Flexibility in Executive Leadership oleh Richardson dan Thompson. Di sana dijelaskan bahwa pola makan sehat dan teratur membantu pemimpin mengambil keputusan secara efektif dan beradaptasi dalam tekanan tinggi.
Yang lebih menarik perhatian Cupin adalah tulisan Andrey Shcherbak berjudul How Food Affects Political Regimes, yang menunjukkan bahwa pola konsumsi makanan bisa berhubungan dengan kecenderungan nilai demokrasi dan perubahan politik. Bahkan, menurut tulisan dari University of Pennsylvania berjudul Political Appetites, selera makan juga dapat menjadi strategi komunikasi politik dan pencitraan pemimpin.
Cupin menyesap sisa kuah mi-nya dan memandangi Prabowo yang kini menutup pidatonya dengan nada berat. Lantas, bagaimana sifat Presiden Prabowo bila dilihat dari selera makanan dan minumannya? Mungkinkah ini sejalan dengan kebijakan-kebijakannya selama ini?
Filosofi Kopi Prabowo: Tanda Tegas?
Cupin sedang duduk di warung pecel langganannya ketika sebuah video YouTube dari channel PinterPolitik TV diputar di layar televisi kecil di sudut ruangan. Judulnya langsung membuatnya menoleh: “Resep Politik: Turun-temurun dari Soekarno ke Megawati-Jokowi”—dan Cupin pun terpaku sejak detik pertama.
Ia melihat Soekarno yang gemar makan tempe bacem dan pecel, tampak begitu dekat dengan akar budaya dan rakyat. Tak heran bila kebijakannya menekankan kedaulatan pangan dan budaya sebagai fondasi nasionalisme.
Sementara, Soeharto lebih memilih tahu, tempe, dan semur lidah—selera yang sederhana namun konservatif. Gaya kepemimpinannya pun mencerminkan stabilitas dan pembangunan ekonomi berorientasi produksi pangan lokal.
BJ Habibie punya selera yang sedikit berbeda, yaitu makanan khas Makassar berbahan dasar ikan dan kue-kue tradisional. Baginya, makanan adalah cermin teknokrasi yang tetap berakar budaya, sebagaimana kebijakan teknologinya yang tetap menghargai nilai-nilai lokal.
Joko Widodo tampil sederhana, dengan menu seperti sate buntel dan soto Solo. Citra kepemimpinan yang merakyat, pragmatis, dan pro-rakyat pun makin kuat berkat kesederhanaan itu.
Lalu muncullah Prabowo Subianto dengan kopi hitam Hambalang, nasi goreng, terong balado, dan gado-gado. Cupin memperhatikan bahwa tak seperti pemimpin lain yang konsisten dalam satu pola, Prabowo memadukan makanan tradisional yang merakyat dengan minuman khas yang kompleks—seolah memadukan kedekatan dengan rakyat dan karakter yang sulit ditebak.
Di tengah kekhusyukan menatap layar, Cupin membatin. Mungkinkah dari selera makan saja kita bisa menebak arah kebijakan seorang presiden? Atau justru, di balik racikan kopi itu, tersimpan rahasia tentang wajah pemerintahan yang akan datang—tenang, kuat, tapi penuh kejutan? (A43)
