Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Bencana NTT-NTB dan Kohesi Partai Politik

Bencana NTT-NTB dan Kohesi Partai Politik

Seri pemikiran Francis Fukuyama #40

R53 - Wednesday, April 7, 2021 17:28
Banjir bandang di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) (Foto: iNews.ID)

0 min read

Berbagai partai politik kembali menunjukkan kekompakan dalam membantu korban yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di NTB dan NTT. Tentu ada yang menyebut langkah tersebut memiliki motif untuk mendulang simpati masyarakat. Mungkin itu benar, tapi itulah salah satu cara kerja tatanan sosial.


PinterPolitik.com

“Banyak orang secara intuitif percaya bahwa kapitalisme itu buruk bagi kehidupan moral” – Francis Fukuyama, dalam buku The Great Disruption: Hakikat Manusia dan Rekonstitusi Tatanan Sosial

Kamis, 1 April, hujan deras memicu terjadinya banjir di 29 desa di empat kecamatan, yaitu Madapangga (6 desa), Bolo (8 desa), Woha Desa Naru (8 desa), dan Monta (7 desa), di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tidak berselang lama, pada Minggu dini hari, 4 April, banjir bandang terjadi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tidak hanya banjir, di hari yang sama bencana tanah longsor juga terjadi dan mengakibatkan puluhan korban jiwa di Pulau Adonara, NTT.

Tidak hanya menjadi perhatian media nasional, berbagai media asing juga memberi perhatian atas bencana yang terjadi. The Asahi Shimbun, media asal Jepang, misalnya, pada hari ini memberi update terkait jumlah korban jiwa yang telah menyentuh angka 119 jiwa, dan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang.

Seperti yang terjadi ketika bencana menerjang, berbagai partai politik kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap para korban yang terdampak bencana. Berbagai petinggi partai juga terlihat memberikan instruksi terbuka kepada kadernya untuk membantu, serta mengirim tim ke lokasi bencana.

Sampai saat ini, setidaknya sudah ada empat petinggi parpol yang menyampaikan instruksi terbuka. Mulai dari Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR Edhie Baskoro Yudhoyono, hingga Ketua Fraksi PKS di DPR Jazuli Juwaini.

Baca Juga: PKS-Demokrat Bersinar Di Tengah Corona

Jika menggunakan perspektif politik realis, khususnya dalam kacamata Niccolo Machiavelli dalam buku Il Principe, mudah menyimpulkan instruksi dan aksi berbagai parpol tersebut memiliki tujuan politik tertentu. Benarkah demikian?

Demi Simpati Masyarakat?

Terkait dugaan kepentingan terselubung, ada berbagai jawaban yang dapat digunakan, misalnya untuk membangun citra positif dan mendulang simpati masyarakat.

Alejandro Quiroz Flores dalam tulisannya Indonesia’s Disaster Politics menyebut bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan lain sebagainya tidak hanya memberikan kerusakan fisik ataupun ekonomi, namun juga dapat merusak institusi demokrasi – dapat memberikan kerusakan secara politik.

Menurut Flores, bencana alam yang memberikan daya rusak yang besar, apabila tidak dapat ditanggulangi dengan baik oleh pemerintah, akan dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Imbasnya, ini dapat menjadi preseden buruk seperti mendiskreditkan institusi demokrasi.

Flores mencontohkan gempa bumi di Haiti, Karibia, pada 2010. Saat itu, pemerintah Haiti yang tidak mampu menyediakan bantuan secara memadai mengakibatkan terjadinya penjarahan massal dan sebagian besar masyarakat mendiskreditkan institusi demokrasi.

Baca Juga: Banjir Jakarta, Antara Anies dan Soeharto

Sebaliknya, jika bencana ditangani dengan baik atau masyarakat merasakan kehadiran bantuan, persepsi positif tentunya akan terbangun. Rasionalisasi tersebut dengan mudah dapat kita gunakan untuk melihat instruksi dan aksi berbagai parpol dalam merespons bencana yang terjadi di NTB dan NTT.

Francis Fukuyama dalam bukunya The Origin of Political Order: From Prehuman Times to the French Revolution, dengan mengutip Aristoteles menyebut manusia secara alamiah berpolitik (political by nature), dan kapasitas alamiah tersebut memungkinkan manusia untuk berkembang di tengah masyarakat.

Menariknya, Fukuyama menggunakan temuan biologi dan antropologi modern untuk mendukung hipotesis tersebut. Dalam berbagai temuan, tidak pernah ada periode dalam evolusi, di mana manusia hidup sebagai individu yang terisolasi.

Itu membuat Fukuyama membantah asumsi Thomas Hobbes bahwa manusia adalah makhluk individualistis, namun tampaknya setuju pada bayangan Hobbes yang menyebutkan manusia secara alami adalah individu egois. Lantas, mengapa dalam sejarahnya manusia selalu berkelompok dan berpolitik?

Untuk menjawabnya, Fukuyama mengutip temuan biologi evolusioner yang menjelaskan soal kin selection dan reciprocal altruism. Kin selection adalah mekanisme memberikan perhatian dan bantuan karena adanya faktor kekerabatan. Tepatnya faktor kedekatan gen.

Sementara reciprocal altruism adalah penjelasan mengapa manusia melakukan kerja sama dengan mereka yang merupakan bukan anggota keluarganya. Dalam hipotesisnya, manusia melakukan kerja sama seperti itu bukan karena mereka memang altruis, melainkan karena manusia egois. Individu menilai pekerjaannya akan lebih mudah apabila melakukan kerja sama dan saling membantu.

Nah, bertolak dari postulat Fukuyama bahwa kondisi alamiah manusia adalah makhluk egois dan makhluk politik, ini adalah afirmasi tegas atas dugaan yang menyebutkan instruksi dan aksi berbagai parpol di kasus-kasus bencana memiliki motif untuk kepentingan diri mereka sendiri, seperti meraih simpati masyarakat.

Kebaikan Pasar

Sebelum adanya temuan-temuan biologi evolusioner yang digunakan Fukuyama dalam menjelaskan kerja sama masyarakat yang menariknya terbentuk karena faktor egoisitas, Adam Smith dalam bukunya The Wealth of Nations telah lama memberi penjelasan serupa.

Dalam buku yang terbit pada tahun 1776 itu, ada satu kalimat yang kerap dikutip dan dinilai menggambarkan mekanisme pasar bebas (sekarang disebut kapitalisme) yang dibayangkan Smith.

It is not from the benevolence of the butcher, the brewer, or the baker, that we expect our dinner, but from their regard to their own interest.” Artinya, “Bukan karena kebaikan hati si tukang daging, pembuat bir, atau tukang roti, yang menyediakan makan malam kita, melainkan karena perhatian mereka pada kepentingan diri mereka sendiri.”

Maksudnya, makan malam yang kita nikmati di malam hari, ataupun barang-barang berkualitas yang kita beli, bukan tersedia karena para pedagang memiliki hati yang baik untuk memenuhi kebutuhan kita, melainkan karena mereka egois, sehingga mereka menyediakan barang dan jasa yang berkualitas.

Dalam bayangan Smith, pasar bebas nantinya akan mencapai titik keseimbangan atau pasar sempurna, yang memberikan kesejahteraan bagi setiap pihak. Ada mekanisme kompetisi yang membuat aktor-aktor ekonomi harus terus meningkatkan daya saing produknya agar konsumen tertarik dan membeli, sehingga mereka akan memperoleh kekayaan.

Rasionalisasi tersebut persis sama dengan temuan biologi evolusioner yang menjelaskan perilaku kerja sama manusia, khususnya dalam reciprocal altruism.

Dalam buku The Great Disruption: Hakikat Manusia dan Rekonstitusi Tatanan Sosial, Fukuyama juga menyinggung pertalian atau hubungan antara kapitalisme dengan social capital. Social capital, secara sederhana dapat dimaknai sebagai sekumpulan nilai atau norma yang memungkinkan masyarakat dalam melakukan kerja sama.

Pertanyaan Fukuyama, mengacu pada kapitalisme yang bekerja di atas egoisitas, apakah kapitalisme dapat menghancurkan social capital?

Menariknya, Fukuyama memang mengakui kapitalisme dapat menghancurkan nilai, norma, dan perilaku moral, namun pada perkembangannya, kapitalisme senantiasa memproduksi nilai-nilai baru. Saat ini, di tengah ekonomi kapitalis modern, Fukuyama menilai social capital atau kepercayaan adalah sesuatu yang dibutuhkan untuk menunjang cara kerja pasar.

Kembali pada instruksi dan aksi parpol terkait bencana di NTB dan NTT, tentu kita dapat menariknya dalam lanskap yang lebih besar, bahwa itu adalah mekanisme pasar atau kapitalisme. Karena pada akhirnya, partai mengejar kekuasaan dan kekuatan kapital.

Baca Juga: Safari Airlangga Sinyal Tiga Poros di 2024?

Bantuan-bantuan pada kasus-kasus bencana, seperti dalam asumsi Smith, datang dari rasionalisasi untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri.

Well, perlu untuk digarisbawahi, tulisan ini tidak memberikan penilaian negatif terhadap kepedulian berbagai parpol atas kasus bencana, melainkan sekelumit analis dalam tulisan ini adalah penjelasan netral atau bebas nilai, bahwa seperti itulah cara kerjanya.

Akan tetapi, apabila kita tidak menggunakan kacamata politik realis, di mana perilaku altruis masih dipercaya dan dilepaskan dari egoisitas, bantuan parpol dalam berbagai bencana dapat dipahami sebagai bentuk dari kemurahan hati manusia. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait