Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Amien Rais Mulai Redup?

Amien Rais Mulai Redup?


B68 - Thursday, October 14, 2021 19:00
Ketua Majelis Syuro Partai Ummat Amien Rais berbicara dalam sebuah video bertajuk Harapan Ummat yang diunggah ke akun YouTube miliknya. (Foto: YouTube/Amien Rais Official)

0 min read

Akhir-akhir ini, Partai Ummat yang dibentuk oleh Amien Rais menyaksikan banyak anggotanya keluar. Mereka yang keluar dari partai tersebut berasal dari jajaran pimpinan di pusat dan pengurus di daerah. Apakah ini menjadi penunjuk semakin redupnya kekuatan politik Amien Rais?


PinterPolitik.com

Kehadiran Partai Ummat ditujukan untuk melawan kekuatan-kekuatan oligarki di Indonesia. Begitulah yang dikatakan oleh Amien Rais dan rekan-rekannya ketika menjauhkan diri dari Partai Amanat Nasional (PAN) yang ditinggalkan oleh mereka. Menariknya, Partai Ummat saat ini berhadapan dengan suatu permasalahan yang diakibatkan oleh sikap elitisme para petingginya – suatu sikap yang ditentang oleh pendiri-pendirinya.

Baru-baru ini, Partai Ummat diguncang oleh mundurnya beberapa individu yang sebelumnya menduduki jabatan-jabatan tinggi di partai tersebut. Mulai dari Agung Mozin hingga 26 pengurus di Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Partai Ummat di Depok, mereka secara ramai-ramai keluar akibat perkara elitisme yang berkembang di partai tersebut. Pengecualian dapat kita berikan kepada Neno Warisman yang keluar karena alasan pribadi untuk mengurus keluarganya.

Kendati adanya pendapat yang melihat fenomena tersebut sebagai suatu hal yang baik untuk Partai Ummat, terdapat sisi negatif dari mundurnya kader-kader Partai Ummat. Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Ujang Komarudin mengatakan bahwa tumbuh-kembangnya elitisme di partai membuat risih beberapa pihak yang selama ini sudah berjuang untuk Partai Ummat. Hal tersebut membahayakan Partai Ummat karena mengancam persatuannya bahkan sebelum mereka berhadapan dengan pemilihan umum (Pemilu) selanjutnya.

Permasalahan yang dihadapi oleh Partai Ummat saat ini menunjukkan suatu paradoks yang menarik. Perpecahan yang ada terjadi dalam tubuh partai yang dibentuk oleh seorang politisi ulung yang sempat membesarkan PAN dan mengatasi konflik-konflik kepartaian yang sewaktu-waktu mengancam keberadaannya.

Ujang juga mengatakan bahwa Amien memiliki pengalaman dalam menjalankan fungsi manajemen konflik partai. Namun, perpecahan internal yang sedang bergolak menjadikan pandangan Ujang patut dipertanyakan.

Demikian, kita dapat mengajukan setidaknya dua pertanyaan. Pertama, mengapa kader-kader Partai Ummat memutuskan untuk keluar dari partai tersebut? Kemudian, apakah kekuatan politik Amien semakin redup? Jawaban terhadap dua pertanyaan tersebut berkaitan dengan keberlangsungan karier politik Amien sebagai salah satu tokoh penggerak reformasi yang pernah tenar dan disegani sebelumnya.

Mengenal (Kembali) Amien Rais

Berbicara tentang Partai Ummat, kita tidak dapat melepaskan diri dari sosok Amien Rais. Kemudian, kita juga tidak dapat melepaskan diri dari tindakan-tindakannya selama berkarier sebagai salah satu politisi yang dipandang di Indonesia – baik selama terjadinya Reformasi maupun ketika menjabat sebagai petinggi partai di PAN.

Baca Juga: Misi Tersembunyi Amien Rais?

Partai Ummat Senjata Pamungkas Amien

Amien merupakan salah satu sosok penggerak Reformasi yang penting. Meskipun beberapa pihak menuduhnya sebagai penunggang demonstrasi mahasiswa yang terjadi, kita tidak dapat meremehkan kontribusinya dalam memberikan legitimasi kepada gerakan reformasi dan tuntutan-tuntutannya.

Kehadirannya sebagai sosok akademisi yang terhormat memperkuat gerakan reformasi di hadapan rezim Orde Baru (Orba) yang kekuatannya sedang memudar. Untuk menghormati perannya dalam gerakan tersebut, beberapa pihak menyematkan panggilan “Bapak Reformasi” kepada Amien.

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra dalam salah satu wawancaranya mengatakan bahwa Amien telah menyuarakan kritiknya terhadap Orba sebelum mahasiswa berdemonstrasi. Tidak hanya itu, Yusril juga mengungkapkan bahwa Amien memiliki kekuatan untuk menggerakkan massa demonstrasi ke lokasi-lokasi penting di Jakarta.

Bahkan, Amien sudah berniat membawa massa ke Taman Monumen Nasional (Monas) di Jakarta pada saat terjadinya gerakan Reformasi. Hal tersbut dicegah oleh Yusril dan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Prabowo Subianto karena dasar keselamatan para demonstran.

Sesudah lengsernya Presiden Soeharto dan berakhirnya Orba, Amien terlibat dalam kegiatan amendemen Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai ketua Majelis Perwakilan Rakyat (MPR). Kemudian, beliau juga mendirikan PAN yang berhasil membangun poros politik Islam dengan partai-partai lainnya seperti Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Poros tersebut berhasil mendudukkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri sebagai presiden dan wakil presiden (wapres). Dengan prestasi-prestasi seperti itu, tidak berlebihan apabila beberapa pihak menganggap Amien sudah sangat berpengalaman – terutama dalam mengatasi dan mengatur konflik-konflik yang ada di dalam politik Indonesia dan PAN.

Elitisme di Partai Anti-Elit

Kehadiran Partai Ummat tidak lepas dari konflik internal di PAN yang melibatkan Amien Rais. Pembentukan partai tersebut menyusul keluarganya Amien dari PAN ketika pengaruhnya di situ sudah mulai memudar. Hal tersebut terlihat dari keputusan PAN untuk memilih Zulkifli Hasan (Zulhas) sebagai ketua umum (ketum) dan bukan Mulfachri Harahap dalam kongresnya yang diadakan pada tahun 2020 silam.

Padahal, Amien mendukung Mulfachri untuk maju sebagai ketum partai. Kalahnya Mulfachri memperlihatkan kepada umum bahwa suara Amien sebenarnya sudah meredup.

Baca Juga: Petualangan Amien Rais “Tiru” Sherina?

Ketika sudah terbentuk, Amien menggambarkan Partai Ummat sebagai pilihan alternatif dari PAN yang sudah mulai merapat ke barisan oligarkis pemerintah. Dalam salah satu wawancaranya, Amien mengatakan bahwa dirinya risih dengan sikap para petinggi PAN yang memutuskan untuk bergabung dengan pemerintah untuk memperoleh keuntungan finansial dari penempatan kader-kadernya di jajaran menteri.

Dalam kasus ini, Amien memercayai bahwa sikap politik yang ideal bagi PAN adalah beroposisi. Untuk beroposisi, sebuah partai membutuhkan elektabilitas dan kekuatan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dapat dipertimbangkan.

Berbeda dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ketika beroposisi sepanjang tahun 2004-2014, PAN tidak memiliki elektabilitas dan kekuatan di DPR yang kuat. Dalam titik terendahnya pada tahun 2009, PDIP berhasil meraup 94 kursi; sementara, PAN kini hanya menguasai 44 kursi.

Wajar saja apabila PAN di bawah kepemimpinan Zulhas memutuskan untuk bergabung dengan koalisi pemerintah. Apalagi, elektabilitas PAN terlihat naik setelah mereka memutuskan untuk bergabung dengan koalisi pemerintah. Lembaga Arus Survei Indonesia (ASI) menemukan bahwa PAN kini mencetak skor elektabilitas sebesar 6,1 persen – mengalahkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Menariknya, sebagai partai yang menggambarkan dirinya sebagai pihak yang akan melawan oligarki, Partai Ummat sepertinya terjebak dalam masalah serupa. Meskipun sejauh ini Amien dan beberapa pimpinannya menekankan bahwa keadaan sedang baik-baik saja, kita tidak dapat menutup mata terhadap ketidaknyamanan yang berkembang di kalangan anggota Partai Ummat terhadap sikap elitisme para petingginya.

Tokoh penting yang memutuskan untuk mundur pertama kali adalah Agung Mozin – seorang loyalis lama Amien. Pada bulan Agustus silam, beliau memutuskan untuk mundur dari kepengurusan Partai Ummat karena sikap elitisme para petingginya.

Beliau mengatakan bahwa persebaran informasi dan komunikasi yang terjadi di dalam Partai Ummat sangatlah elitis. Tidak hanya itu, Agung juga menyayangkan sikap petinggi Partai Ummat yang kurang mempertimbangkan aspirasi kader-kadernya di daerah.

Baca Juga: Ketika Amien Rais ‘Ancam’ PKS

Kader Partai Ummat Berguguran

Seolah-olah membenarkan pernyataan Agung, sebanyak 26 pengurus DPD Partai Ummat Depok mengundurkan diri. Alasan di balik pengunduran diri mereka adalah kekecewaan yang diakibatkan oleh sikap DPP partai yang kurang menghargai keterlibatan mereka dalam pembentukan partai.

Wakil Ketua DPD Partai Ummat Depok Syahrial Chan mengatakan bahwa pihaknya merasa hanya dimanfaatkan oleh DPP. Setelah Partai Ummat diresmikan, DPP berencana untuk menggabungkan beberapa kelompok yang dianggap tidak memiliki andil dalam proses pembentukan partai. Keputusan itu mengecewakan banyak anggotanya.

Fenomena tersebut selaras dengan pandangan Akademisi Universitas Indonesia Profesor Valina Singka Subekti. Dalam jurnalnya yang berjudul Prolonged Elite Conflict and the Destruction of the Indonesian Islamic Union Party (PSII), beliau mengatakan bahwa konflik internal partai dapat disebabkan oleh ketidakmampuan para elite mengatasi beberapa hal. Salah satunya adalah sentralisasi yang terlalu kuat.

Dalam kasus Partai Ummat, elite-elite yang ada di DPP – termasuk Amien Rais – tidak dapat mencetak sebuah kompromi perihal pembagian kekuasaan dengan elite-elite partai yang ada di tingkat daerah. Hal tersebut berakhir dengan keluarnya 26 pengurus DPD Partai Ummat di Depok.

Konflik internal di Partai Ummat dan keputusan beberapa pengurusnya di tingkat daerah untuk mundur menandakan bahwa aktor-aktor di Partai Ummat tidak dapat membangun hubungan antar-elit yang baik. Padahal, berdasarkan teori elite milik Profesor dari University of Texas yang bernama John Higley, elite di lembaga-lembaga dalam lingkungan demokratis harus berkonsensus dan bersatu agar lembaganya dapat berjalan. Partai Ummat jelas-jelas tidak dapat melakukan itu.

Demikian, Amien sekarang menyimpan segudang kegagalan – mulai dari ketidakmampuan untuk mempertahankan kekuasaannya di PAN hingga membangun hubungan elite yang baik di Partai Ummat. Hal tersebut membuat kita bertanya-tanya apakah sudah waktunya Amien Rais “pensiun”.

Apakah sudah waktunya beliau beristirahat dengan tenang sebagai “Bapak Reformasi” Indonesia? Ataukah semua ini hanya merupakan kemunduran sementara dalam karier politik Amien yang masih panjang? (B68)

Baca Juga: Amien Rais Sudah Selesai?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait