Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Ali Kalora dan Catatan Terorisme Poso

Ali Kalora dan Catatan Terorisme Poso


B68 - Wednesday, September 22, 2021 17:00
Anggota Satgas Madago Raya berjaga-jaga di Desa Masani, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. (Foto: Istimewa)

0 min read

Pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora tewas di tangan Satuan Tugas (Satgas) Madago Raya. Ini menandakan kesuksesan Satgas tersebut yang sebelumnya telah membunuh Santoso. Dari konflik ini, pemerintah Indonesia dapat memetik banyak pelajaran tentang terorisme di Indonesia dan penanggulangannya.


PinterPolitik.com

Pada tanggal 18 September lalu, Satuan Tugas (Satgas) Madago Raya berhasil membunuh dua anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Salah satu orang yang terbunuh adalah Ali Kalora yang memimpin MIT sejak tertangkapnya Basri alias Bagong yang sempat menjadi pimpinan kelompok tersebut. Pengangkatannya juga terjadi pada tahun yang sama ketika Santoso terbunuh dalam sergapan aparat keamanan yang pada saat itu masih tergabung dalam Satgas Tinombala.

Pembunuhannya di Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah membawa angin segar kepada Satgas Madago Raya yang berhadapan dengan harapan pemerintah dan masyarakat untuk menghasilkan perkembangan yang signifikan. Kabar ini juga menyegarkan pikiran masyarakat setempat yang selama ini hidup di bawah bayang-bayang kekejaman MIT yang tidak jarang melakukan tindakan keji seperti pembunuhan terhadap warga sipil.

Hilangnya nyawa satu lagi pentolan teror di Indonesia mengundang kita untuk menelisik kembali pengalaman kita dengan terorisme dan kelompok-kelompok teror. Kehadiran mereka sering kali digadang-gadang sebagai akibat dari pemahaman agama yang kaku.

Baca Juga: Terorisme Sigi, Jokowi Terjebak Pseudopluralisme?

Namun, apakah benar demikian? Kemudian, kita juga dapat bertanya, mengapa pihak-pihak tersebut muncul di saat pertama? Terakhir, bagaimana pemerintah akhirnya mengatasi ancaman dari mereka?

Bukan Sekadar Perkara Agama

Seperti di banyak negara lainnya, terorisme di Indonesia sering kali dikaitkan dengan pandangan agama tertentu. Penafsiran sempit terhadap suatu agama dianggap sebagai akar dari radikalisme dan tindakan-tindakan teror yang mengikutinya.

Namun, penelitian yang mendalam menemukan bahwa hal tersebut bukanlah satu-satunya faktor. Studi yang dilakukan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia bahkan tidak menjadikan hal tersebut sebagai faktor yang independen.

Studi tersebut menemukan bahwa pemahaman agama yang sempit baru akan muncul ketika seorang individu mencari jati dirinya. Pencarian tersebut dapat membawanya ke kelompok-kelompok radikal yang menginternalisasi pandangan-pandangan keagamaan yang radikal ke dalam dirinya dan memperkuat pandangan-pandangan itu seiring berjalannya waktu. Penemuan ini menunjukkan bahwa pengalaman seseorang dengan agama yang dianutnya lebih berdampak terhadap kemunculan radikalisme dan terorisme di banding agamanya itu sendiri.

Lebih lanjut, akademisi Universitas Islam Negeri Muhammad Harfin Zuhdi mengatakan bahwa radikalisme yang menjamur di dunia Islam tidak muncul secara tiba-tiba. Kehadirannya dilatarbelakangi faktor sosio-politik, ekonomi, dan budaya tertentu yang dianggap merugikan orang-orang Muslim. Ketidakmampuannya untuk menempatkan diri sebagai kelompok yang berkekuatan setara dengan kelompok-kelompok lainnya – seperti di kehidupan ekonomi – memunculkan frustrasi yang kemudian diwujudkan dalam sikap-sikap kekerasan.

Pendapat tersebut kembali memperkuat anggapan bahwa pandangan radikalisme dan sikap terorisme bukanlah keadaan bawaan sehingga agama sebagai unsur primordial yang sudah ada dari masa lampau tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Kemudian, hal tersebut juga menunjukkan bahwa pencegahan dan pemberantasan terorisme sangat bergantung kepada kemampuan pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi faktor-faktor sosio-politik, ekonomi, dan budaya yang meliputi kemunculannya.

Permasalahan Sektarian Poso

Konflik berdasarkan keagamaan bukanlah suatu hal yang baru di Poso. Pertikaian antarkelompok berdasarkan garis pemisah keagamaan sudah terjadi sejak tahun 1998. Konflik komunal yang pada saat itu melibatkan pemuda-pemuda dari agama yang berbeda, yaitu Kristen dan Islam memunculkan sentimen yang negatif terhadap sesamanya. Tumbuh kembangnya sentimen berbasis keagamaan ini dibantu dengan waktu perayaan Ramadan dan Natal yang terjadi secara bersamaan.

Jejak kekerasan tidak berhenti di situ. Antara bulan Mei hingga April 2000, terjadi aksi saling membalas antara dua kelompok agama yang telah disinggung ketika sekelompok pemuda Muslim mengaku diserang oleh pemuda-pemuda yang beragama Kristen. Konflik ini menyebabkan aparat kepolisian menerjunkan Brigade Mobil (Brimob) yang memiliki kemampuan untuk mengatasi konflik-konflik di ranah sipil yang melibatkan kekerasan berskala massal.

Baca Juga: Patriarki: Dalang Keterlibatan Perempuan dalam Terorisme?

Meskipun konflik sosial yang sebelumnya terjadi sudah diredakan oleh penerbitan Deklarasi Damai Malino pada tahun 2001 silam, perdamaian belum sepenuhnya terwujud di Poso. Operasi-operasi aparat keamanan untuk memerangi elemen-elemen yang berpotensi merusak kemajuan dalam upaya perdamaian komunal terus berlanjut dari tahun 2004 hingga kini. Tindakan-tindakan tersebut melibatkan elemen dari kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Permasalahan sosial yang bernuansa keagamaan ini yang dimanfaatkan oleh MIT dan anggota-anggotanya. Konfrontasi-konfrontasi antar dua umat beragama diposisikan sebagai isu yang membenarkan suatu konflik antara diri mereka dan beberapa elemen masyarakat setempat. Hal ini juga dimanfaatkan sebagai bahan rekrutmen untuk menarik orang-orang dari luar wilayah Poso untuk bergabung menjadi serdadu di MIT.

Salah satu dari orang-orang yang dimaksud adalah Santoso. Pada tahun 1999, beliau menjadi tersangka penembakan mobil pengangkut barang di Sausu, Sulawesi Tengah.

Dalam kejadian tersebut, sopir kendaraan yang ditembak tewas dan barang-barangnya dirampas. Salah satu motivasi yang terdeteksi di balik aksi tersebut adalah kebutuhan Santoso untuk membeli senjata yang nantinya akan digunakan untuk melindungi warga Muslim yang berada di tengah masyarakat beragama lain. Hal tersebut menunjukkan adanya kesinambungan kognitif dengan konflik sektarian yang sempat terjadi.

Mengatasi Terorisme di Poso

Pencapaian Satgas Madago Raya dalam upayanya memerangi unsur-unsur teroris di Poso mendapatkan penghargaan dari beberapa pihak. Pengamat Terorisme Universitas Indonesia Ridwan Habib mengatakan bahwa operasi di Poso merupakan contoh keberhasilan kerja sama polisi-militer yang harapannya dapat menjadi role model penanganan terorisme di Indonesia.

Kerja sama tersebut menjadi penting dalam rangka mengupayakan kontra-terorisme. Menurut Dosen Universitas Indonesia Ali Abdullah Wibisono, kontra-terorisme sendiri adalah tanggapan agresif negara terhadap terorisme. Lebih lanjut, Akademisi University of Massachussets menyebutkan bahwa kontra-terorisme terdiri dari dua dimensi, yaitu dimensi koersif-operasional dan legal.

Dalam kasus operasi bersenjata di Poso, kehadiran TNI adalah sebagai komponen yang membantu Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Gerak-gerik TNI dibatasi secara hierarkis dengan penempatannya di bawah pimpinan komandan yang berasal dari Polri, yaitu Komisaris Besar (Kombes) Didik Supranoto.

Baca Juga: Jokowi Diterpa Terorisme Politik?

Polisi Jadi Target Serangan Terorisme

Keutamaan Polri juga ditunjukkan salah satunya dalam pernyataan Panglima Komando Operasi Gabungan Khusus (Koopsgabsus) TNI Mayor Jendral (Mayjen) Richard Tampubolon bahwa kehadiran pasukannya ditujukan terutama untuk membantu Polri.

Salah satu contoh digunakannya sumber daya TNI untuk memperkuat kemampuan operasional Polri di Poso adalah didatangkannya 150 prajurit TNI pada tahun 2020 silam. Pelibatan mereka dalam operasi yang pada saat itu masih dinamakan Operasi Tinombala memperkuat aspek intelijen Satgas di lapangan. Berbekal itu, Polri menyatakan optimismenya untuk mengejar dan memberantas elemen-elemen teror yang ada.

Selain adanya kerja sama TNI-Polri, Satgas di lokasi juga berupaya untuk meraih simpati warga. Pada bulan puasa terakhir, Koopsgabsus TNI bersama dengan Polri membagikan sembako kepada warga setempat. Tindakan tersebut dilakukan untuk membangun harapan di kalangan warga setempat sekaligus memberitahu mereka bahwa aparat keamanan yang hadir siap untuk mengayomi mereka.

Hal tersebut penting menimbang adanya perubahan pola dalam manuver MIT beberapa tahun ke belakang. Pada masa awal pergerakannya, MIT dikenal enggan menyerang warga sipil, sebab mereka tahu hal tersebut akan mengurangi simpati lokal terhadap mereka.

Namun, citra tersebut tercoreng ketika korban sipil mulai berjatuhan di tangan mereka. Salah satu kasus yang terbaru adalah pembunuhan empat warga sipil oleh anggota MIT dalam aksi terorisme sekaligus perampokan. Jika trennya berlanjut, Satgas Madago Raya akan mendapatkan lebih banyak simpati selagi MIT menjadi semakin tidak disukai.

Demikian, memang betul bahwa Operasi Madago Raya dan pendahulunya Tinombala merupakan contoh keberhasilan kerja sama TNI-Polri dalam mengatasi ancaman terorisme di Indonesia. Lebih dari itu, operasi tersebut juga menunjukkan betapa pentingnya simpati warga setempat terhadap keberadaan aparat keamanan dan tindakan-tindakannya.

Kemudian, kasus terorisme di Poso juga menunjukkan bahwa pemerintah harus lebih cermat dalam mengatasi terorisme, khususnya dengan turut mengatasi permasalahan-permasalahan yang mendorong terjadinya terorisme. Pemberian rasa aman kepada kelompok-kelompok yang hidup di masyarakat dengan kemajemukan agama sangat penting untuk mencegah kemunculan sikap-sikap saling curiga yang bisa berakhir dengan terjadinya aksi teror. Kesimpulan tersebut menjadi catatan penting bagi Indonesia ke depannya. (B68)

Baca Juga: Siasat Jokowi Tetapkan Teroris Papua


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait