Site icon PinterPolitik.com

2026: Menuju Abad Kekacauan?

2026 menuju abad kekacauaan

Gambaran imajinatif dan ilustratif soal tahun 2026. (Foto: AI-generated)

Dengarkan artikel ini:

https://www.pinterpolitik.com/wp-content/uploads/2025/12/2026-menuju-abad-kekacauan.mp3
Audio ini dibuat menggunakan AI.

Tahun 2026 diprediksi menjadi gerbang menuju abad kekacauan global. Apakah ini ancaman nyata atau sekadar bisnis rasa takut para elite?


PinterPolitik.com

“Only a crisis—actual or perceived—produces real change.”  – Naomi Klein, The Shock Doctrine (2007)

Hujan deras mengguyur atap kamar kos Cupin tanpa henti, menciptakan irama monoton yang seolah menemani kesendiriannya malam ini. Dia duduk bersandar di pojok ruangan yang remang, matanya terpaku pada cahaya layar ponsel yang menyala terang di tengah kegelapan.

Cupin sendirian bukan karena tak punya kawan untuk merayakan pergantian tahun, melainkan karena rasa enggan yang aneh dan memberat di dada. Biasanya grup WhatsApp tongkrongannya sudah ramai membahas rencana bakar jagung atau konvoi, tapi tahun ini suasananya terasa begitu hambar dan dingin.

Jempol Cupin terus bergerak naik turun di layar ponsel, melakukan aktivitas yang belakangan ini lazim dikenal sebagai doomscrolling. Lini masanya tidak dipenuhi diskon akhir tahun atau resolusi penuh harap, melainkan deretan berita buruk yang membuat dahi berkerut.

Video konflik bersenjata di belahan dunia lain lewat silih berganti dengan berita tentang pemutusan hubungan kerja massal di dalam negeri. Belum lagi prediksi ekonomi makro untuk tahun 2026 yang katanya bakal suram, dengan harga pangan yang melambung dan inflasi yang makin gila.

Cupin menghela napas panjang sembari meletakkan rokoknya yang tinggal setengah di asbak yang sudah penuh abu. Rasanya baru kemarin dia dan teman-temannya begitu optimis menyambut tahun 2025 sebagai momen kebangkitan total pasca-pandemi.

Namun sekarang optimisme itu rasanya sudah menguap entah ke mana, digantikan oleh rasa was-was yang mencekik leher. Di warung kopi tadi siang pun, obrolan orang-orang bukan lagi soal siapa pemenang liga bola, tapi soal harga beras yang makin tidak masuk akal.

Ada perasaan kolektif yang aneh menjalar di masyarakat, seolah-olah semua orang sedang antre menunggu giliran untuk terkena musibah. Cupin merasa tahun 2026 bukan sekadar pergantian kalender biasa, tapi seperti sebuah gerbang menuju lorong waktu yang lebih gelap.

Warganet di media sosial tampak lebih mudah marah dan sensitif, serta jauh lebih pesimis dalam melihat masa depan mereka sendiri. Dia teringat meme yang baru saja lewat di berandanya, gambar seekor anjing tersenyum di tengah ruangan terbakar dengan tulisan “This is fine”.

Mungkin gambar konyol itu adalah representasi paling jujur untuk perasaan Cupin dan jutaan anak muda lainnya saat ini. Mereka sadar dunia sedang tidak baik-baik saja, tapi bingung harus berbuat apa selain menertawakan kehancuran itu dengan ironi.

Rasa aman rasanya menjadi barang mewah yang makin sulit dibeli, bahkan oleh mereka yang sudah memiliki pekerjaan tetap dengan gaji dua digit. Cupin menatap langit-langit kamarnya yang kusam, bertanya-tanya apakah cuma dia yang terlalu overthinking menanggapi situasi ini.

Tetapi ketika melihat ribuan komentar di portal berita, rasanya ketakutan ini memang nyata, valid, dan dialami oleh banyak orang sekaligus. Dunia terasa bergerak makin acak, makin tidak tertebak arahnya, dan makin tidak ramah bagi orang biasa seperti dirinya.

Apakah firasat buruk yang dirasakan Cupin ini hanyalah efek samping psikologis akibat terlalu banyak mengonsumsi informasi negatif di media sosial? Atau jangan-jangan, tahun 2026 memang benar-benar menjadi titik awal dari sebuah era di mana kekacauan menjadi menu sarapan sehari-hari?

Saat “Pak Guru” Tak Lagi Mengajar

Jika pandangan ditarik dari kamar sempit Cupin ke panggung dunia yang luas, kekhawatiran itu ternyata memiliki landasan yang sangat kokoh. Tahun 2026 diprediksi oleh banyak pengamat hubungan internasional sebagai gerbang pembuka menuju apa yang kelak disebut sebagai “Abad Kekacauan”.

Secara politik, dunia sedang menyaksikan secara real-time runtuhnya tatanan liberal yang selama ini menopang stabilitas global. Richard Haass, seorang diplomat senior Amerika Serikat, pernah menulis buku berjudul A World in Disarray yang isinya memberikan peringatan dini yang cukup mengerikan.

Haass menjelaskan bahwa tatanan internasional yang sudah berjalan lebih dari tujuh puluh tahun ini sedang mengalami kerusakan struktural yang parah. Dunia ini bisa dibayangkan seperti sebuah ruang kelas; dulu ada Amerika Serikat yang bertindak seperti guru atau ketua kelas yang menjaga ketertiban.

Meskipun kadang tindakan “guru” ini menyebalkan dan tidak adil, setidaknya ada otoritas yang memastikan murid-murid tidak saling berkelahi secara brutal. Namun sekarang, kekuatan adidaya itu mulai masa bodoh, sibuk dengan polarisasi politik di dalam negerinya sendiri, dan perlahan meninggalkan kelas tanpa pengawasan.

Kekosongan kekuasaan ini menciptakan apa yang disebut oleh John Mearsheimer dalam bukunya The Tragedy of Great Power Politics sebagai kondisi anarki internasional. Tanpa adanya otoritas pusat yang ditakuti, negara-negara kuat lainnya merasa bebas untuk bertingkah agresif demi mengamankan kepentingan mereka sendiri.

Akibatnya, menuju tahun 2026 nanti, ledakan konflik baru sangat mungkin terjadi karena tidak ada lagi “polisi dunia” yang bisa melerai atau menghukum pelanggar aturan. Kekacauan ini tidak hanya berhenti di meja diplomasi PBB atau medan perang, tetapi juga merembes masuk ke struktur budaya dan interaksi sosial sehari-hari.

Masyarakat belakangan ini semakin sulit untuk mengobrol nyambung satu sama lain karena topik dan referensi yang dimiliki sudah berbeda total. Fenomena ini adalah gejala dari matinya budaya arus utama, atau yang sering disebut sebagai the death of monoculture.

Jurnalis budaya Kyle Chayka membahas fenomena fragmentasi ini dengan sangat tajam dan mendalam dalam bukunya yang berjudul Filterworld. Dulu, masyarakat diikat oleh narasi yang sama; semua orang menonton acara televisi yang sama, mendengarkan lagu hits yang sama, dan membaca koran pagi yang sama.

Kini, algoritma canggih di TikTok dan Instagram memecah audiens ke dalam jutaan kamar-kamar kecil yang isinya hanya hal-hal yang spesifik disukai individu tersebut. Akibatnya, tidak ada lagi satu realitas bersama atau “kiblat” budaya tunggal yang bisa dijadikan pegangan untuk berdiskusi.

Seseorang mungkin hidup di dunia algoritma yang meyakini konspirasi tertentu, sementara orang di sebelahnya hidup di dunia dengan fakta yang sama sekali berbeda. Francis Fukuyama dalam bukunya Identity menyebut kondisi ini sangat berbahaya karena menjadi bensin bagi politik identitas yang sempit dan radikal.

Ketika narasi besar yang menyatukan masyarakat runtuh, orang-orang akan secara naluriah mencari rasa aman di dalam kelompok-kelompok kecil atau suku mereka sendiri. Hal ini menciptakan masyarakat yang tribal, mudah tersinggung, dan hampir mustahil untuk diajak bermusyawarah guna mencari solusi bersama.

Tahun 2026 berpotensi menjadi puncak dari fragmentasi sosial ini, di mana konflik tidak lagi terjadi antarnegara, melainkan antar-realitas yang berbeda di satu masyarakat. Perdebatan bukan lagi mengenai solusi terbaik untuk sebuah masalah, tetapi pertengkaran mengenai fakta dasar siapa yang paling benar.

Jadi, kekacauan yang dirasakan Cupin di kamar kosnya itu bukan sekadar perasaan melankolis, melainkan sebuah fakta struktural yang sedang terjadi di tingkat global. Dunia memang sedang kehilangan keteraturannya secara masif, baik di peta geopolitik yang panas maupun di layar smartphone yang dingin.

Namun di tengah semua analisis suram ini, ada satu pertanyaan kritis yang perlu diajukan sebelum tenggelam dalam keputusasaan. Apakah semua kekacauan dan pesimisme ini terjadi secara alamiah begitu saja, ataukah ada pihak-pihak tertentu yang justru sedang meraup untung besar dari ketakutan massal ini?

Bisnis Rasa Takut?

Seringkali rasa pesimis yang muncul di setiap penghujung tahun bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan hasil dari desain sistem yang rapi. Perlu dicurigai bahwa perasaan “dunia akan kiamat” ini adalah bahan bakar utama bagi mesin ekonomi raksasa yang sedang bekerja.

Istilah economics of insecurity atau ekonomi ketidakamanan sangat relevan untuk membedah fenomena kepanikan massal yang rutin terjadi ini. Guy Standing, dalam bukunya yang fenomenal berjudul The Precariat, menjelaskan mekanisme ini dengan sangat gamblang dan membuka mata.

Ia berargumen bahwa rasa tidak aman sengaja dipelihara supaya orang-orang—terutama kelas pekerja—tetap berada dalam posisi patuh dan tidak banyak menuntut. Jika seseorang terus-menerus takut akan di-PHK besok pagi atau takut tahun depan akan terjadi krisis moneter, mereka pasti akan rela menerima gaji berapapun dan bekerja sekeras apapun.

Rasa takut adalah alat kontrol sosial yang paling efektif, dan narasi menyeramkan soal tahun 2026 adalah momen paling pas untuk menebarnya. Naomi Klein memiliki teori yang lebih mengerikan lagi mengenai hal ini dalam bukunya yang sangat terkenal, The Shock Doctrine.

Klein menjelaskan bagaimana krisis—baik yang nyata maupun yang dipersepsikan—seringkali dijadikan peluang bisnis emas bagi para elit korporasi dan politik. Saat masyarakat sedang panik atau dalam kondisi chaos, psikologis publik menjadi lemah sehingga pasrah menerima kebijakan apa saja yang disodorkan.

Di momen kepanikan itulah, aset-aset publik bisa dijual murah atau undang-undang yang merugikan rakyat bisa disahkan diam-diam tanpa protes berarti. Jadi, narasi seram soal tahun 2026 mungkin saja sengaja diamplifikasi oleh media dan elit agar masyarakat belanja lebih banyak produk “pengaman”.

Entah itu produk asuransi, investasi emas yang katanya anti-inflasi, atau sekadar menghabiskan waktu lebih lama di media sosial untuk memantau berita buruk. Perusahaan teknologi meraup keuntungan triliunan rupiah dari aktivitas doomscrolling; semakin orang cemas, semakin lama mata menatap iklan di layar.

Sosiolog Ulrich Beck dalam Risk Society menyebut bahwa masyarakat modern kini tidak lagi sibuk mendistribusikan kesejahteraan, melainkan sibuk mengelola risiko. Individu dibuat merasa kecil dan tak berdaya menghadapi risiko global seperti perubahan iklim, perang nuklir, atau keruntuhan ekonomi.

Padahal, pesimisme yang berlebihan itu seringkali menjadi self-fulfilling prophecy atau ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri karena dipercayai secara kolektif. Kalau semua orang yakin ekonomi tahun depan bakal hancur lalu berhenti belanja karena takut, maka ekonomi pasti akan hancur beneran karena perputaran uang berhenti.

Oleh karena itu, dalam menghadapi tahun 2026, sikap kritis sangat diperlukan agar tidak menelan mentah-mentah semua berita buruk yang beredar. Mungkin memang ada tantangan berat di depan mata, tapi itu bukan berarti kiamat sudah pasti terjadi esok hari.

Ketakutan Cupin di kamar kosnya tadi adalah perasaan yang valid, tetapi dia tidak harus membiarkan dirinya tenggelam dalam kelumpuhan mental. Harus disadari sepenuhnya bahwa di tengah narasi kekacauan yang bising, ada pihak-pihak hening yang sedang berjualan obat penenang.

Menghadapi tahun depan dengan kepala dingin dan rasionalitas yang terjaga adalah bentuk perlawanan terbaik yang bisa dilakukan saat ini. Jangan sampai masyarakat menjadi boneka yang digerakkan oleh rasa takut buatan pihak lain demi keuntungan neraca keuangan mereka.

Toh pada akhirnya, 2026 hanyalah sebuah angka tahun di kalender; nasib manusia masih ditentukan oleh tindakan nyata, bukan oleh ramalan para pundit di televisi. Menarik napas panjang dan meletakkan ponsel sejenak bisa menjadi langkah awal untuk menyadari bahwa badai pasti akan berlalu seiring waktu.

Dunia mungkin memang sedang bergerak menuju kekacauan, tapi pilihan untuk tetap waras dan tidak ikut-ikutan gila selalu tersedia. Masa depan adalah kertas kosong yang pena penulisannya masih ada di tangan manusia itu sendiri, bukan di tangan algoritma atau politisi. (A43)


Exit mobile version