Hologram Ala Jokowi-Ma’ruf

Hologram 3D yang menampilkan sosok Jokowi dan Ma'ruf Amin. (Foto: Istimewa)
6 minute read

Joko Widodo-Ma’ruf Amin menggunakan cara kampanye yang unik, yaitu menggunakan teknologi hologram 3D dari sosok mereka. Dalam bentuk 3D, mereka menjelaskan program-program mereka bahkan mengimbau masyarakat agar tidak mudah tertipu hoaks. Tapi, apakah efektif?


PinterPolitik.com

 

Calon presiden petahana nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin berkampanye di daerah Lebak, Banten pada 25 Maret lalu. Mereka tampil di atas panggung, menyampaikan pidato kampanye, dan menjabarkan program-program mereka. Tetapi, sosok Jokowi-Ma’ruf yang sedang berpidato itu merupakan proyeksi dari sosok Jokowi-Ma’ruf dengan menggunakan teknologi hologram 3D.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf sekaligus sekretaris jendral Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Raja Juli Antoni meyakini teknologi hologram ini akan efektif sebagai media kampanye program-program Jokowi-Ma’ruf di beberapa daerah yang tidak sempat dikunjungi oleh mereka dan demi efisiensi waktu kampanye terbuka yang tergolong singkat.

Ia juga meyakini cara kampanye ini dapat membangun ikatan emosional, karena sosok yang ditampilkan melalui hologram 3D tersebut digadang-gadang sangat mirip dengan sosok Jokowi-Ma’ruf yang asli, meskipun Juli sendiri juga mengakui belum dapat mengukur secara pasti apakah kampanye dengan teknologi hologram ini memang efektif.


Hal serupa juga diyakini oleh Ketua TKN Erick Tohir, yang mengatakan hologram 3D ini mampu menjadi ujung tombak Jokowi untuk mendekatkan Jokowi-Ma’ruf kepada calon pemilih.

Mungkin dengan alasan untuk efisiensi waktu dan tempat selama masa kampanye terbuka, kampanye dengan menggunakan hologram 3D memang efektif. Tetapi apakah metode kampanye ini dapat efektif untuk merebut suara masyarakat, khususnya para pemilih golput dan swing voters?

Bukan Cara Kampanye Baru

Metode kampanye ini memang terlihat inovatif dan unik, sebab belum ada politikus Indonesia yang menggunakan teknologi hologram 3D dalam berkampanye politik.

Di satu sisi, memang tampaknya kampanye hologram 3D hanya dapat dijadikan sebagai medium untuk memenuhi kepuasan dan rasa bangga para pendukung Jokowi, dengan menganggap bahwa langkah yang dilakukan Jokowi-Ma’ruf merupakan sebuah terobosan baru dalam berkampanye.

Baca juga :  Tugas Baru Jokowi untuk Ma’ruf

Hal ini juga berpotensi dijadikan landasan dukungan para pemilih Jokowi dari generasi milenial dan generasi Z, menganggap bahwa apa yang dilakukan Jokowi-Ma’ruf merupakan gaya berkampanye yang kekinian dan terbuka terhadap teknologi.

Kampanye menggunakan teknologi hologram memang merupakan cara kampanye yang baru dalam politik Indonesia, tetapi tidak pada politik dunia. Cara kampanye ini pernah digunakan oleh Narendra Modi, kandidat Perdana Menteri India pada pemilu India tahun 2014 lalu, digunakan untuk berpidato yang berlangsung selama lebih dari 50 menit dan disiarkan di sekitar 50 kota dalam bentuk hologram 3D.

Alasan Modi untuk menggunakan cara tersebut memiliki alasan yang serupa dengan Jokowi-Ma’ruf, yaitu untuk efisiensi tempat dan waktu kampanye, mengingat India memiiliki jumlah penduduk yang sangat besar dan merupakan negara dengan penduduk terpadat kedua di dunia. Cara ini rupanya efektif untuk Modi, sehingga membuatnya terpilih menjadi Perdana Menteri India.

Cara kampanye tersebut juga pernah digunakan oleh capres Perancis dari partai sayap kiri Jean-Luc Melenchon pada pemilu Perancis  pada 2017 lalu. Lebih tepatnya, ia menggunakan teknik pepper’s ghost, yaitu menyiarkan versi 2-D gambaran dirinya.

Dengan cara tersebut, Melenchon berkampanye di kota Lyon, namun di saat itu juga ia tampil di hadapan sekitar 6.000 pendukung sampai jarak 450km dari kota Paris.

Pada Pemilu Malaysia 2018, Koalisi Barisan Nasional yang merupakan koalisi oposisi di Malaysia juga menggunakan teknologi hologram. Teknologi ini digunakan sebagai salah satu cara untuk meraih suara pemilih muda yang memang telah akrab dengan teknologi.

Rupanya di Indonesia sendiri teknologi hologram 3D juga bukanlah sesuatu yang baru. Pada 2016, walikota Semarang Hendrar Pridadi pernah menggunakan teknologi yang sama gedung Pusat Informasi Publik (PIP) Balai Kota Semarang.

Perbedaannya dengan Jokowi-Ma’ruf, apa yang dilakukan oleh Hendrar bukan bertujuan politis, namun untuk mengenalkan profil kota Semarang.

Kampanye Gaya Futuristik

Kampanye hologram 3D yang dilakukan Jokowi-Ma’ruf memang tidak dapat menimbulkan interaksi langsung antara masyarakat dengan capres-cawapresnya, namun hologram 3D tersebut dapat mencakup ide keseluruhan dari setiap bagian Jokowi-Ma’ruf, khususnya mengenai ide dan gagasan mereka.

Sesuai dengan pernyataan David Bohm, seorang ilmuwan Amerika yang menggagaskan konsep mengenai teknologi hologram, maksudnya adalah setiap bagian dari realitas fisik mengandung informasi tentang keseluruhan, termasuk hologram yang merupakan sebuah realitas fisik baru.

Jika dikaitkan dengan pemikiran tersebut, kampanye hologram 3D yang dilakukan Jokowi-Ma’ruf mencakup keseluruhan realitas dari sosok Jokowi-Ma’ruf, termasuk di dalamnya pesan dan program-program yang mereka miliki. Lebih tepatnya, dalam konteks ini merujuk pada realitas dari gagasan program-program kampanye mereka.

Brian Koberlein, profesor fisika pada Rochester Institute of Technology New York menggunakan analogi bercermin untuk menjelaskan fenomena realita holografik. Ketika kita bercermin, gambar yang kita lihat di cermin sangat mirip dengan diri kita sendiri meskipun tidak persis sama.

Contoh yang diberikan Koberlein adalah ketika kita mengangkat tangan kanan kita, gambar diri kita di cermin mengangkat sebelah kiri. Terlebih lagi, gambar di cermin hanyalah kumpulan cahaya yang dipantulkan, tanpa tubuh fisik di belakangnya. Tetapi, kita dapat melihat terdapatnya hubungan dan keterkaitan antara diri kita secara fisik dengan refleksi diri kita yang terdapat di cermin.

Efektif atau Tidak?

Kampanye hologram 3D mungkin memang dapat efektif untuk mengantisipasi keterbatasan waktu kampanye terbuka, mengingat masa kampanye terbuka hanya dilaksanakan selama 20 hari dari 23 Maret sampai 13 April 2019.

Selain itu, dimungkinkan dapat efektif pula untuk menjangkau beberapa daerah padat dalam waktu yang singkat, seperti di daerah-daerah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur yang memang merupakan daerah-daerah yang difokuskan TKN untuk berkampanye hologram.

Kampanye hologram 3D Jokowi-Ma'ruf: kampanye kekinian Click To Tweet

Sosok Jokowi-Ma’ruf yang tampil pada hologram 3D merupakan representasi sekaligus refleksi dari sosok Jokowi-Ma’ruf. Mengenai tujuan untuk meningkatkan ikatan emosional, justru tampaknya tidak terlalu efektif, karena ikatan emosional justru berpotensi timbul ketika adanya interaksi langsung seperti tatap muka.

Merujuk pada pernyataan Erick Tohir tentang tujuan demi mendekatkan diri pada calon pemilih, efektivitas dari hologram 3D tampaknya hanya sebuah peningkatan dan pengembangan dari media audio visual lainnya seperti video-video kampanye yang ditayangkan melalui televisi atau YouTube.

Calon pemilih tidak dapat berinteraksi secara langsung seperti menanyakan atau mendiskusikan program lebih lanjut dengan menggunakan hologram 3D. Maka, perbedaan signifikan antara hologram 3D dengan televisi atau YouTube seolah-olah hanya berbeda dari media dan dimensinya saja.

Jika demi penaikan pemerolehan suara, tampaknya dapat dipikirkan dan dipertanyakan lebih lanjut. Kalaupun cara kampanye ini efektif untuk pemerolehan suara dari pemilih golput atau swing voters, tampaknya hanya berpotensi memperoleh suara swing voters atau pemilih golput dari generasi milenial yang memang paham dan akrab dengan teknologi. (D44)