Hendropriyono, Politikus ‘Baperan’

Hendropriyono, Politikus ‘Baperan’
AM. Hendropriyono. (Foto: Liputan6)
2 minute read

“Tidak ada kawan dan lawan abadi, yang ada hanya kepentingan.”


PinterPolitik.com

Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), A.M Hendropriyono menghadiahkan kado pahit untuk partainya, seiring dengan merayakan kegembiraan PKPI yang resmi jadi peserta Pemilu 2019.

Kado pahit ditengah kegembiraan, dilema sekali ya, hmmm. Kabar ini tak jauh dari pengumuman sahnya keputusan pengadilan sekaligus adanya kabar tak menyenangkan tentang pengunduran diri A.M Hendropriyono selaku Ketua Umum PKPI.

Hal ini sontak membuat kader PKPI terkejut, harapannya bisa menjalani euforia bersama dengan Ketua Umum, lah malah mengundurkan diri.

Kata Hendropriyono sih alasannya supaya ia bisa bebas untuk berkawan dengan sahabat – sahabat lamanya seperti SBY, Megawati, Prabowo, dan lainnya. Selain itu, supaya tak ada lagi permusuhan diantara mereka, hmmm gimana ya?


Memangnya kalau menjadi politikus ga bisa berkawan ya? Atau mungkin ada anggapan kalau jadi politikus itu cuma berteman sama lingkar koalisi aja ya?

Hadeuuuhhh, ga akan pernah ada teman setia dalam berpolitik. Semua sifatnya semu dan tak ada yang abadi. Ya udah deh, semua politikus itu adalah teman, teman berdemokrasi, hmmm.

Begitu juga musuh, ga ada juga musuh abadi dalam politik. Hari ini bisa musuh, tapi esok lusa bisa saja sangat romantis bercengkarama, hadeuuhhh, namanya juga politik jadi wajar – wajar aja berubah – ubah.

Ya mau ga mau, kabar gembira PKPI yang jadi peserta Pemilu jadi penghujung karier politik Hendropriyono, weleeeh weleeh. Tapi sebenernya sih, kalau Hendropriyono tak banyak menggunakan hati dalam berpolitik, ga akan ada dilema kayak gini sih.

Apakah Hendropriyono itu terlalu membentuk dirinya sebagai politikus yang melankolis atau seperti apa? Padahal, semua partai itu ga ada yang bermusuhan, hanya berbeda pandangan aja.

Apalagi kalau mau membedah lagi adagium dalam dunia politik, yang abadi itu hanyalah kepentingan. Nah kalau mau mengejar kepentingan itu, caranya cuma dua, berteman atau bermusuhan tapi sifatnya hanya sementara aja.

Kalau kepentingannya berubah, otomatis teman dan musuhnya juga berubah. Makanya, kalau Hendropriyono ingin keharmonisan seluruh partai politik, ya ga bisa. Namanya juga ada oposisi yang jadi mitra kritis pemerintah.

Jadi ga ada istilah dunia politik yang adem ayem, setidaknya harus ada dinamika politik, biar ga hambar, weleeeh weleeeh. (Z19)