Hasrat Terpendam Partai Islam

pemilih islam di partai islam
Pemilu. (Foto Republika)
2 minute read

“Politik adalah seni dan layanan, bukan eksploitasi.” ~Charles de Gaulle


PinterPolitik.com

Sudah baca hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA belum? Kenapa itu ya? Kok bisa-bisanya partai-partai berideologi nasionalis masih unggul di pemilih Muslim? Sedangkan partai Islamnya malah redup. Bukannya populisme Islam lagi menanjak? Aneh nggak sih?

Kalau diingat-ingat, perasaan dalam sejarah, partai bernapaskan Islam nggak ada yang pernah masuk tiga besar sebagai pemenang Pemilu. Tahun ini pun, cuma PKB saja yang terlihat bersinar di survei. Yang lainnya malah diramalkan akan terkubur berjamaah karena tak mampu melampaui ambang batas parlementary threshold 4 persen.

Di saat ada banyak masyarakat kita yang katanya makin religius, eksistensi partai-partai Islam malah makin mengkhawatirkan. Click To Tweet

Bahkan adanya Aksi 212 nggak cukup kuat untuk menggenjot elektabilitas partai Islam. Hmmm…

Kalau kata Juru Bicara Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muda Bidang Ekonomi, Muhammad Kholid, seharusnya pemilih Muslim lebih banyak di partai Islam. Seharusnya. Nyatanya, rakyat kita nggak memandang ideologi sebagai syarat utama dalam memilih partai.


Sepertinya, memang masyarakat Indonesia banyak yang memisahkan antara urusan politik dengan urusan agama di ruang privat. Meski ekspresi di depan publiknya sangat agamis, tapi di bilik suara bisa lain lagi. Apalagi, partai nasionalis bisa jadi bunglon dengan juga memanfaatkan sentimen agama.

Nah, masalahnya lagi, partai Islam ini memang tidak punya banyak kebijakan yang bisa ditawarkan kepada pemilih. Kalau partai seperti PDIP dan Gerindra bisa mengekor ke ketokohan Jokowi dan Prabowo, partai Islam tidak punya tokoh-tokoh serupa. PKS misalnya, pimpinan partainya kalah pamor jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh itu. Akhirnya apa coba yang ditawarkan oleh PKS? SIM seumur hidup, bebas pajak kendaraan, tolak RUU PKS, dan lain-lain. Hehehe.

Kalau partai Islam nyatanya tak memiliki apa yang diperlukan untuk memberikan kepemimpinan yang baik, pasti rakyat juga berpikir dua kali sebelum memilih. Sudah tak punya figur, tawaran programnya pun ajaib-ajaib.

Daku sih berharap, partai Islam tidak hanya bertumpu pada identitas Islamnya saja, sehingga mereka tak pernah lagi mempolitisasi agama untuk kepentingan kekuasaan semata. Biar rakyatnya damai. (F41)