Haruskah Luhut Belajar ke Trump?

Haruskah Luhut Belajar ke Trump
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan menerima kunjungan Ketua Komisi Energi dan Perdagangan dari Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (AS), Greg Walden, dan Duta Besar AS untuk Indonesia, Joseph R. Donovan, pada tahun 2018 silam. (Foto: Kemenko Marves)
3 minute read

“Semua kebijakan dapat diukur dengan keadilan” – Aristoteles, Filsuf Yunani


PinterPolitik.com

Kadang kala, memang kita perlu pakai logika perbandingan deh, cuy – bahkan terhadap pihak yang kurang kita suka. Benar nggak? Tentu saja iya, biar buat motivasi sih, seperti dengan membandingkan kerja keras kita dengan kekasih si mantan. Meski menjengkelkan dan sakit, itu bisa sekadar buat pemacu saja sih.

Nah, barangkali logika seperti itu yang ada di benak Pak Fadli Zon saat berkomentar mengenai tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok yang baru datang ke Indonesia. Fadli bertanya-tanya kenapa pemerintah kita justru malah membuka akses buat TKA asing. Padahal, tenaga kerja kita sendiri lagi kelabakan di tengah pandemi ini.

Dengan gaya khasnya yang ‘melete’ atau kelewat percaya diri, Pak Fadli Zon lempar sindirAn begini, cuy, “(Presiden AS) Trump membatasi pekerja asing agar pekerja AS tidak menganggur. RI mendatangkan pekerja RRT sementara banyak orang Indonesia masih menganggur. Lebih nasionalis mana?”

Ya, mimin sih sepakat sama beliau kok, soalnya memang banyak kejanggalan dalam hal ini. Contoh saja, sebenarnya kan, kalau toh memang pemerintah sudah nggak bisa menahan untuk membuka akses bagi Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Indonesia, jadwal kedatangan mereka bukan di bulan Juni, tapi bulan Juli.

Itu jadwal yang dibilang sama Pak Luhut kok, jadi mimin nggak ngada-ngada. Kenapa jadwal ini penting? Sebab kalian tahu kan, cuy, itu juga menjadi biang kerok kemarahan para demonstran yang menggeruduk Bandara Haluole Kendari.Bahkan, aksi ini sampai berujung bentrok karena mereka merasa ditipu oleh aparat di bandara yang ternyata mengangkut TKA Tiongkok via pintu belakang. Duh duh duh, ini kok jadi bentrok antar anak negeri hanya gegara TKA sih?

Lagian nih, gengs, dengan enteng, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziah menyebut kalau TKA ini didatangkan supaya bisa terjadi transfer of knowledge antara mereka dengan tenaga lokal. Hmm, tapi nih, di tengahmusim pandemi begini, Menaker mungkin juga perlu tuh mempertimbangkan kebutuhan tenaga lokal terhadap pendapatan ekonomi.

Apa jangan-jangan masih terkait investasi ya? Uppss. Soalnya nih, seingat mimin, Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly pernah bahas soal kedatangan TKA Tiongkok beberapa bulan lalu lho. Kata beliau, kedatangan mereka sempat dibahas oleh beberapa pejabat, seperti Menko Marves Luhut, Menaker Ida, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Lagi pula, kalau memang pemerintah Indonesia ada keinginan untuk membatasi kedatangan TKA dari Tiongkok, pasti akan memerintahkan kedutaan besar Indonesia di Tiongkok agar tidak mengeluarkan izin atau visa. Tapi kalau ternyata kejadiannya seperti ini, berarti kan pemerintah Indonesia memang belum ada keinginan untuk menghentikan kedatangan mereka.

Hmm, emangnya nggak mau kah Indonesia meniru ketegasan Trump buat melindungi kesehatan dan ekonomi tenaga lokal? Mimin tahu Trump sangat menjengkelkan tetapi namanya manusia pasti kadang ada benarnya, cuy. Semoga pemerintah terbuka hatinya ya, buat mencontoh kebijakan AS untuk ketahanan pekerja Indonesia. Hehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.