Habibie dan Mobil Bersayap

Habibie dan Mobil Bersayap
Mimpi Habibie untuk Indonesia adalah warisan untuk generasi selanjutnya (Foto: Kompas)
3 minute read

“Ia ingin Indonesia bisa bikin mobil sendiri, bikin pesawat sendiri. Saat orang masih berpikir soal swasembada pangan dan tidak mengimpor beras dari negara lain, Habibie sudah berpikir bagaimana negara ini bisa bikin pesawat sendiri – mimpi yang hingga saat ini masih menjadi tantangan besar untuk diwujudkan. Habibie lebih dari sekedar Bapak Teknologi atau Bapak Kebebasan Pers atau Bapak Demokrasi. Ia adalah Bapak Visioner Indonesia”. – Catatan Pinggir, Habibie


PinterPolitik.com

Dua minggu lalu, saat sebagian besar jalan utama di wilayah Kemang, Jakarta selatan tengah diperbaiki dan beberapa pohon di tepi jalan tersebut dirapikan, mungkin sebagian orang yang setiap hari lewat di jalan-jalan tersebut baru ngeh akan keberadaaan bangunan menjulang bertuliskan The Habibie Center di depannya.

Bangunan tersebut tentu akan lebih diperhatikan beberapa hari ke depan, apalagi pasca berpulangnya sang pendiri, Bacharuddin Jusuf Habibie.

Cerita tentang Habibie memang tak hanya sekedar soal The Habibie Center, atau tentang teori keretakan dinding pesawat yang ditemukannya, atau tentang otak jenius Presiden ke-3 RI itu yang membuatnya dianggap sebagai orang Indonesia paling cerdas yang pernah hidup.

Kisah Habibie adalah tentang visi.


Kebanyakan orang memang bisa melihat, namun hanya sedikit yang punya visi. Benarlah apa yang dikatakan oleh Hellen Keller – seorang aktivis dan penyandang buta-tuli pertama yang mampu meraih gelar Bachelor of Arts – bahwa satu-satunya hal yang lebih buruk daripada menjadi buta adalah mampu melihat namun tak punya visi.

Habibie bisa disebut sebagai generasi berikutnya dari Bung Hatta – orang yang punya visi tentang Indonesia jauh ke depan. Mungkin visi Habibie itu sudah ada sampai di garis waktu yang belum dihitung.

Mayoritas masyarakat Indonesia juga akan mengingat Habibie sebagai sosok yang memegang kekuasaan di saat runtuhnya otoritarianisme Orde Baru.

Itulah tonggak awal Indonesia masuk di era keterbukaan dan demokrasi seperti sekarang – sekalipun persoalan kebebasan pers mungkin masih harus kembali direfleksikan konteksnya jika melihat kuasa pembentukan opini yang sepertinya kini hanya dikuasai oleh segelintir orang tertentu saja.

Yang jelas, setiap refleksi tentang sosok Habibie tak akan pernah habis untuk dituliskan, bahkan Hanung Bramantyo mungkin tak akan cukup membuat 10 film untuk menggambarkan kisah hidup sang presiden.

Ia ada dalam benak anak-anak di pelosok Indonesia timur sana ketika membolak-balikkan buku sejarah. Gagah sayap-sayap N-250 “Gatot Kaca” atau pesawat R80 yang akan meluncur beberapa tahun mendatang sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan kebesaran Habibie dan visinya untuk Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan.

Indonesia butuh sosok yang menjadi Habibie berikutnya. Orang yang bisa melihat nilai di balik harga, visi di balik pandang mata.

Dia yang merestorasi Mercedes-Benz 300 SL Coupe yang ditemukan di atas pohon oleh sekelompok mahasiswa ITB yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Jambi – mobil yang sering disebut sebagai Gullwing karena pintu-pintunya yang dibuka ke atas menyerupai sayap – sama seperti dia yang visinya merestorasi Indonesia.

Dan suatu saat, orang-orang tak lagi hanya sekedar lewat di Kemang Selatan dan memandang sepintas tulisan The Habibie Center. Sebab, warisan Habibie yang sesungguhnya adalah tentang semangatnya, seperti yang selalu ia katakan: “Kegagalan hanya akan terjadi bila kita menyerah”.

Selamat jalan, Mr. President. Biarlah mimpimu tentang mobil bersayap diwujudnyatakan cucu-cucumu generasi muda Indonesia di era selanjutnya. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.