Gus Dur Gagal Jadi Pahlawan

Gus Dur Gagal Jadi Pahlawan
Gus Dur (sumber: istimewa)
3 minute read

Jadi pahlawan atau ndak, Gus Dur tetaplah menjadi kuncian hati.


PinterPolitik.com 

[dropcap]H[/dropcap]ari Pahlawan yang jatuh di Jumat (10/11) ini, ada empat nama yang akhirnya dikalungi gelar Pahlawan. Bliyo-bliyo ini adalah, Malahayati, Lafran Pane, Mahmud Marzuki, dan Muhammad Zainuddin Abdul Majid.

Mbahas nama-nama di atas, rasanya kurang afdol jika tak bertanya-tanya, kenapa tahun ini Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) kok ya ndak juga mengajukan nama Gus Dur kepada Pak Jokowi? Jangan salah lho, Gus Dur punya kualitas dan layak jadi pahlawan. Jelas.

Bu Yenny Wahid, putri keempat Gus Dur memang berkata bahwa ia bosan ditanya hal sama tiap tahun. Saking seringnya, Bu Yen merasa gelar itu tak lagi penting. Walah, jangan salah, ini masih layak dibahas kok, Bu. Kalau ada sebagian pihak yang mau mengangkat Pak Harto jadi Pahlawan, kenapa Gus Dur ndak? Memang hanya orang-orang yang lulus penataran P4 saja yang bisa bilang Pak Harto layak jadi pahlawan? Mereka yang peduli dengan toleransi agama juga bisa, kan?

Gus Dur dan Soeharto (sumber: Tribun)

Celetukan-celetukan kritis nan ceplas ceplos Gus Dur terus diingat sampai sekarang sebab bliyo begitu menghargai perbedaan, terutama masalah suku, ras, dan agama. Masih ingat ndak? Gus Dur adalah presiden pertama yang berani memanggil pesakitan-pesakitan Tionghoa yang jadi bulan-bulanan Tragedi 1998 lalu. Gus Dur juga yang berani lawan arus untuk mengangkat Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional. Dari sana, mantan santri ini dijuluki Bapak Pluralisme Indonesia.

Langkah Gus Dur ini bukan berarti tak mendapat halang rintang sama sekali dari berbagai kalangan dan bahkan golongannya sendiri. Dia juga dianggap terlalu berpihak pada kelompok minoritas. Hmm, walaupun nggak ngerti juga apa hal yang buruk dari membela orang-orang minoritas dari kelompok yang selalu dimarjinalkan. Ya, sebab siapa lagi yang mau membela kelompok orang yang selalu ‘dibuat’ siyal secara sistematis, terstruktur, dan masif? Ya, tho?

Ya, mungkin penolakan (atau ketidakmampuan kita untuk menalar) ide-ide Gus Dur yang dibilang kelewat permisif itu, yang bikin TP2GP belum juga menganugerahi Gus Dur dengan gelar pahlawan. Kalau mereka punya kriteria, siapa yang meninggal lebih lama, sebagai syarat penganugerahan gelar pahlawan, kita bisa apa selain nrimo?

Lagipula, kalau Bu Yen, selaku anak,  sudah anggap tak penting gelar pahlawan untuk Gus Dur, mungkin itu adalah sinyal kalau ada hal yang jauh lebih penting untuk dilakukan. Dan yang pasti hal itu lebih dari sekedar gelar dan status pahlawan belaka. Mau dianugerahi atau ndak, kontribusi dan peran besar Gus Dur yang diberikan kepada bangsa dan negara tak berkurang seujung kuku pun.

Nah, mungkin saja dibalik pernyataan bosan Bu Yen, bliyo menyimpan harap kalau menyebar nilai-nilai positif yang dicontohkan Gus Dur lebih penting ketimbang gelar. Ya, habis mau bagaimana? Selain pulsa dan tubir (re: ribut), generasi milenial juga perlu toleransi, keberagaman, dan demokrasi di masa kini dan masa depan, kan. (A27)