Gus Ami, Metamorfosis Cak Imin?

Gus Ami Metamorfosis Cak Imin
Ketum PKB A. Muhaimin Iskandar berbicara dengan latar belakang gambar dirinya dan nama “Gus Ami” dalam Muktamar V di Bali. (Foto: Twitter @cakimiNOW)
7 minute read

Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar kini tampaknya ingin dipanggil dengan nama baru, yakni Gus Ami. Penggantian nama tersebut bisa jadi merupakan metamorfosis politik sang ketum.


PinterPolitik.com

“Metamorphosis, this is what I changed to” – Nas, penyanyi rap asal Amerika Serikat

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) baru saja melaksanakan Muktamar kelimanya di Bali. Di gelaran tersebut, Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) tampaknya mulai bermanuver. Sang ketum sepertinya telah memutuskan untuk mengganti nama panggilannya dari “Cak Imin” menjadi “Gus Ami” – singkatan dari nama lengkapnya.

Mungkin, sosok yang terpilih kembali menjadi ketum tersebut tengah bermetamorfosis. Seperti larva yang telah menjadi seekor lebah sepenuhnya, mungkin Cak Imin merasa dirinya telah bertransformasi ke bentuk dan tahapan kehidupan selanjutnya.

Boleh jadi, larva lebah yang sebelumnya tak berkaki kini telah siap melangkah dan mengepakkan sayapnya untuk menjelajahi alam luas. Di tengah-tengah kondisi alam politik yang semakin ganas, sang lebah yang telah bermetamofosis kini memiliki senjata yang bisa saja menyengat pengganggu-pengganggunya kapanpun.


Terlepas dari pengibaratan lebah ala Cak Imin dan PeKaBee – istilah yang pernah dicuitkan oleh sang ketum – tersebut, apa arti dan makna di balik nama baru Cak Imin? Lalu, mengapa sang ketum memilih nama tersebut?

Fungsi Nama dan Gelar

Penamaan dan pemberian gelar bukanlah hal yang asing dalam kehidupan manusia. Dalam kebanyakan peradaban dan kebudayaan, penamaan dan pemberian gelar memiliki fungsi dan makna tertentu.

Di Mesir misalnya, pemberian nama dan gelar merupakan hal yang lumrah dilakukan sejak zaman kuno. Günter Vittmann dalam tulisannya yang berjudul Personal Names menjelaskan bahwa nama personal bagi seseorang merupakan sebuah instrumen identifikasi dalam kehidupan – bahkan bagi memori sosial setelah orang tersebut meninggal dunia.

Vittmann menjelaskan bahwa, sejak zaman Mesir kuno, penamaan personal yang disertai dengan posisi dan gelar merupakan hal yang biasa dilakukan. Selain posisi dan gelar, penamaan genealogis berdasarkan keturunan juga sudah dilakukan sejak Periode Menengah Ketiga Mesir Kuno (1070-660 SM).

Penamaan genealogis juga digunakan di masyarakat Barat, terutama Inggris. Janet Finch dalam tulisannya yang berjudul Naming Names menjelaskan bahwa nama genealogis seseorang juga menunjukkan koneksi kekerabatan yang dimilikinya – menciptakan signifikansi dan status tersendiri atas nama tersebut.

Baca juga :
Ahok Bakal “Lompat Partai” Lagi?

Pada masa modern di Asia, signifikansi nama dan gelar genealogis ini paling terlihat pada klasifikasi sosial yang tercipta di Korea Utara (Korut). Pasalnya, nama genealogis “Kim” selalu menyertai dinasti kepemimpinan di negara tersebut.

Selain nama genealogis, pemimpin-pemimpin Korut pun memiliki sejumlah gelar yang tidak bisa dianggap sedikit. Bahkan, Kim Jong-il – pemimpin Korut kedua – meninggal dunia dengan 1.200 gelar semasa hidupnya.

Dua pemimpin terakhirnya – Jong-il dan Kim Jong-un – memiliki berbagai gelar, seperti Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader) dan Sekretaris Jenderal Kekal (Eternal Secretary General). Dengan gelar-gelar tersebut, pemimpin Korut dinilai memiliki kekuasaan yang semakin terpusat.

Terlepas dari fungsi genealogisnya, nama dan gelar turut memberikan signifikansi tertentu bagi pemiliknya. Esther van den Berg dan timnya dalam tulisan mereka yang berjudul Not My President menjelaskan bahwa penamaan dan pemberian gelar dianggap sebagai penanda bagi status dan solidaritas kelompok dalam kajian sosio-lingustik.

Dalam tulisan van den Berg tersebut, fungsi nama dan gelar sebagai penanda status dan solidaritas tersebut juga berkaitan dengan proses framing. Melalui proses tersebut, terjadi presentasi diri dari entitas politik – baik disengaja maupun tidak disengaja – mendorong terbangunnya cara pandang tertentu terhadap entitas tersebut. Proses ini juga disebut sebagai entity framing.

Presentasi diri dari entitas politik – baik disengaja maupun tidak disengaja – mendorong terbangunnya cara pandang tertentu terhadap entitas tersebut. Click To Tweet

Lantas, bagaimana dengan penggantian nama “Cak Imin” menjadi “Gus Ami?” Apakah Cak Imin tengah melakukan entity framing?

Gelar “Gus”

Penggantian nama “Cak Imin” menjadi “Gus Ami” bisa jadi memberikan ujung dan dampak politis. Selain itu, gelar “gus” juga memiliki makna tersendiri bagi kelompok tertentu.

Mungkin, gelar tersebut terdengar tidak asing bagi individu-individu yang menganggap dirinya sebagai bagian dari organisasi dan kelompok Nahdlatul Ulama (NU). Gelar “gus” kerap dilekatkan pada kiai yang berusia muda.

Selain itu, banyak pihak menilai bahwa pemberian gelar “gus” sebenarnya bersifat genealogis – berdasarkan keturunan. Gelar tersebut biasanya diberikan kepada anak laki-laki dari kiai, guru agama, atau pengasuh pondok pesantren.

Baca juga :
Pemprov DKI dan Buyarnya Mimpi

Seorang dosen dari Universitas Muhammadiyah Jember, Fitri Amalia, dalam tulisannya yang berjudul Sapaan Gelar Keagamaan pada Masyarakat Madura Jember menjelaskan bahwa gelar “gus” – dan “lora” – digunakan untuk menyapa putra kiai. Gelar-gelar tersebut kerap digunakan dalam lingkungan pondok pesantren.

Penjelasan serupa juga disampaikan oleh Mujiburrahman dalam tulisannya yang berjudul Islam and Politics in Indonesia. Dalam tulisan tersebut, dijelaskan bahwa gelar “gus” biasanya diberikan kepada putra-putra kiai. Gelar “gus” ini dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas melalui penggunaannya atas pemberitaan Presiden keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di banyak media.

Meski sebenarnya Gus Dur bukanlah seorang “gus” lagi karena telah menjadi kiai, Mujiburrahman menilai bahwa nama tersebut menunjukkan signifikansi tertentu. Setidaknya, nama dan gelar tersebut menunjukkan pentingnya latar belakang keluarga Gus Dur yang merupakan putra dari K.H. Hasyim Asy’ari – pendiri organisasi NU – dan Solichah – putri dari Kiai Bisri Syansuri yang juga merupakan salah satu pendiri NU.

Sosok dan latar belakang Gus Dur inilah yang mungkin turut membuat gelar “gus” merefleksikan status tertentu. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, nama dan gelar genealogis menunjukkan status dan jaringan keturunan.

Selain itu, gelar “gus” juga identik dengan kelompok NU. Pasalnya, terdapat anggapan di kalangan NU sendiri bahwa panggilan “gus” tersebut secara eksklusif hanya eksis di kalangan organisasi tersebut.

Lalu, bagaimana dengan penggunaan gelar “gus” oleh Cak Imin?

Cak Imin bisa jadi berhak untuk menggunakan panggilan “gus.” Pasalnya, ketum PKB tersebut secara genealogis merupakan putra dari K.H. Muhammad Iskandar yang merupakan seorang guru dan pengasuh di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif di Denanyar, Jombang, Jawa Timur yang didirikan oleh Kiai Bisri Syansuri (kakek Gus Dur).

Dengan begitu, penggantian nama Cak Imin tersebut bisa jadi tengah melakukan entity framing atas status kekerabatan yang dimilikinya. Selain itu, penggunaan gelar tersebut – seperti yang dijelaskan oleh van den Berg dan timnya – boleh jadi juga berkaitan dengan ikatan dan solidaritas Cak imin dengan kelompok NU.

Jika memang Cak Imin menggunakan nama barunya untuk menyatakan status dan solidaritas kelompoknya, apa implikasi lanjutan dari nama tersebut dalam dinamika politik?

Implikasi Politik?

Penggunaan nama “Gus Ami” bisa jadi memiliki implikasi politik. Bila dijelaskan melalui konsep entity framing, Cak Imin mungkin tengah berusaha menguatkan posisinya di PKB dan kalangan NU.

Seperti yang dijelaskan oleh van den Berg dan timnya, proses framing tersebut dapat menguatkan status dan posisi pemilik nama atau gelar tersebut. Boleh jadi, penggantian nama tersebut berkaitan dengan faksi-faksi yang terdapat di kalangan PKB dan NU.

Pasalnya, di kelompok NU sendiri, ditengarai terdapat perpecahan di antara Cak Imin dengan faksi Gusdurian – berkaitan juga dengan konflik yang terjadi antara Cak Imin dan Gus Dur di masa lalu. Salah satu figur NU yang disebut-sebut sebagai Gusdurian adalah Yenny Wahid – putri Gus Dur. Perpecahan tersebut disinyalir masih eksis dengan ketidakhadiran Yenny dan Mahfud MD dalam Muktamar PKB V.

Selain itu, penguatan posisi Cak Imin di PKB dan NU ini bisa saja berkaitan dengan pengunduran diri Rusdi Kirana – pengusaha dan pendiri Lion Air – yang sebelumnya disinyalir oleh Greg Fealy menjadi patron dan sumber kekuatan PKB dalam menyalurkan dana dan program bagi jaringan NU.

Mungkin, dengan nama “Gus Ami,” Cak Imin berusaha menunjukkan status dan posisinya sebagai figur yang kuat di PKB dan kalangan NU. Dengan begitu, sang ketum PKB berusaha menunjukkan bahwa dirinya telah bermetamorfosis menjadi lebah sempurna.

Namun, meski terdapat pergejolakan di PKB-NU, gambaran politik tersebut belum tentu benar-benar berkaitan dengan manuver penggantian nama Cak Imin. Yang pasti, pada akhirnya, metamorfosis Cak Imin menjadi “Gus Ami” tersebut depat memberikan identitas baru bagi sang pemimpin lebah tersebut.

Mungkin, transformasi Cak Imin menjadi Gus Ami ini tergambarkan dalam lirik rapper Nas di awal tulisan. Sang ketum kini tengah ingin menjadi sosok yang lebih kuat, entah sekuat apa bila dihadapkan dengan ketapel Jokowi ketika membuka Muktamar lalu. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.