FPI Merapat ke PDIP?

FPI Merapat ke PDIP?
Foto : Istimewa
2 minute read

“Bagaimana pun keadaan kita, mau sedih, bahagia, waktu tidak pernah berhenti menunggu. Waktu tetap berjalan.” ~ Tere Liye


PinterPolitik.com

Gengs, kuasa hukumnya pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab mendapat tawaran maju menjadi bakal caleg PDIP dari dapil Sumatra Barat! Itu loh bang Kapitra Ampera namanya, yang kerap muncul di tivi pas kasus Rizieq jadi pemberitaan.

Hmmm, kaget enggak kalian? Kalo eyke sih no! Tapi gak tahu deh tuh Mas Anang, barangkali yes hehehe.

Walaupun mendapat kesempatan emas seperti ini, Kapitra mengatakan masih akan berkonsultasi dengan para ulama, khususnya dengan Rizieq, terkait pencalonannya sebagai anggota legislator DPR.

Padahal harusnya ambil saja pak, kan kalau menang lumayan bisa melakukan intervensi ke pemerintah dari gedung DPR hehehe.


PDIP terlihat sangat bersemangat gengs, sampai-sampai sudah mendaftarkan nama Kapitra menjadi caleg ke TPU untuk Pemilu 2019 hehehe.

Alah, typo lagi, maksudnya KPU alias Komisi Pemilihan Umum, kalau TPU itu mah kuburan hehehe. Maaf-maaf.

Mentang-mentang FPI sama PDIP kisruh mulu, jadi bawa-bawa TPU aja nih. Tapi kalau sampai kuasa hukum pentolan FPI ini benar menerima tawaran itu, wah…….

Satu, makin gemetaran deh oposisi, dan yang kedua alhamdulillah semua jadi kondusif dan baik-baik. Kan nikmat dilihatnya hehehe.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto bilang bahwa pencalonan Kapitra ini dilakukan karena adanya dialog dengan masyarakat Sumatera Barat.

Menurut dia, masyarakat di sana menghendaki adanya jembatan untuk calon dari provinsi itu di Pemilu 2019. Wew bagus-bagus saja sih, asal jangan dibuat-buat ya isunya, nanti bisa timbul masalah baru loh!

Hasto juga menegaskan bahwa Kapitra juga warga negara yang harus ditampung aspirasinya. Apa pun aliran politiknya, mereka adalah anak bangsa yang harus diajak berdialog. Weleh-weleh top markotop.

Tapi, dengar nih apa yang disampaikan Kapitra menyambut kata-kata Hasto itu. Bang Kapitra bilang: “Ladang amal tertinggi itu bila dilakukan di tempat sulit seperti di gurun pasir. Bisa enggak kita wasilatul hasanah mewujudkan amar ma’ruf nahi munkar? Apa bisa kita jadi jembatan kebaikan? Kalau jadi jembatan kebaikan, saya siap.”

Walah mantap lah kalau begitu. Eh sebentar, lihat deh tuh gengs wajahnya kubu oposisi, kok dahinya pada mengernyit ya? Wah keringatan lagi.

Eh stop, jangan diketawain gengs, kasihan tahu hehehe. Btw ane jadi teringat ungkapan Hitler deh gengs kalau bicara diplomasi dan lobi-lobi politik gini, nih baca deh ungkapannya: “Ketika diplomasi berakhir, perang dimulai.” (G35)