Fatmawati, Perempuan Tegar Bercahaya

6 minute read

“Ketika saya dewasa, saya tanya ibu saya kenapa mau menerima keadaan itu. Ibu saya bilang, coba kamu tanya semua wanita di dunia ini, pasti hatinya membara. Tapi kalau itu untuk kemajuan dia, ibu tidak apa-apa.”


PinterPolitik.com

Selalu bersikap tegar, itulah yang selalu dikenang Megawati Soekarnoputri mengenai sosok ibunya, Fatmawati. Sebagai ibu negara pertama Republik Indonesia, namanya juga menyimpan kenangan heroik diingatan masyarakat, yaitu sebagai sosok yang pertama kali menjahitkan bendera keramat, sang saka merah putih. Jasanya ini pula yang membuat nama Fatmawati masuk dalam jajaran pahlawan nasional.

Ia tak hanya ibu bagi kelima anak-anaknya – Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh, namun juga ibu negara pertama bagi bangsa Indonesia. Di masa-masa menjelang kemerdekaan, Fatmawati selalu setia mendampingi suaminya – Ir. Soekarno atau yang sering kita sebut Bung Karno mempersiapkan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Jepang di tahun 1945.

Bahkan ketika para pejuangan muda seperti Chaerul Saleh, Soekarni, dan Wikarna menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok, Fatmawati bersikeras untuk ikut serta meski harus membawa Guntur yang saat itu masih belum berusia lima tahun. Penculikan pada 16 Agustus 1945 dini hari ini, kemudian dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok dan diyakini sebagai pemicu dibacakannya proklamasi kemerdekaan Indonesia esok harinya, 17 Agustus 1945.

Sehingga Fatmawati paham betul kalau saat itu merupakan detik-detik yang sangat genting bagi bangsanya. Jadi saat mereka kembali ke Jakarta dan mulai mempersiapkan kemerdekaan, tanpa diminta ia juga mulai mempersiapkan bendera yang akan dikibarkan nantinya. Mengenai bendera yang dijahit sendiri, ternyata terdapat dua versi yang sama-sama menyatakan telah dikonfirmasi oleh Fatmawati.


Fatmawati Perempuan Tegar Bercahaya

Versi pertama, seorang mantan tentara bernama Lukas Kustaryo mengatakan kalau kain untuk bendera yang dijahit Fatmawati berasal dari kain seprai berwarna putih dan kain tenda sebuah warung soto berwarna merah. Pernyataannya ini termuat dalam majalah Intisari, Agustus 1991. Sementara versi kedua menyatakan kalau kain merah dan putih tersebut, didapat Fatmawati dari seorang Jepang yang menjabat sebagai Kepala Sendenbu (Departemen Propaganda) Hitoshi Shimizu.

Baca juga :  Akhirnya, Golkar Tak Jadi Penonton?

Namun dalam  buku yang ditulisnya sendiri, Fatmawati menyatakan kalau pada Oktober 1944 – saat Guntur masih dalam kandungan yang berusia sembilan bulan, seorang perwira Jepang membawakannya dua blok kain berwarna merah dan putih. Saat itu, ia menduga kain tersebut berasal dari kantor Jawa Hokokai. Karena bulan sebelumnya, tepatnya pada 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Koiso berjanji akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, kelak di kemudian hari.

Entah benar atau tidak, sebuah sumber juga mengatakan kalau bendera yang disiapkan Fatmawati sebelumnya terlalu kecil, sehingga harus diganti. Sehingga pada 16 Agustus malam itu, ia harus kembali menjahit bendera baru yang ukurannya lebih besar. Menurut Sukmawati, seperti dikutip Kompas 24 Juli 2011, ibunya menjahit bendera tersebut sambil menangis terisak-isak, karena ia masih belum dapat percaya kalau Indonesia pada akhirnya merdeka, berdaulat, dan memiliki bendera sendiri.

Usai proklamasi dibacakan, konon bendera hasil jahitan mesin tangan Fatmawati terpaksa harus dibongkar oleh H. Mutahar. Pemisahan kedua kain merah dan putih ini dilakukan semata-mata untuk melindungi bendera pusaka agar tidak ketahuan dan disita oleh tentara Belanda, sejak 21 Juli 1947. Sejumlah pemimpin ditangkap Belanda, termasuk Bung Karno yang langsung diasingkan kembali ke wilayah Sumatera.

Teratai Bercahaya Dari Bengkulu

“Engkau menjadi terang dimataku. Kau yang akan memungkinkan aku melanjutkan perjuanganku yang maha dahsyat.”

Fatmawati, perempuan cantik nan bercahaya, itulah pujian Bung Karno untuk putri tunggal Hassan Din dan Siti Chadijah – pasangan pejuang dari Bengkulu. Hassan Din sendiri merupakan keturunan keenam dari Kerajaan Putri Bunga Melur, Kerajaan Indrapura Mukomuko, tepatnya berada di wilayah kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat sekarang, berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Jambi.

Baca juga :  Yasonna Hadapi Aksi “Pelajar” Lagi

Gadis dengan kulit kuning langsat dan berpenampilan bersahaja yang lahir pada 5 Februari 1923 ini, memiliki nama yang memiliki arti ‘teratai yang bercahaya’. Wajah Fatmawati yang bercahaya pula yang membuat Bung Karno langsung jatuh hati saat pertama berjumpa. Ketika itu, ia tengah diasingkan Belanda ke Bengkulu dari tahun 1938-1942. Pertemuan terjadi di rumah Fatmawati, saat Bung Karno mengunjungi teman lamanya yang tak lain adalah ayah Fatmawati.

Seperti yang kita tahu, saat itu Bung Karno sebenarnya telah menikah dengan istri keduanya, Inggit Garnasih. Walaupun tengah diasingkan, Inggit juga ikut pindah ke Bengkulu bersama kedua anaknya, Ratna Djumia dan Kartika. Namun apa dinyana, rasa cinta Bung Karno dengan Fatmawati sudah tidak dapat dapat dibendung lagi, sehingga membuat hubungan Bung Karno dan Inggit retak.

Fatmawati Perempuan Tegar Bercahaya

Di sisi lain, Fatmawati juga seakan tidak mampu menolak cinta Bung Karno yang selama empat tahun menjadi guru les bahasa Inggrisnya. Apalagi ketika Bung Karno dan Inggit akhirnya bercerai, maka ucapan kalau ia tak mau menikah dengan pria beristri dan tidak ingin dimadu, tidak berlaku lagi. Namun sebelum menikah di tahun 1943, Fatmawati tetap meminta Bung Karno untuk bersumpah tidak akan menikah lagi, dan ini langsung disetujuinya.

Sebagai putri tunggal pasangan pejuang kemerdekaan, darah ksatria juga mengalir dalam jiwa Fatmawati. Sehingga ketika Bung Karno dan para pejuang kemerdekaan harus kembali bertarung melawan Belanda yang berusaha masuk kembali ke Indonesia setelah Jepang hengkang, Fatmawati terus mendampingi Bung Karno. Begitu pun saat suaminya didaulat sebagai Presiden Pertama Indonesia, sebagai ibu negara, ia selalu setia mendampingi.

Perpisahan Yang Menyakitkan

“Biarlah orang-orang, termasuk anak-anakku, menyalahkan diriku. Aku toh seorang laki-laki. Tetapi anak-anakku wajib mencintai dan terus menghormati serta menghargai ibunya. Semua kesalahan biar ada padaku.”

Semua orang tahu, selama hidupnya, Bung Karno memiliki sembilan istri. Namun dari kesemua istrinya itu, dalam sebuah memoar, pahlawan proklamasi itu mengatakan kalau hanya Fatmawati lah yang ia anggap sebagai ibu negara. Ini dibuktikan dengan tidak ada satu istri pun yang pernah tinggal di Istana Merdeka, selain Fatmawati dan kelima anaknya. Bahkan hingga kini, walaupun Bung Karno juga memiliki beberapa anak dari istri lainnya, anak-anak dari Fatmawati lah yang berhak menyatakan dirinya sebagai Trah Soekarno yang sah.

Baca juga :  Sebelum Pak Jokowi Bosan

Walaupun Fatmawati memperbolehkannya melanggar sumpah pra nikah dan menikahi Hartini, namun Bung Karno juga mengaku sedih karena Fatmawati tetap teguh dengan prinsip anti poligami dan keinginannya untuk bercerai akibat tidak mau dimadu. Kegigihan Bung Karno untuk mempertahankan pernikahan ini pula yang pada akhirnya membuat Fatmawati dan putra pertamanya, Guntur, keluar dari Istana dan memilih tinggal di rumah pribadinya di Kebayoran Baru.

Pada masa ini pula, Fatmawati kembali ingat dengan Inggit, istri kedua Bung Karno yang terpaksa dicerai hanya untuk menikahi dirinya. Kabarnya, setelah berulang kali mencoba bertemu untuk meminta maaf, pada akhirnya Fatmawati diterima Inggit di rumahnya di Bandung. Di saat itu pula, Fatmawati bersimpuh di kaki Inggit, meminta maaf atas apa yang pernah ia timpakan padanya.

Walau Fatmawati mendapatkan maaf dari Inggit, namun tidak begitu sebaliknya dengan Hartini. Walaupun setelah Hartini, Bung Karno masih menikah beberapa kali lagi, namun Fatmawati tetap tidak mampu memaafkan Hartini dan Bung Karno. Baru setelah sekitar 15 tahun, keduanya baru bertemu lagi pada pernikahan Rachmawati. Melihat Bung Karno yang telah sakit keras dan menjadi tahanan rumah oleh Soeharto, kedatangan Bung Karno membuat kekerasan Fatmawati luluh dan berlari memeluknya sambil menangis. Walau bagaimana pun rasa sakit hatinya, perasaan cinta Fatmawati pada Bung Karno tetap bersemayam di hati. (R24)