Dua Kilometer Bro-mance Sipil-Militer

Dua Kilometer Bro-mance Sipil-Militer
Foto: istimewa
3 minute read

“Politik dan loyalitas itu berarti kesetiaan menjaga kepentingan rakyat, kesetiaan menjaga keutuhan dan kesatuan wilayah NKRI, kesetiaan pada pemerintah yang sah”, sebut Pakde Jokowi. Berarti ada tanda-tanda nggak setia ya, Pakde?


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]P[/dropcap]residen mana yang mau jalan kaki 2 kilometer dan berpanas-panas sampai keringat? Pakai jas lengkap segala lagi.

Mungkin hanya Jokowi yang melakukan hal itu. Semua kemewahan, mobil, helikopter, atau bahkan pesawat tergantikan oleh jalan kaki.

Ya, hanya jalan kaki saja satu-satunya pilihan, apalagi kemacetan yang parah di sekitar lokasi peringatan ulang tahun TNI membuat semua moda transportasi menjadi mustahil untuk digunakan.

Tapi, zaman sekarang, memang sulit menemukan orang yang masih mau jalan kaki ke mana-mana, apalagi sampai dua kilometer lagi jalan-nya. Apalagi kids zaman now, pasti akan mencak-mencak kalau disuruh jalan kaki. Dua puluh meter saja mungkin tak akan ada yang mau jalan kaki. Maklumlah, generasi baby shark: hiu sih, tetapi masih bayi.


Keputusan Jokowi yang rela jalan kaki menunjukkan betapa Jokowi memandang penting acara peringatan ulang tahun TNI tersebut. Ini juga menunjukkan pengorbanan Jokowi untuk menghadiri acara militer ini. So sweet banget, Pakde.

Namun, jika melihat isi pidato Jokowi saat acara tersebut, sesungguhnya menunjukkan kegelisahan yang mendalam dari sang panglima tertinggi ini.

Apalagi ketika Jokowi menyinggung soal kesetiaan TNI pada pemerintahan yang sah. Itu artinya, boleh jadi TNI selama ini belum setia sepenuhnya pada pemerintahan sekarang yang kebetulan dipimpin oleh orang dari golongan sipil.

Oleh karena itu, bro-mance Jokowi dan TNI lewat jalan kaki 2 kilometer ini memang menunjukkan perspektif yang berbeda dari hubungan sipil-militer yang dalam sebulan terakhir ini terlihat gerah-gerahan lagi.  Setidaknya bro-mance Jokowi dan TNI tidak canggung seperti aksi salaman antara Menkopolhukam, Kapolri dan Panglima TNI sehari sebelumnya – malu-malu gimana gitu.

Jalan kaki 2 kilometer ini juga menunjukkan bahwa Pakde sadar betul pentingnya TNI untuk menopang pemerintahannya dalam sisa dua tahun nanti. Tanpa adanya dukungan TNI, ribut terus lah republik ini. Wong menteri aja yang pembantu presiden juga pada gaduh semuanya, apalagi yang lain-lain.

Pada akhirnya kita pun menyaksikan kecanggihan alat-alat tempur milik TNI, mulai dari kapal selam, hingga pesawat-pesawat pengebom.

Sayang, kita belum bisa menyaksikan helikopter AW 101 yang masih terparkir dengan cantik gara-gara mark up anggaran. Kasihan loh pak, udah mahal-mahal dibeli malah dianggurin. Kayak pacar saya dong, sering-sering diapelin, biar makin langgeng hehe.

“Woi, Dul, mandi dulu sana! Badan lu bau arloji, yang harganya 1,8 ember, tapi dikasih sama orang yang udah meninggal!”

Di tempat lain, mantan jenderal itu memandang sendu kuda-kuda gagah peliharaannya. Apa dijual saja, ya, buat dana kampanye? Di atas meja tergeletak koran pagi dengan hasil survei terbaru di halaman depan. Aku kok makin loyo, ya?

Gerimis di Mako Brimob, dan sepucuk surat balasan itu menyebar cepat. Terima kasih untuk bantuannya yang selalu menyediakan makanan dan minuman untuk saya…

Duh pak, banyak yang masih hancur hatinya…

(S13)