Dompet Jokowi Tak Setipis ATM

tabloid kerja nyata
Jokowi. (Foto: Republika)
3 minute read

“Uang seringkali menuntut terlalu banyak.” ~Ralph Waldo Emerson


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]agi ini rasanya sendu. Namun ku tetap meminum kopiku barang seteguk-teguk demi teguk. Ahhh, mencicipi kopi ini rasanya sama seperti sedang merindumu, pahit namun nikmat. Hmmm…

Sembari meminum kopi, seperti biasa ku buka tabloid yang selalu tersedia di meja teras rumahku. Tapi kali ini bukan tabloid gosip yang biasa dibeli mamakku. Namanya, Tabloid Kerja Nyata. Ku buka selembar demi selembar, dan aku pun kecewa. Soalnya di tabloid ini nggak ada ralaman zodiaknya. Hikss

Ehh, tapi tabloid macam apa ini? Isinya kok ngebanding-bandingin Jokowi dengan Prabowo Subianto? Berdasarkan kategori pengalaman di pemerintahan, Jokowi ditulis pernah menjabat sebagai wali kota Solo, gubernur DKI Jakarta, dan presiden RI. Hmm, tapi kok Prabowo diisinya hanya dengan gambar jempol terbalik?

Weleh-weleh, hanya karena Prabowo belum pernah duduk di kursi pemerintahan, lantas doi bisa dibilang cupu? Tapi Jokowi kan juga belum pernah menjadi Komandan Jenderal Kopassus dan Panglima Kostrad seperti Prabowo. Gimana, dong? Ckckckck.

Terus ada lagi kategori Penghargaan/Award. Jokowi ditulis mendapatkan Penghargaan Langit Biru 2019, Wali Kota Teladan 2011, Bung Hatta Anti-Corruption Award 2010, Pelopor Inovasi Pelayanan 2010, Indonesia Tourism Award 2019, Manggala Karya Negara 2008. Sedangkan Prabowo lagi-lagi dapat tanda jempol ke bawah.

Waduhh, masa iya Jokowi punya delapan penghargaan, tapi Prabowo nggak ada sama sekali?

Ya, kalau mau objektif ya, sebenarnya punya jabatan tinggi di militer juga bisa dibilang prestasi sih. Jokowi punya banyak penghargaan karena pernah jadi pejabat aja. Sedangkan Prabowo belum pernah duduk di pemerintahan.

Dari tulisan-tulisannya yang bagus-bagusin Jokowi dan jelek-jelekin Prabowo, ku langsung sadar, tabloid ini pasti buatan timses Jokowi-Ma’ruf Amin. Dan benar saja, ketika ku cari di media online, tabloid ini ternyata dikeluarkan oleh TKN, dan akan diterbitkan dua minggu sekali sebanyak 100.000 eksemplar per edisinya. Buanyaakk bener yak… Ada yang baca juga kagak. Bakar duit terus….

Dari pada uangnya dipakai buat kampanye nggak jelas untung nggaknya, mending dibagi-bagi buat usaha rakyat... Click To Tweet

Aku pernah dengar dari temanku yang seorang wartawan, media cetak itu biasanya menghabiskan dana Rp 25.000-30.000 per eksemplar. Makanya media cetak hanya mendapatkan keuntungan dari iklan. Nah, pertanyaannya sekarang, kalau ternyata tabloid kali ini dicetak 100.000 eksemplar, kira-kira berapa bujet yang harus dikeluarkan timses Jokowi? Bisa menghabiskan uang 2,5-3 miliar dong?

Itu baru ongkos cetaknya aja ya. Belum ongkos buat bayar penulisnya dan ongkos distribusinya. Beuhhh, bisa jadi biayanya lebih besar lagi.

Ish, ish, ish… Padahal kemarin Pakde bilang nggak punya uang untuk kampanye. Tapi beli sabun pencuci piring 2 miliar, terus sekarang bikin tabloid yang sekali cetak ngabisin dana miliaran rupiah. Kayaknya pakde dapat banyak sumbangan kampanye nih. Kira-kira yang nyumbang pada minta imbalan nggak ya kalo Pakde berhasil menang di Pilpres nanti? (E36)