Dinasti Jokowi, Siapa Untung?

Dinasti Jokowi, Siapa Untung?
Keluarga Jokowi-Ma'ruf Amin (Foto: PinterPolitik.com)
7 minute read

Setelah anak Ma’ruf Amin menyatakan diri maju pada Pilkada Tangerang Selatan untuk tahun 2020, kini giliran anak dan menantu Jokowi yang dikabarkan masuk bursa kontestasi elektoral yang sama di Solo dan Medan. Hal ini menguatkan kemungkinan lahirnya dinasti politik baru di Indonesia.


PinterPolitik.com

Jika anak Mar’ruf, Siti Nur Azizah, maju dalam Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Tangerang Selatan, menantu Jokowi, Bobby Nasution, masuk dalam bursa Pilwakot Medan.

Nama Bobby mungkin tidak terlalu mengejutkan karena pada Desember 2018  lalu, Jokowi sudah mengatakan bahwa menantu keduanya tersebut sudah punya feeling politik.

Namun, tidak berhenti di situ, nama anak Jokowi, Kaesang Pangarep dan Gibran Rakabuming Raka, juga masuk dalam survei Pilwakot Surakarta (Solo). Nama keduanya muncul berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Universitas Slamet Riyadi (Unisri)

Memang, hingga kini baru Nur Azizah yang yang sudah secara terang-terangan mendeklarasikan akan maju dalam Pilwalkot Tangsel 2020. Sementara Bobby, Kaesang, dan Gibran masih belum mendeklarasikan diri karena memang nama mereka muncul dari pihak luar.


Sejauh ini Jokowi mengatakan bahwa ia akan mendukung apapun pilihan anak-anaknya, baik menjadi pengusaha ataupun terjun ke dunia politik.

Sementara sebagian besar partai politik (parpol) merespon isu ini secara normatif. Maklum, kebanyakan Parpol masih disibukkan dengan berbagai manuver rekonsiliasi dan susunan kabinet serta musyawarah nasional-nya masing-masing 

Lalu, mengapa nama ketiga orang ini muncul beberapa waktu terakhir? Apa benar mereka memiliki peluang dalam Pilkada 2020?

Kekuatan Menantu dan Anak Presiden

Menurut Brian D. Feinstein, ada dua keuntungan yang dimiliki oleh seorang kandidat politik yang memiliki kerabat keluarga yang duduk dalam jabatan politik

Pertama, keuntungan modal sumber daya dan modal politik. Sejak maju sebagai wali kota dan terpilih menjadi presiden dua periode, Jokowi sudah memiliki berbagai koneksi sumber daya dan politik, baik dari parpol, ormas, ataupun barisan pengusaha.

Baca juga :  Yusril “Disalip” Para Milenial?

Jika Boby, Kaesang, dan Gibran benar maju dalam Pilkada 2020, koneksi yang sudah dibangun Jokowi di atas dapat digunakan kembali oleh ketiganya.

Sosok Jokowi sebagai tokoh politik juga membuka akses bagi ketiganya untuk mendapatkan sosialisasi dan edukasi seputar dunia politik baik dari Jokowi sendiri maupun dari tokoh politik lainnya.

Keuntungan kedua adalah brand name, yaitu bagaimana popularitas dan pengaruh yang sudah melekat pada seorang aktor politik juga melekat pada anggota keluarganya yang lain.

Ya, walaupun Gibran mengatakan bahwa jika dia benar terjun ke dunia politik dia akan menjadi politikus yang mandiri, tentu dalam kontestasi politik nanti citra ketiganya otomatis tidak dapat dipisahkan dari sosok Jokowi.

Merek “Jokowi” yang melekat pada ketiganya memiliki daya tarik tersendiri bagi para pendukung Jokowi untuk kemudian memberikan dukungannya kembali terhadap mereka.

Hal ini akan sangat terlihat jika Kaesang dan Gibran memang pada akhirnya terjun dalam Pilkada dan memilih Kota Solo sebagai “medan pertempurannya”.

Selain karena sosok keduanya sebagai putra daerah, popularitas Jokowi di kota ini cukup tinggi sejak pertama kali ia mejabat sebagai wali kota pada tahun 2005. Hal ini terbukti pada Pilpres 2019 di mana Jokowi-Ma’ruf Amin masih dapat memenangkan 82 persen suara masyarakat Solo.

Di wilayah yang sama, partai pendukung Jokowi yaitu PDIP, PKB dan Golkar juga mendominasi pemilihan legislatif. PDIP sendiri bahkan berhasil memenangkan hampir dua pertiga kursi DPRD Surakarta setelah memenangkan 55 persen suara.

Di sisi lain, Bobby mungkin akan lebih mengalami kesulitan di Medan karena Jokowi hanya mampu mengamankan 45 persen suara untuk Pilpres 2019. Sementara untuk pemlihan legislatif, meskipun PDIP keluar sebagai pemenang, peringkat kedua dan ketiga ada di Gerindra dan PKS.

Namun, bukan berarti ketiganya hanya mengandalkan popularitas Jokowi semata. Terlepas dari statusnya sebagai menantu dan anak presiden, ketiganya dikenal sebagai anak muda yang sukses sebagai pengusaha.

Bobby sukses dalam bisnis properti, sementara Kaesang dan Gibran sukses dalam bisnis kuliner. Selain itu ketiganya juga cukup aktif di berbagai platform media sosial dan sering melakukan interaksi dengan netizen ataupun figur publik lainnya.

Baca juga :  Erick Thohir “Kubur” Warisan Rini?

Hal-hal ini membuat ketiganya cukup populer di mata masyarakat, khususnya kalangan milenial

Pertanyaan yang kemudian tidak kalah menarik adalah siapa yang diuntungkan jika natinya Bobby, Kaesang, ataupun Gibran terpilih sebagai wali kota?

Dinasti Untuk Siapa?

Bisa saja keinginan untuk terjun ke dunia politik berasal dari lingkaran keluarga Jokowi itu sendiri. Ketiganya ingin berpolitik, atau Jokowi yang justru meminta ketiganya untuk melanjutkan karier politik keluarga.

Apalagi lima tahun ke depan adalah periode terakhir Jokowi, sehingga keuntungan-keuntungan sebagai keluarga yang sudah dijelaskan sebelumnya mungkin akan hilang. Berdasarkan pertimbangan tersebut, mungkin kesempatan emas satu-satunya ada di Pilkada 2020.

Namun, peran pihak luar juga tidak dapat dihilangkan begitu saja, terlebih lagi karena Jokowi sendiri memerlukan barisan parpol dan pengusaha dalam Pilkada maupun Pilpres yang telah dimenangkannya.

Nico Harjanto dalam tulisannya yang berjudul Politik Kekerabatan dan Institusionalisasi Partai Politik di Indonesia, parpol memiliki ketertarikan untuk mendukung kandidat yang memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh politik yang sedang menjabat.

Hal ini berkaitan dengan popularitas, akses terhadap sumber daya, serta kemampuan mobilisasi massa sang kerabat dari kandidat tersebut. Ketertarikan ini akan semakin menguat jika parpol tersebut tidak memiliki kandidat yang sebanding.

Jika memang menantu atau anak Jokowi maju berkat dukungan parpol, tidak menutup kemungkinan bahwa dukungan tersebut merupakan usaha parpol tertentu untuk semakin dekat dengan Jokowi dengan alibi sudah membantu anaknya menang Pilkada.

Keterlibatan sektor bisnis juga tidak bisa dihindarkan. Pertalian bisnis dengan politik sudah menjadi hal yang biasa.

Barisan pebisnis biasanya memberikan bantuan dana kepada salah satu calon dengan harapan adanya balasan berupa akses terhadap kekuasaan, terakomodasinya kepentingan bisnis, dan terbitnya regulasi yang menguntungkan kepentingannya.

Lalu, kenapa ketiganya butuh dana dari sektor bisnis?

Kementerian Dalam Negeri pernah menyebutkan bahwa calon bupati atau wali kota membutuhkan biaya sebesar Rp 20 miliar hingga Rp 30 miliar ketika ikut serta dalam sebuah kontestasi elektoral.

Baca juga :  Risma Siap Salam Ala Presiden?

Berdasarkan laporan Pilpres 2019, Jokowi memang memiliki kekayaan sebesar Rp 50,25 miliar. Sementara harta kekayaan Bobby, Kaesang, Gibran, ataupun anggota keluarganya yang lain belum pernah dibuka kepada publik.

Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua politik kekerabatan ataupun politk dinasti di Indonesia berakhir pada kesuksesan.

Dalam Pilkada tahun lalu misalnya, banyak kandidat dinasti politik yang mengalami kekalahan. Ambil contoh kekalahan Karolin Margret Natasha di Kalimantan Barat, Ichsan Yasin Limpo di Sulawesi Selatan, dan Dodi Reza Alex di Sumatera Selatan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa kesuksesan seorang aktor politik tidak serta meta menular ke anggota keluarganya yang lain. Saat ini masyarakat juga dinilai lebih pintar dalam memberikan hak suaranya, sehingga popularitas saja tidak cukup.

Pun dalam survei yang dilakukan Unisri, Kaesang dan Gibran baru memiliki peringkat tinggi dalam aspek popularitas. Sementara tingkat akseptabilitas dan elektabilitas keduanya masih rendah.

Terakhir, majunya menantu dan anak Jokowi dalam Pilkada 2020 justru bisa memberikan dampak negatif pada Jokowi secara individu maupun keluarga.

Memang, secara hukum sah-sah saja jika dalam suatu keluarga ada beberapa anggotanya yang terjun ke dunia politik. Namun, publik bisa saja punya pendapat lain.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh International Foundation for Electoral System (IFES) dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) tahun 2014, dinasti politik dilihat sebagai suatu hal yang negatif oleh 46 persen masyarakat.

Lebih jauh lagi, menurut pengamat politik Dedi Kurnia Syah Putra, dinasti politik ini akan mencoreng citra Jokowi yang selama ini dikenal sederhana dan tidak menarik kehidupan keluarganya dalam politik praktis.

Menarik untuk digali lebih dalam siapa sebenarnya yang mendorong majunya Bobby, Kaesang dan Gibran dalam Pilkada 2020. 

Jika ternyata dorongan utama datang dari internal keluarga, terutama dari Jokowi itu sendiri, bisa jadi pencalonan ketiganya memperlihatkan sinyal Jokowi yang tidak ingin pengaruh politiknya berhenti begitu saja sehabis 2024 nanti. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (F51)

Mau tulisanmu terbit di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.