Di Balik Tagar #BapakHoaxNasional

Jokowi BapakHoaksNasional
Presiden Indonesia Joko Widodo (Foto: istimewa)
6 minute read

Tagar #BapakHoaksNasional mampu menjadi trending topic di twitter selama dua hari berturut-turut, mengalahkan tagar #KoalisiPlastik buatan para pendukung Jokowi.


PinterPolitik.com

Drama hoaks Ratna Sarumpaet sudah terungkap. Pemukulan terhadap sang aktivis tidak pernah benar-benar terjadi. Kini, seluruh mata tertuju pada sosok Prabowo Subianto. Sebelum Ratna angkat suara, Prabowo memang gencar membela Ratna di depan awak media. Bahkan, ia mengatakan bahwa pemukulan terhadap Ratna bermuatan politis.

Akan tetapi, setelah Ratna mengakui kebohongannya, serangan justru berbalik kepada kubu Prabowo. Berbagai komentar pun berdatangan. Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany mengatakan kubu Prabowo telah cuci tangan dengan mengatakan diri mereka sebagai korban, sedangkan sebelum semua terungkap, kubu Prabowo ramai-ramai menyebarkan hoaks itu di media sosial.

Selain dihujani kritik, 17 politisi, termasuk Prabowo dan Sandi juga dipolisikan oleh Farhat Abbas karena telah ikut menyebarkan hoaks. Peneliti Lembaga Survei (LSI) Denny JA, Rully Akbar mengatakan insiden hoaks ini berpotensi menurunkan elektabilitas Prabowo-Sandi pada Pilpres 2019.


Namun, kubu Prabowo tidak kehabisan akal. Alih-alih bersikap defensif, mereka justru melakukan serangan kedua balik dengan melempar isu #BapakHoaksNasional di media sosial. Tagar itu ditujukan kepada Jokowi karena dianggap telah membohongi rakyat dengan janji-janjinya selama ini.

Lalu, apakah strategi serangan kedua ini berhasil membuat elektabilitas Jokowi jatuh? Atau justru akan berbalik  menjadi “blunder” bagi kubu Prabowo?

Counter-Attack Prabowo

Politisi di kubu Prabowo seperti Fadli Zon baru saja menggelar konferensi pers. Setelah diserang oleh berbagai kritik karena dianggap telah membohongi publik dengan kasus Ratna, Fadli Zon tetap berdalih bahwa ia merupakan korban hoaks.

Menariknya, dalam kesempatan itu Fadli Zon mempertanyakan mengapa pihak kepolisian tak mampu mengungkap kasus Novel Baswedan seperti mengungkap kasus Ratna Sarumpaet. Pendapat ini mungkin saja dialamatkan kepada Jokowi, karena ia mengatakan kasus Novel Baswedan itu gagal terungkap sekalipun sudah dapat instruksi khusus dari presiden.

Hal serupa dilakukan oleh Fahri Hamzah dengan mengatakan bahwa mengapa tak ada pengusutan terhadap persekusi Neno Warisman dan Herman.  Ia juga mengatakan dusta terbesar justru dilakukan oleh penguasa. Fahri menyatakan sebesar-besarnya bohong yang dibuat oleh orang yang tak berkuasa pastilah lebih besar akibat dusta para penguasa. Ia menyinggung pelemahan kurs dollar, pengurangan subsidi masyarakat dan meningkatnya kemiskinan.

Selain para politisi, media sosial twitter juga ramai dengan tagar #BapakHoaksNasional dengan mengalamatkan Jokowi sebagai pusat hoaks sebenarnya. Para warganet singgung janji Jokowi yang belum ditepati seperti perbaikan ekonomi, tidak utang ke luar negeri, tidak mengimpor pangan, hingga buy back Indosat. Janji-janji itu memperkuat anggapan bahwa Jokowi telah membohongi rakyatnya.

Maka bisa saja tagar #BapakHoaksNasional merupakan strategi counter-attack dari kubu Prabowo dalam menghadapi serangan petahana. Mereka coba memanfaatkan momentum hoaks Ratna dengan mengevaluasi kinerja dan janji-janji pemerintahan Jokowi selama ini.

Sun Tzu, dalam buku The Art of War mengatakan untuk mengamankan diri dari kekalahan ada di tangan sendiri, tetapi kesempatan untuk mengalahkan musuh adalah disediakan oleh musuh sendiri. Sun Tzu seperti ingin mengatakan terkadang kemenangan dalam pertempuran dapat diraih karena pihak musuh sendiri yang memberikan kesempatan itu.

Dalam konteks politik Indonesia saat ini, kasus kebohongan Ratna memang jadi pukulan bagi kubu Prabowo. Namun, pihak oposisi tak kehabisan akal. Mereka justru seperti melihat celah dari kasus tersebut, dimana mereka berupaya memanfaatkan momentum hoaks untuk membeberkan kebohongan-kebohongan pemerintah selama ini.

Serangan itu datang ketika kubu Jokowi sedang asik bereuforia dengan kasus Ratna. Alih-alih ingin menyerang kubu Prabowo, kasus Ratna malah dijadikan momentum untuk mengevaluasi janji-janji   presiden. Apalagi politisi seperti Fahri Hamzah ikut meramaikan media sosial dengan mengatakan pemerintahlah pusat hoaks sebenarnya.

Maka teori Sun Tzu bisa saja benar. Jokowi telah memberi ruang bagi musuh untuk melakukan serangan balik. Hal ini dikarenakan serangan atas kasus Ratna ke kubu Prabowo justru malah memakan tuannya sendiri.

Tagar Melemahkan Jokowi?

Tagar #BapakHoaksNasional mampu menjadi trending topic di Twitter selama dua hari berturut-turut, mengalahkan tagar #KoalisiPlastik buatan para pendukung Jokowi. #BapakHoaksNasional adalah kritik terhadap Jokowi karena dianggap telah membohongi rakyat dengan janji-janji politiknya.

Hasil survei dari Indonesia Development Monitoring (IDM) memperkuat tagar tersebut. Disebutkan bahwa kinerja pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla dalam bidang ekonomi dianggap gagal. Alasannya karena Jokowi tak menepati janji seperti menolak utang luar negeri pada saat kampanye di 2014.

Jokowi wajib waspada. Tagar #BapakHoaksNasional jelas bisa merugikan Jokowi. Bukan tak mungkin tagar itu akan menyadarkan masyarakat bahwa Jokowi memang belum mampu melaksanakan janji-janji kampanyenya. Sehingga kritik hoaks terhadap Ratna justru menjadi ruang tersendiri bagi kubu Prabowo untuk suarakan dugaan hoaks Jokowi selama ini.

Di sisi lain, counter-attack itu tentu saja akan menguntungkan Prabowo. Publik bisa menilai apakah Jokowi masih layak memimpin dengan mengukur pelaksanaan janji-janjinya saat ia memimpin.

Roger L Martin, Direktur Martin Prosperity Institute menyatakan bahwa kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika bukanlah karena tindakan Trump sendiri, tetapi juga karena kebetulan Trump menghadapi lawan yang tidak kompeten.

Kesalahan-kesalahan Trump justru tak membuat dia kalah dalam pertarungan. Sebagaimana kubu Prabowo saat ini, mungkin saja Prabowo bisa menang karena ia berhasil mengubah kesalahannya menjadi momentum untuk mengkritik balik Jokowi.

Serangan balik dalam tagar #BapakHoaksNasional bisa saja terjadi karena kubu Jokowi memang tidak kompeten dalam membaca situasi. Sehingga serangan terhadap Prabowo atas dugaan hoaks justru bisa diatasi dengan cepat, malah mereka bisa melakukan serangan lagi kepada Jokowi.

Hari Anti Hoaks Nasional

Belum lagi, serangan-serangan dari Fahri Hamzah dan Fadli Zon sejauh ini belum diserang balik oleh para politisi pendukung Jokowi. Politisi di barisan Jokowi seperti Tsamara, masih memainkan isu hoaks untuk menyerang Prabowo. Mereka tak sadar bahwa musuh sedang menggerogoti tubuh mereka ketika mereka merasa berada di atas angin.

Sun Tzu pernah mengatakan untuk memenangkan peperangan, biarkanlah musuh sampai ke atas. Lalu jauhkan tangga ketika musuh telah benar-benar sampai di atas. Kubu Prabowo seperti sedang menerapkan apa yang dikatakan oleh Sun Tzu.

Mereka seperti membiarkan musuh sejenak berada di atas, lalu mereka menjatuhkan tangga sehingga musuh bisa dikalahkan dengan mudah. Sekilas, Prabowo mungkin dirugikkan dengan kasus Ratna, tetapi karena kecerdikkan dalam berstrategi, maka kubu Prabowo dapat membalikkan situasi dengan cepat.

Sekilas, Prabowo mungkin dirugikkan dengan kasus Ratna, tetapi karena kecerdikkan dalam berstrategi, maka kubu Prabowo dapat membalikkan situasi dengan cepat. Click To Tweet

Saat ini, Jokowi kembali diingatkan dengan janji-janji politiknya selama ini. Kubu Prabowo menggemborkan bahwa pemerintahlah sebagai pusat hoaks sebenarnya.

Maka Pilpres kali ini menjadi semakin menarik, karena kubu Prabowo terlihat semakin mantap dalam berstrategi. Lalu, kira-kira strategi apalagi yang akan digunakan oleh kubu Jokowi untuk menghadapi tagar #BapakHoaksNasional? Mungkinkah mereka hanya diam? (D38)