Di Balik Politik Macho-isme Prabowo

Di Balik Politik Macho-isme Prabowo
Prabowo menyapa kerumunan pendukungnya. (Foto: AyoBandung)
6 minute read

Beberapa hari lalu, peristiwa unik aksi Prabowo yang melepaskan kemeja safarinya dan melemparnya ke arah kerumunan pendukungnya di Subang di tengah cuaca yang sedang hujan berhasil menarik perhatian publik melalui cuplikan video yang viral. Spontan atau penuh perhitungan politik?


PinterPolitik.com

In the modern world, those who are weak will get unambiguous advice from foreign visitors which way to go and what policy course to pursue.” – Vladimir Putin, Presiden Rusia

Tindakan yang dilakukan Prabowo Subianto itu pun tentu menimbulkan banyak tanggapan dari masyarakat, tak terkecuali dari kubu lawan. Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)- Ma’ruf Amin, Inas Nasrullah Zubir, mempertanyakan tujuan dan esensi dari tindakan tersebut. Bagi politisi Hanura itu, tindakan Prabowo tersebut hanya pencintraan belaka yang lebih baik diganti dengan penjelasan mengenai program-program yang ditawarkan.

Membela aksi junjungannya, Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa tindakan membuka baju itu merupakan reaksi spontan ketika kemeja Prabowo diminta oleh pendukungnya. Hal itu pun dianggap sudah biasa oleh Dahnil, mengingat Prabowo merupakan mantan prajurit TNI.

Tentu, peristiwa seperti ini menimbulkan pertanyaan. Dengan ketegangan yang ditimbulkan oleh kontestasi Pilpres 2019, setiap tindakan kandidat dianggap memiliki dimensi politik di dalamnya. Lalu, apa tujuan sebenarnya Prabowo melakukan “buka baju” di hadapan publik itu?

Mengirim Sinyal Kekuatan

Prabowo dengan “buka baju”-nya bukanlah hal baru dalam diskursus Pilpres 2019. Selain apa yang terjadi di Subang, Prabowo juga pernah terlihat melakukan tindakan yang sama beberapa waktu sebelumnya.


Mantan Danjen Kopassus itu pernah melakukannya pada April 2018 ketika ia memutuskan untuk maju dalam Pilpres 2019. Pada saat itu, beredar video kader-kader Gerindra yang sedang melakukan arak-arakan dengan mengangkat Prabowo yang bertelanjang dada.

Di hadapan media, petinggi-petinggi Partai Gerindra menyatakan bahwa kejadian tersebut merupakan bentuk pernyataan terkait kesiapan Prabowo guna mencalonkan diri dalam Pilpres 2019. Kejadian tersebut juga ditujukan untuk mempertegas kesehatan dan kekuatan fisik menantu Soeharto itu.

Tindakan-tindakan “buka baju” Prabowo ini juga berkaitan dengan banyaknya isu yang beredar mengenai fisik Prabowo yang sedang sakit. Informasi simpang siur misalnya yang menyebut dirinya terkena penyakit stroke sangat mungkin menjadi salah satu penyebab aksi tersebut dilakukan.

Gerindra kemudian mengoptimalkan citra politik Prabowo dengan mengandalkan sisi maskulinitas sang jenderal. Hal itu juga untuk menepis keraguan akibat narasi yang beredar bahwa Prabowo mempertimbangkan untuk tidak maju mencalonkan diri karena merasa terlalu tua. Pada Februari 2018 misalnya, Jokowi sempat ditantang untuk melakukan adu lari dengan Prabowo.

Hal yang serupa juga terjadi pada tahun yang sama. Pada April 2018, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon melalui cuitannya mencoba menantang Jokowi untuk “pamer” dada seperti yang dilakukan Prabowo.

Selain itu, sebelum video “buka baju” Prabowo yang viral awal Maret 2019 ini, Prabowo juga pernah dikabarkan sakit ketika tidak hadir dalam Konsolidasi Nasional PKS. Tentu, kabar-kabar mengenai sakitnya Prabowo dapat saja melemahkan citra maskulinnya dalam perpolitikan di Indonesia. Oleh sebab itu, tindakan “buka baju” awal Maret 2019 ini bisa jadi merupakan upaya mensinyalir kesehatan dan kekuatan fisik Prabowo.

Jika dibandingkan dengan fenomena lain yang mirip, apa yang dilakukan Prabowo mungkin saja memiliki kepentingan yang sama dengan apa yang dilakukan Vladimir Putin, Presiden Rusia. Putin sendiri dikenal memiliki citra, baik secara domestik dan internasional, sebagai pria yang macho.

Citra Putin yang kuat ini dibangun dengan penyebaran foto-foto dirinya yang menunjukkan kuatnya mantan agen KGB itu sebagai individu. Dalam beberapa foto, Putin terlihat bertelanjang dada menyusuri hutan Rusia dengan berbagai aktivitas, seperti memancing, berburu, dan menunggangi beruang.

Citra yang dibangun ini tentu bukan tanpa kepentingan. Vox dalam salah satu videonya yang diunggah menjelaskan bahwa berbagai aktivitas yang dilakukan Putin dalam foto-foto tersebut, selain menunjukkan nilai-nilai maskulinitas Rusia, juga memberikan sinyal bahwa Putin masih memiliki kekuatan dan kesehatan fisik yang tangguh untuk memimpin Rusia.

Secara politik, Putin berusaha mengamankan kekuasaannya melalui pesan implisit yang disampaikan dalam foto-foto tersebut. Sebagai kekuatan yang sentral di Rusia, Putin mampu dan bertujuan untuk mengantongi dukungan masyarakat umum maupun elite politik secara kontinu di Rusia.

Selain itu, keberhasilan pembangunan citra Putin pun juga berpengaruh secara internasional. Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS), juga seringkali memuji persona strongman atau kesan orang kuat yang dibawa Putin, meskipun situasi politik domestik negeri Paman Sam itu masih memiliki masalah terkait tuduhan campur tangan Rusia di Pilpres 2016.

Konteks ini nyatanya punya dimensi internasional karena World Economic Forum (WEF) telah menyebut bahwa ada fenomena “charismatic strongman politics” atau politik karismatik orang kuat yang tengah menanjak secara global. Menurut WEF, kebangkitan politik semacam ini menjadi risiko global yang dapat memicu konflik geopolitik. Dalam konteks Prabowo, sangat mungkin hal ini juga berkaitan dengan fenomena tersebut.

Pesona Pemimpin Strongman

Terkait persona strongman, Prabowo pun tidak asing dan sangat identik dengan persona semacam ini. Pembangunan citra maskulin dengan persona strongman ini dilakukan Prabowo guna menghadapi kontestasi politik, baik pada tahun 2014 maupun pada tahun 2019.

Pada Pilpres 2014, pembangunan citra Prabowo dengan persona strongman terlihat cukup membantu peningkatan suaranya. Dominic Berger, dalam tulisannya yang berjudul Prabowo and the Art of Being Tegas, menjelaskan bahwa data antar-bulan pada tahun 2014 menunjukkan adanya peningkatan signifikan citra Prabowo dalam hasil survei di masyarakat mengenai calon mana yang memiliki kualitas tegas.

Persona strongman yang dibawa Prabowo pun juga membantu meningkatkan pertimbangan pemilih dalam Pilpres di tahun tersebut terhadap kriteria calon-calon presiden. Persentase pertimbangan pemilih terhadap sifat tegas calon presiden yang awalnya hanya 5 persen pada Januari-Februari 2014 tumbuh menjadi 9 persen pada Mei 2014.

Meskipun begitu, strategi Prabowo itu tidak benar-benar mampu mengalahkan jumlah suara yang dimenangkan Jokowi. Berger melanjutkan bahwa masyarakat sebagian besar masih lebih memilih citra jujur yang identik dengan Jokowi pada saat itu.

Berkaitan dengan sifat tegas calon presiden dalam persona strongman, Pilpres 2019 mungkin masih akan dipengaruhi oleh citra maskulin Prabowo. Hasil survei yang dilakukan Cyrus Network masih menunjukkan demikian.

Dari 1230 responden survei tersebut, 457 di antaranya menyatakan mendukung Prabowo. Di antara 457 responden tersebut, sekitar 31,5 persen memilih Prabowo-Sandi karena sifat tegas, berwibawa, dan berani, sekitar 14,7 persen karena menginginkan perubahan, dan sekitar 13,3 persen karena ingin ganti presiden.

Namun, apakah pengaruh penggunaan citra maskulin Prabowo akan besar terhadap dinamika perebutan suara dalam Pilpres 2019?

Jawabannya adalah tergantung pada konteks persepsi masyarakat. Pasalnya, Jokowi pun juga mulai dinilai tidak kalah tegas. Citra maskulin ini mungkin masih akan berpengaruh, tetapi tidak sama persis seperti pada Pilpres 2014. Yang jelas, persona strongman masih akan menjadi bumbu-bumbu di media sosial serta jadi bahan saling serang antara pendukung Jokowi dan Prabowo.

Berkaitan dengan pengaruhnya terhadap peningkatan jumlah suara Prabowo dalam Pilpres 2019 mendatang, sang jenderal sepertinya masih perlu melakukan manuver politik lebih dari sekadar menunjukkan citra maskulin, seperti pemberian narasi yang bersifat programatis. Pasalnya pengandalan citra saja tentu akan menjadi sulit mengingat kompetitor Prabowo merupakan seorang petahana yang mudah menjual program. (A43)