Di Balik NU Jadi Fosil

Di Balik NU Jadi Fosil
Ma'ruf Amin ketika menghadiri diskusi soal vaksin. (Foto: ANTARA)
7 minute read

Sebuah video viral yang berisikan pernyataan seorang ulama yang menyebut keresahannya bahwa NU akan menjadi fosil apabila Ma’ruf Amin kalah dalam Pilpres 2019 menjadi polemik. Dalam video itu, tampak Ma’ruf Amin turut menghadiri kegiatan saat pernyataan tersebut disampaikan.


PinterPolitik.com

[dropcap]D[/dropcap]alam video tersebut, seorang pendakwah menunjukkan kegelisahannya akan adanya beberapa kelompok yang tidak menyukai Nahdlatul Ulama (NU). Adanya kelompok ini dalam konteks Pilpres 2019 disebut akan mengancam keberadaan tradisi-tradisi NU di Indonesia, seperti Hari Santri, zikir di Istana dan tahlil.

Berbagai tanggapan mengenai isi video tersebut pun muncul dari beberapa pihak. Ferdinand Hutahean, Juru Bicara Badan Pemenenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, mengatakan bahwa narasi yang disajikan dalam video tersebut merupakan fitnah.

Selain itu, Ferdinand juga bercuit dan menyangkal isu yang bernarasi bahwasanya NU akan menjadi fosil – sebutan untuk sisa-sisa peradaban alias tinggal sejarah – jika Prabowo-Sandi menang adalah tidak benar.


Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Ace Hasan Sadziliy turut angkat bicara dengan menampik adanya unsur hoaks dalam video tersebut. Ace memberikan klarifikasi bahwa video tersebut tidak menyebut pasangan calon presiden lainnya.

Terkait indikasi hoaks dalam Pilpres 2019, pernyataan dalam video itu juga menjadi pergunjingan dalam konteks hukum. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) menyatakan akan menelusuri dugaan pelanggaran Pemilu dalam video tersebut sebagai temuan. Di sisi lain, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menyatakan akan menunggu hasil penelusuran Bawaslu terlebih dahulu.

Organisasi Islam besar lainnya, Muhammadiyah, turut menanggapi pernyataan dalam video tersebut dan mengatakan bahwa hal tersebut tidak membuat Muhammadiyah khawatir. Alasannya adalah karena pembawaan isu agama dalam politik sudah sering dilakukan dan hal itu dapat memengaruhi pemilih dengan faktor emosional.

 

Pembawaan isu agama memang sering kali menjadi narasi politik dalam beberapa tahun ini. Mendekati hari pemungutan suara, isu agama juga tidak luput dari berbagai narasi dalam diskursusnya.

Lantas, apakah isu NU menjadi fosil ini dapat memengaruhi hasil Pilpres 2019? Apakah hal tersebut memiliki pengaruh dalam dinamika kelompok-kelompok Islam di Indonesia?

Politik Ketakutan

Pernyataan-pernyataan yang berisikan akan adanya ancaman bagi kelompok tertentu memang sering digunakan dalam diskursus politik. Narasi ancaman semacam itu memang menimbulkan ketakutan bagi kelompok yang menjadi sasaran narasi.

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Al Gore pernah mempublikasikan tulisannya mengenai penggunaan narasi ancaman dalam politik. Al Gore pun mencontohkannya dengan penyebaran ketakutan terhadap terorisme di AS ketika adanya dorongan dari pemerintah negara tersebut dalam invasi ke Irak.

Dalam tulisan tersebut, Al Gore juga menjelaskan bahwa tujuan khusus dari penyebaran narasi ancaman terorisme di AS adalah untuk mendistorsi realitas politik dengan menciptakan ketakutan di masyarakat. Sering kali, ketakutan yang disebarkan melebihi ancaman yang sesungguhnya.

Konteks ini juga terjadi pada Presiden Donald Trump, sosok yang dikenal sering melontarkan menggunakan narasi ancaman, yang dianggap menggunakan taktik serupa dalam Pemilu AS 2016. Trump sering kali menyerang kelompok-kelompok minoritas dan menyebut mereka sebagai ancaman bagi AS melalui cuitan-cuitan dan pernyataannya di publik.

Beberapa narasi ancaman yang sering kali digunakan oleh Trump adalah ancaman dari pengungsi asing yang membawa nilai-nilai ekstrem dan ancaman kekerasan dan narkoba dari geng-geng di Amerika Latin. Ancaman-ancaman tersebut pun berhasil membuat banyak pemilih mendukung Trump.

Dalam konteks tersebut, Rick Wilson, politisi Partai Republik AS, menjelaskan bahwa ketakutan merupakan instrumen yang berguna dalam politik. Menurutnya, ketakutan merupakan permainan emosi yang efektif dalam kampanye dengan mengasosiasikan lawan politik dengan teror, ketakutan, kriminalitas, penderitaan, dan ketidakpastian.

Bisa jadi, perbedaan-perbedaan nilai mendasari resistensi dan keresahan kelompok NU yang tradisionalis itu terhadap kelompok-kelompok fundamentalis. Click To Tweet

Politik ketakutan dapat dijelaskan dengan menggunakan Teori Identitas Sosial dari Henri Tajdel dan John C. Turner. Teori tersebut menjelaskan bahwa dorongan seseorang untuk menentukan keanggotaan suatu kelompok sosial didasarkan pada nilai-nilai yang diyakini positif atau negatif. Nilai yang dianggap negatif  akhirnya pun dilihat sebagai ancaman bagi kelompok sosial tersebut.

Dalam teori tersebut, dijelaskan juga bahwa motivasi dasar suatu kelompok sosial adalah untuk melindungi status sosialnya. Leonie Huddy and Alexa Bankert dalam tulisannya yang berjudul Political Partisanship as a Social Identity menjelaskan bahwa menang atau kalah dalam Pemilu menjadi isu personal dan para pendukung politik tersebut pun bertindak karena ingin melindungi atau meningkatkan posisi mereka.

Jika berkaca pada konsep dan fenomena politik ketakutan yang terjadi di AS, hal serupa mungkin juga bisa terjadi di Indonesia — mengingat pola dukungan politik di Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh identitas dan agama pemilih. Politik ketakutan dengan narasi agama dapat mendorong anggota-anggota kelompok tertentu untuk memberikan suaranya pada calon-calon yang didukungnya.

Islam yang Mana?

Untuk melihat bagaimana narasi ketakutan NU dapat memengaruhi suara dalam Pilpres 2019, perlu juga melihat dari dinamika hubungan antar-kelompok Islam di Indonesia. Jika kita kembali melihat Teori Identitas Sosial milik Tajdel dan Turner, hubungan antar-kelompok sosial juga turut memengaruhi perilaku kelompok-kelompok tersebut.

Hubungan antar-kelompok Islam di Indonesia kurang lebih bisa digambarkan dengan pembagian kelompok-kelompok Islam yang dibuat oleh Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dalam salah satu video ceramahnya di Madinah. Rizieq membagi kelompok Islam di Indonesia menjadi empat kelompok, yaitu kelompok fundamentalis, kelompok modernis, kelompok liberalis, dan kelompok tradisionalis.

Rizieq juga menjelaskan bahwa kelompok fundamentalis dianggap memiliki perbedaan yang sedikit dengan kelompok tradisionalis. Kedua kelompok tersebut, menurut Rizieq, memiliki beberapa karakteristik yang mirip dan kekuatan besar yang terlihat salah satunya lewat Aksi 212. Rizieq melanjutkan bahwa bergabungnya dua kelompok ini merupakan hal yang ditakuti oleh pemerintah Indonesia.

Pembagian kelompok dari Rizieq tersebut juga mirip dengan pembagian spektrum kelompok Islam dalam tulisan The Muslim World After 9/11 milik Angel M. Rabasa dan timnya di RAND Corporation. Mereka membagi spektrum kelompok Islam menjadi enam kelompok, yaitu fundamentalis radikal, fundamentalis skriptural, tradisionalis, modernis, sekularis liberal, dan sekularis otoriter.

Di Indonesia sendiri, disebutkan juga beberapa kelompok Islam, seperti kelompok tradisionalis yang dikaitkan dengan NU, kelompok modernis yang dikaitkan dengan Muhammadiyah, serta kelompok sekularis liberal yang dikaitkan dengan golongan Islam dalam partai-partai seperti PDIP dan Golkar.

Jika dicermati, ceramah Rizieq memang bisa jadi merupakan upaya pemimpin FPI tersebut untuk merangkul kelompok tradisionalis NU yang merupakan kelompok terbesar di Indonesia. Hal ini bisa jadi sejalan dengan kepentingannya dalam Aksi 212 yang dianggapnya menekankan persatuan kelompok Islam di Indonesia.

Namun, keresahan ulama soal NU yang terancam menjadi fosil dapat menjadi indikasi penolakan dari kelompok tradisional yang disebut memiliki kemiripan dengan kelompok tradisionalis sebab batasan sosial di antara kedua kelompok ini sebenarnya masih lebar. Hal tersebut menjadi hal yang wajar — mengingat terdapat perbedaan nilai yang diyakini antara kelompok fundamentalis dan kelompok tradisionalis tersebut.

Terkait hal tersebut, Rabasa dan timnya di RAND Corporation membagi perbedaan antara kelompok-kelompok Islam menjadi delapan kategori, yaitu agenda, ideologi, politik dan hukum, pemerintahan, HAM, agenda sosial, hubungannya dengan terorisme, dan kecenderungan kekerasan. Bisa jadi, perbedaan-perbedaan ini yang mendasari resistensi dan keresahan kelompok NU yang tradisionalis itu terhadap kelompok-kelompok fundamentalis.

Pernyataan ketakutan NU menjadi fosil dapat dilihat pada perbedaan nilai yang mendasar, yaitu kategori ideologi. Rabasa dan timnya menjelaskan bahwa kelompok fundamentalis menginterpretasikan ajaran agama secara literal atau sesuai dengan yang terjadi di zaman Nabi Muhammad, sedangkan kelompok tradisionalis lebih menggabungkan ajaran-ajaran Islam dengan tradisi-tradisi lokal.

Persoalan ini mendapatkan makna yang lebih besar karena kelompok-kelompok fundamentalis kini mayoritas berada di kubu Prabowo-Sandi dan berseberangan dengan Ma’ruf Amin yang dianggap sebagai entitas politik NU. Rizieq misalnya kerap menyatakan dukungan terbuka untuk Prabowo yang disebutnya sebagai “pemimpin umat”.

Jadi, tak heran apabila muncul narasi ketakutan akan hilangnya tradisi-tradisi NU dalam Pilpres 2019 sebab selain karena perbedaan nilai yang mendasar, terdapat juga dukungan tokoh dan kelompok fundamentalis, seperti Rizieq dan FPI, pada Prabowo-Sandi.

Jika demikian, apakah mungkin nilai-nilai kelompok fundamentalis yang menginterpretasikan ajaran Islam secara literal akan memaksakan nilai-nilai tersebut pada kelompok NU apabila Prabowo-Sandi memenangkan Pilpres 2019?

Hal itu belum dapat dipastikan juga. NU sendiri pun merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di dunia dengan kisaran jumlah anggota sebanyak 50 juta. Artinya, dalam konteks elektoral, massa NU adalah kekuatan elektoral yang luar biasa besar.

Pada akhirnya, kelompok manapun, termasuk kelompok Islam sendiri, memang memiliki berbagai perbedaan pandangan di antara satu dengan yang lain. Artinya, saling memahami dan menerima adalah hal yang mutlak dibutuhkan. Apalagi, membuat sekat-sekat yang makin jelas di antara kelompok Islam bisa menjadi hal yang berbahaya untuk persatuan umat Islam di Indonesia – hal yang menjadi akar banyak konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Dengan demikian, semua itu kembali lagi pada bagaimana kita melihat perbedaan di antara kita, entah siapapun yang menang nanti di tanggal 17 April mendatang. Bukan begitu? (A43)