Di Balik Gencatan Senjata Hendro-Prabowo

Dibalik Gencatan Senjata Hendro-Prabowo
Prabowo bertemu Hendropriyono. (Foto: Okezone/Harits)
5 minute read

Nampaknya manuver-manuver politik besar pasca Pilpres 2019 belum selesai. Jika sebelumnya peta politik mulai berubah dengan semakin eratnya Gerinda-PDIP dan Nasdem yang dinilai tengah membangun koalisi baru, kini giliran Prabowo dan Hendropriyono yang bermanuver lewat pertemuan keduanya. Lalu, seperti apa makna di balik pertemuan dua purnawirawan jenderal ini?


PinterPolitik.com

Pertemuan yang dilakukan di kediaman AM Hendropriyono ini nampaknya berjalan dengan lancar. Di hadapan para wartawan, Prabowo Subianto mengucapkan terima kasih atas undangan Hendro. Selain itu ia juga mengatakan bahwa Hendro adalah “senior saya, guru saya”.

Pertemuan ini memang mengundang banyak perhatian. Bukan tanpa alasan, keduanya merupakan tokoh politik besar.

Prabowo adalah Ketua Umum Partai Gerindra yang juga mantan Panglima Kostrad. Sementara Hendropriyono adalah mantan Ketua Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan mantan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) era Presiden Megawati Soekarnoputri. 

Dalam banyak kesempatan kedua tokoh ini saling serang atau setidaknya secara jelas memiliki perbedaan sikap, utamanya dalam hal politik. Pun sebelumnya publik belum pernah mendengar adanya pertemuan di antara keduanya.


Perang Dua Purnawirawan

Hubungan antara Hendro dan Prabowo bisa ditarik sejak zaman Orde Baru (Orba).

Ketika itu Prabowo, yang merupakan menantu Soeharto, berseteru dengan atasannya L.B. Moerdani yang menjabat sebagai Panglima ABRI sekaligus orang kepercayaan Soeharto.

Prabowo dinilai sebagai salah satu sosok yang turut berkontribusi pada “dibuangnya” Moerdani oleh Soeharto karena Prabowo pernah secara serius menuduh Moerdani berencana mengkudeta mertuanya tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan Hendro?

Menurut pengamat militer Aris Santoso, Hendro adalah salah satu “anak didik” Moerdani. Dengan demikian, kemungkinan besar Hendro memang tidak menyukai Prabowo karena menjadi salah satu pihak yang menjatuhkan gurunya.

Baca juga :  Amerika, Kiblat Prabowo Untuk Pertahanan?

Setelah keduanya pensiun dari dinas militer dan terjun ke politik, perseteruan di antara keduanya semakin terlihat jelas.

Hendro merupakan salah satu tokoh utama yang menjadi kunci kemenangan dan selalu mendukung Jokowi sejak tahun 2014. Sementara Prabowo jelas-jelas menjadi penantang dan oposisi utama Jokowi, baik dalam Pilpres 2014 maupun di Pilpres 2019.

Selain perbedaan pilihan politik, dalam beberapa kesempatan Hendro dan Prabowo juga berseteru secara langsung.

Pada saat Pilpres 2014 misalnya, Hendro menyebut Prabowo sebagai seorang “psikopat”. Klaim ini didasari oleh hasil pemeriksaan kesehatan Prabowo sewaktu masih aktif berdinas yang menurut Hendro, menunjukkan bahwa Prabowo merupakan sosok yang sangat temperamental dan mudah terpancing amarahnya.

Masih dalam Pilpres 2014, salah satu anggota tim kemenangan Prabowo yang juga merupakan purnawirawan jenderal TNI, Suryo Prabowo, pernah menuduh Hendro melakukan black campaign terhadap Prabowo.

Menurut Suryo, Hendro sengaja memunculkan isu pengerahan bintara pembina desa (Babinsa) untuk mendelegitimasi Prabowo.

Memasuki Pilpres 2019, “peperangan” tidak juga berhenti.

Di tengah adanya isu makar dan penolakan hasil Pilpres, Hendro mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan mengingatkan warga negara Indonesia (WNI) keturunan Arab untuk tidak melakukan provokasi.

Penyataan ini kemudian ditanggapi oleh Prabowo dengan mengatakan bahwa apa yang dikatakan Hendro merupakan bentuk tindakan rasis dan berpotensi mengadu domba masyarakat.

Terkait aksi penolakan hasil Pilpres pada 21-22 Mei 2019, Hendro pernah mengatakan bahwa kekuatan massa pendukung Prabowo-Sandiaga sudah “ompong”.

Perselisihan dan perbedaan-perbedaan yang terjadi diantara keduanya bahkan membuat akademisi Terry Russel menyebut Prabowo sebagai musuh Hendro.

Sekarang, pertanyaan utamanya adalah mengapa dua sosok politik yang memiliki sejarah perseteruan ini bertemu dan terlihat melakukan rekonsiliasi?

Baca juga :  Di Balik Wacana Jokowi Tiga Periode

Dampak Politik?

Prabowo mengatakan bahwa salah satu topik pembicaraan yang dibiciarakan dengan Hendro adalah masalah Papua.

Selain karena Papua yang sedang ramai dibicarakan, keduanya memang memiliki pengetahuan dan pengalaman seputar konflik Papua.

Sebagai mantan BIN, Hendro tentunya memiliki pengetahuan luas terhadap berbagai isu keamanan nasional termasuk Papua.

Sedangkan pengetahuan Prabowo seputar Papua utamanya berasal dari Operasi Mapenduma pada tahun 1996. Ketika itu Prabowo yang menjadi Komandan Kopassus memimpin operasi pembebasan peneliti Ekspedisi Lorentz 95 yang disandera oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Namun, nampaknya cukup masuk akal jika publik berasumsi bahwa pertemuan yang dilakukan keduanya tidak terjadi hanya karena Papua.

Bagi Prabowo, bisa jadi pertemuannya dengan Hendro merupakan manuver politiknya yang lain guna memperkuat modal politiknya.

Prabowo sebelumnya telah melakukan manuver serupa dengan melakukan “kumpul kebo” (kumbo) politik dengan Megawati dan PDIP – hal yang sering diistilahkan sebagai cohabitation.

Megawati juga dapat menjadi sosok penentu pertemuan Hendro-Prabowo mengingat Hendro memiliki kedekatan dengan Ketua Umum PDIP tersebut.

Hendro pernah mengungkapkan bahwa dirinya bersimpati kepada Megawati karena ia mengidolakan Soekarno. Ikatan di antara keduanya juga semakin terjalin karena pada masa kepresidenan Megawati-lah Hendro diangkat jadi Kepala BIN.

Mungkin tujuan yang ingin dicapai Prabowo adalah memanfaatkan perbaikan hubungannya dengan Hendro agar ia ataupun Gerindra, mendapatkan bagian dalam pemerintahan periode 2019-2024.

Sebelumnya partai dengan perolehan suara kedua terbesar dalam Pemilu 2019 ini memang sudah memberikan sinyal mengincar kursi Ketua MPR dan beberapa pos menteri.

Baca juga :  Tito dan Isu Surveillance State

Tidak hanya berdampak bagi Prabowo, rekonsiliasi dengan Hendro juga bisa berpengaruh salah satunya terhadap Jokowi.

Ya, setelah berhasil mendekatkan diri dengan sumber kekuatan Jokowi dengan kumbo-nya dengan Megawati, kini Prabowo berhasil mendekati Hendro.

Perlu diingat bahwa Hendropriyono adalah salah satu sosok yang mempengaruhi jalannya pemerintahan Jokowi.

Besarnya pengaruh Hendro salah satunya terlihat dari dipertahankannya Rini Soemarno oleh Jokowi meskipun Menteri BUMN tersebut dinilai buruk kinerjanya oleh banyak pihak. Bertahannya Rini di Kabinet Jokowi ini disebut-sebut tidak lepas dari peran Hendro yang dekat dan mendukung sang menteri.

Pengaruh Hendro lainnya dalam pemerintahan Jokowi ada melalui sosok Jenderal TNI Andika Perkasa yang saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Andika sendiri merupakan menantu Hendropriyono yang sudah disebut-sebut akan menjadi Panglima TNI di masa mendatang.

Menarik untuk terus diperhatikan apakah pertemuan Hendro-Prabowo hanya “gencatan senjata” semata, atau keduanya benar-benar akan berdamai bahkan membentuk kekuatan politik baru. (F51)

Mau tulisanmu terbit di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.