Dampak Corona untuk Global Village

Oleh Stefanus Ari Wicaksono, alumnus Hubungan Internasional di Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur (UPNVJT)

Dampak Corona untuk Global Village
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ketika mengikuti KTT G20 secara virtual. (Foto: AFP)
6 minute read

Banyak pihak berfokus pada fakta bahwa pandemi virus Corona (Covid-19) telah menyebabkan berbagai dampak negatif. Namun, sejauh mana dampak positif akibat pandemi ini turut terjadi?


PinterPolitik.com

Melalui opini ini, izinkan saya untuk memberikan salah satu dari sekian dampak positif adanya pandemi Corona (Covid-19) ini. Bukan berarti saya senang di atas penderitaan banyak orang dari yang mendapat potongan gaji, tidak bisa bertemu sanak saudara, membuat orang pacaran serasa long distance relationship (LDR), atau bahkan mengalami pemutusan hubungan kerja (phk).

Akan tetapi, maksud saya lebih mengarah ke sebuah situasi berat yang bahwasanya terdapat sebuah hikmah yakni adanya solidaritas antar manusia untuk bahu membahu menyelesaikan pandemi ini. Hal tersebut menurut hemat saya merupakan implikasi dari adanya global village – merasakan derita yang sama meskipun berbeda negara, berbeda etnis, kelompok, golongan, agama, warna kulit dan sebagainya.

Apa Itu Global Village?

Istilah ini diadaptasi dari pemikiran milik McLuhan bahwasanya perkembangan teknologi dalam media massa elektronik secara luas yang dimulai pada tahun 1950an berlanjut hingga sekarang dan telah menyebabkan semakin mudahnya aliran informasi ke segala penjuru dunia. Global village ini dapat dirasakan dari hilangnya batas-batas wilayah dan kemasyarakatan akibat perkembangan teknologi komunikasi dan telekomunikasi yang semakin maju.

Global village ini menciptakan suatu kehidupan masyarakat yang terintegrasi dengan pola hubungan yang semakin terikat satu dengan yang lain. Keterikatan ini timbul karena penyebaran informasi yang bahwasanya tersebar dalam bentuk program-program televisi, keinginan terhadap produk yang sama, gaya hidup, dan hal-hal yang diiklankan oleh media.

Global village ini membuat ikatan masyarakat dari satu negara dengan negara lain semakin kuat dan mengabaikan batas-batas geografis, politik, maupun sosial-budaya. Hal ini bisa terjadi karena dipicu adanya perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang canggih.

Katakanlah, terdapat suatu informasi di negara A dalam hitungan waktu yang tak terlalu lama akan tersebar dan diketahui oleh warga negara B, C, hingga Z. Jika McLuhan melihat pada tahun 1950an terdapat televisi dan radio sebagai medium penyebaran informasi, kita sekarang mengenal Twiter, Facebook, bahkan Instagram, yang kuat dengan hashtag atau, bahkan, seruan para netizen.

Melalui hal itu, ikatan-ikatan yang kuat akan muncul karena mendapatkan atau bahkan merasakan informasi yang sama meskipun berbeda negara. Informasi-informasi tersebut bisa saja tak hanya didasarkan pada keinginan bersama terhadap suatu produk, gaya hidup, atau hal-hal yang diiklankan, tetapi dapat juga mengarah ke rasa solidaritas dalam menanggapi masalah.

Kesadaran Berkemanusiaan

Ketika kita sekarang tinggal di era global village, kita bisa merasakan adanya kesadaran berkemanusiaan yang terjalin kuat di antara seluruh warga dunia. Hal ini dibuktikan melalui gerakan global yang diinisiasi oleh mahasiswa kedokteran dari beberapa negara yang paling terkena dampak dari pandemi.

Mereka mengajak kita semua di seluruh dunia untuk tidak memandang jabatan, ras, atau kelas sosial dan berjuang bersama melawan virus untuk tidak menimbun stok makanan di rumah agar tidak terjadi krisis bahan pokok dan mengajak untuk hidup secara social distancing selama pandemi ini masih berlangsung.

Selain itu, di Amerika Serikat (AS), terdapat beberapa organisasi Muslim yang mendistribusikan makanan dan kebutuhan lain untuk warga yang kesusahan. Para tenaga medis Kuba melalui pemerintahnya bersedia membantu Italia– salah satu negara yang paling banyak terdampak dalam menghadapi pandemi ini.

Meskipun takut, mereka tidak gentar dalam melakukan tugas mulia tersebut. Di samping itu, terdapat bukti lain yaitu adanya kesadaran untuk menangkal penggunaan masker medis yang diperuntukkan untuk tenaga medis, serta menangkal adanya penimbunan oleh oknum tak bertanggung jawab, yakni dengan gerakan penggunaan masker kain serta kampanye melalui tagar #maskerkainuntuksemua.

Kemudian, penyanyi John Legend pada Maret lalu mengadakan mini konser yang ditayangkan lewat Instagram. John menyanyikan lagu-lagu yang telah dipesankan oleh para penggemarnya di seluruh dunia untuk menghibur mereka yang tengah berjuang menghadapi pandemi ini dari rumah.

Selain John, Chris Martin juga mengadakan mini konser untuk meningkatkan kepedulian terhadap penyebaran virus Corona sembari dengan menyerukan #TogetherAtHome. Antusias artis dalam menyelenggarakan virtual konser atau konser di rumah guna memberi semangat bagi warga dunia yang tengah lockdown atau hanya pembatasan sosial berskala besar juga cukup kuat.

Tak hanya John dan Chris, Shawn Mendes juga turut serta melakukan penggalangan dana. Lalu, ada juga Taylor Swift, Lady Gaga, pianis Lang Lang, Niall Horan, Lewis Hamilton, dan masih banyak lagi.

Hubungannya dengan Global Village?

Lantas, bagaimana kaitan antara kesadaran berkemanusiaan dengan era global village ini? Sederhananya, dapat dilihat dari karakteristik era ini, yakni terhubungnya masyarakat dari satu negara dengan negara lain secara global melalui teknologi dan informasi.

Kemudian, bila ditelaah tentang informasi tersebut, bukan saja tentang iklan produk atau gaya hidup, melainkan juga informasi kematian, kelaparan, kemiskinan akibat tidak bisa makan dan di-PHK hingga kekurangan tenaga medis beserta alat pelindung diri (APD) di tengah pandemi ini.

Hal tersebut secara psikologi sosial meningkatkan rasa solidaritas masyarakat untuk berkemanusiaan dari berbagai negara untuk bahu membahu dalam menghadapi pandemi ini bersama. Sederhananya, jika terkait iklan produk atau gaya hidup tertentu saja bisa tertular dari satu negara ke negara lain, hal yang berhubung dengan kemanusiaan pun juga bisa.

Kekuatan Moral

Mungkin, kalian masih ingat dengan kekuatan bola semangat milik Goku di serial anime Dragon Ball bukan? Suatu kekuatan yang dimiliki oleh Goku berbentuk bola dengan energi yang dikumpulkan dari alam. Uniknya, energi ini berasal dari teman-teman serta penduduk bumi dengan mengangkat tangannya dan secara otomatis masuk ke dalam bola milik Goku hingga menjadi besar dan mengalahkan musuh.

Perumpamaan terkait bola semangat tadi sama halnya dengan yang terjadi saat ini. Ketika manusia di bumi mempunyai common enemy – yakni Covid-19, manusia-manusia di bumi bersatu bekerja sama tanpa memandang ras, kelompok, suku, agama, warna kulit, dan negara – sekiranya dari segi moral. Kekuatan moral yang dimaksud adalah memberikan rasa optimis untuk hidup bagi masyarakat yang terkena dampak ekonomi, rasa optimis untuk menyembuhkan khususnya bagi tenaga medis, rasa optimis untuk pemerintah dalam upaya mengelola negara agar tidak sampai bertambah parah permasalahannya, hingga rasa optimis untuk sembuh bagi pasien yang positif corona.

Menutup opini saya ini, izinkan saya mengutip kata-kata milik Yuval Noah Harari yakni, “penyelesaian utama dari epidemi atau pandemi bukanlah perpecahan, melainkan lebih ke kooperasi atau kerja sama masyarakat.”

Tulisan milik Stefanus Ari Wicaksono, alumnus Hubungan Internasional di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT).

“Disclaimer: Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.”

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.