Dagelan Politik di Televisi

Dagelan Politik di Televisi
2 minute read

Saat ini, tontonan televisi lebih banyak memperlihatkan dagelan para politikus yang kelakuannya lebih lucu dan bikin tertawa, dibandingkan tayangan komedi sendiri.


PinterPolitik.com

“Segalanya berubah. Masyarakat kini menganggap serius para komedian dan melihat politisi sebagai lelucon.” ~ Will Rogers

Kutipan komedian dan kolumnis Amerika Serikat ini, ibarat ramalan yang kini mulai terbukti kebenarannya. Coba lihat saja pernyataan-pernyataan Cak Lontong di televisi. Walau terdengar lucu, namun dibalik ucapannya kadang tersirat kebenaran yang mau tidak mau membuat penonton mengakui pernyataan “kelirumologi-nya” tersebut.

Di sisi lain, kita juga memiliki politisi yang hingga kini tidak jelas berasal dari partai politik mana, namun komentarnya begitu bergaya sekali di twitter. Sampai-sampai yang membaca tweet-nya bisa tertawa terbahak-bahak, karena terkadang tidak melihat satu pun kebenaran di dalamnya.

Dagelan politik, begitulah orang mengistilahkannya. Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan, tapi paduan kata tersebut sepertinya begitu pas dengan kondisi perpolitikan yang ada sekarang. Bahkan saat ini, beberapa politisi malah bangga bila tingkah lakunya tak beda jauh dengan ‘badut’ politik.


Tanpa perlu adanya kesepakatan, semua orang sepertinya sudah paham betul dengan fenomena ini. Jadi enggak heran, bila kemudian dagelan itu langsung ditangkap oleh para kreator di televisi dan terciptalah sebuah acara yang selalu ngehits, bahkan kerap menjadi trending topic di media-media sosial.

Formulasinya hanya satu, undang orang-orang yang berkontroversi, lalu biarkan mereka adu argumentasi. Tidak perlu takut ribut, karena bentrokan itulah yang dicari. Semakin ricuh, makin tinggi pula tingkat rating yang dihasilkan acaranya. Lupakan pula tata krama dialektik, semakin ngawur akan semakin seru pula dagelannya.

Di era reformasi, di mana semua orang bebas beropini, sopan santun dihadapan publik sudah bukan zamannya lagi. Kata-kata kasar bahkan kotor tidak perlu disensor lagi, semua sah saja di acara ini. Apalagi semua orang juga akan tetap dapat honor yang sama nanti, jadi enggak perlu lah sampai sakit hati.

Inilah era zaman dagelan politik dikemas ala komedi. Jangan berharap akan pintar setelah melihat tontonan ini, karena tidak sedikit yang malah semakin apriori. Tidak perlu juga butuh otak cerdas untuk mencari arti dibalik ragam opini. Karena semua argumentasi, pada akhirnya kembali tergantung pada persepsi penonton sendiri. (R24)