Corona, Puan Anak Tirikan PKS-Demokrat?

Corona Puan Anak Tirikan PKS Demokrat
Ketua DPR RI Puan Maharani. (Foto: DPR RI)
3 minute read

“Ibu tiri hanya cinta kepada ayahku saja. Selagi ayah disampingku, ku dipuja, ku dimanja– Iis Dahlia, penyanyi dangdut asal Indonesia


PinterPolitik.com

Kebanyakan cerita tentang ibu tiri mengulas tentang kehidupan sorang anak yang ditinggal mati ibu kandungnya dan disiksa oleh istri baru ayahnya. Tragis ya, gengs. Banyak lagu loh yang mendeskripsikan perasaan anak yang disiksa ibu tiri. Contohnya saja, penggalan lirik lagu “Ratapan Anak Tiri” di atas, gengs, yang dipopulerkan oleh penyanyi dangdut yang manis nan berkumis tipis Iis Dahlia.

Jalan pikir ibu tiri yang jahat memang aneh ya, gengs, seperti tidak membutuhkan anaknya gitu lho. Padahal kan, ada pepatah yang mengatakan banyak anak banyak rejeki. Yah, meskipun rejeki kadang tidak datang langsung hari itu, tapi mungkin rejeki bisa datang esok harinya. Who knows, ya kan?

Namun, hubungan anak dan ibu tiri tidak hanya terjadi di lingkup keluarga saja loh, cuy. Dalam area politik, juga terkadang dapat terjadi. Seperti contoh yang baru-baru ini sedang ramai diperbincangkan adalah tentang keputusan Puan Maharani dalam membentuk Satuan Tugas (Satgas) Lawan Covid-19.

Seakan-akan, doi sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) periode sekarang bertindak sangat bijaksana ya, gengs. Pokoknya, sudah seperti ibu yang mengayomi semua anak deh.

Namun, kenyataannya tidak seperti itu, gengs. Ada beberapa pihak yang seakan tidak dianggap. Kalau kata Iis Dahlia sih, bagai anak tiri gitu. Pasalnya, tidak semua partai politik diikutsertakan dalam Satgas Covid-19 tersebut, cuy. Weleh-weleh, seperti itu ya cuy. Hmmm.

Ternyata ada dua partai yang tidak diikutsertakan dalam kegiatan tersebut, cuy, yaitu Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat yang merupakan partai oposisi. Hayo loh, kok jadi berkelompok-kelompok begini?

Masa Mbak Puan ini sudah seperti ibu tiri saja – menyampingkan anak-anak yang berbeda pendapat dengannya? Ironis banget ya, gengs. Padahal, meski saat ini tidak satu “geng” dengan mereka, bisa jadi periode selanjutnya saling membutuhkan gitu. Kalau diibaratkan sih, kayak dua sejoli sedang dimabuk asmara yang merasa saling membutuhkan. Hehehe.

Yaa, memang sih cuy, kalau kita flashback ke sejarah yang ada, hubungan antara PDIP dengan Demokrat ini kurang begitu akur semenjak laga yang terjadi pada tahun 2004 silam. Bahkan, sejak itu, PDIP seakan antipati terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan konsisten menjadi oposisi hingga akhirnya pada tahun 2014 menjadi pemenang.

Tapi bukannya itu sudah lama banget ya, gengs? Harusnya sih, seorang pemimpin dapat memiliki jiwa yang besar, bukan kekanak-kanakan. Karena kalau ini terus dilanjutkan, siapa coba yang akan rugi? Ya rakyat lagi cuy.

Padahal, para anggota DPR dari fraksi tersebut mempunyai kewajiban untuk menyampaikan berbagai aspirasi dan tuntutan rakyatnya loh. Kalo sudah begini, siapa yang akan menyampaikan aspirasi rakyat dari Fraksi Demokrat dan PKS mengenai penanganan Covid-19? Semoga Mbak Puan segera menyadarinya ya, gengs, bahwa banyak pihak yang dirugikan atas sikapnya tersebut. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.