Corona Merebak, Di Mana Prabowo?

Peran Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dipertanyakan terkait penanggulangan Covid-19
6 minute read

Seiring dengan meningkatkan kasus virus Corona (Covid-19) di Indonesia, berbagai pihak mulai mempertanyakan di mana kehadiran Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang dinilai tidak terlihat dalam upaya penanganan. Benarkah Prabowo memang tidak terlihat, ataukah terdapat intrik politik lain di balik hal tersebut?


PinterPolitik.com

Selaku wabah virus yang ditetapkan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), keterlibatan berbagai lembaga dan sektor tentu saja sangat diharapkan dalam menanggulangi wabah virus Corona (Covid-19) yang kasusnya terus meningkat di Indonesia.

Per 19 Maret 2020, tercatat terdapat 309 kasus Covid-19 di Indonesia. Getirnya, dengan angka kematian yang mencapai 25 kasus atau 8 persen, Indonesia menempatkan diri sebagai salah satu negara dengan persentase kematian akibat Covid-19 tertinggi di dunia.

Sebagai pembanding, Tiongkok yang merupakan negara dengan kasus Covid-19 terbanyak dengan 81.102 kasus, justru hanya memiliki persentase kematian  sebesar 3,99 persen atau 3.241  kasus.

Terlebih lagi dengan adanya prediksi bahwa angka kasus akan terus meningkat dan memuncak ketika lebaran, tentu tidak mengejutkan apabila sejumlah pihak kemudian menyimpulkan bahwa wabah Covid-19 telah termasuk ke dalam kategori ancaman negara non-militer.


Atas dasar tersebut, berbagai pihak kemudian mempertanyakan di manakah sosok Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menimbang pada situasi genting yang tengah terjadi akibat Covid-19?

Selaku sosok yang membawahi militer, tentunya Prabowo amat dinanti kehadirannya dalam wabah virus yang telah disebut sebagai ancaman non-militer tersebut.

Lantas pertanyaannya, mengapa Prabowo tidak aktif memberikan arahan kepada publik, seperti halnya menteri yang lain dalam wabah Covid-19? Benarkah Ketua Umum Partai Gerindra tersebut telah tenggelam, ataukan terdapat intrik politik tertentu di balik hal tersebut?

Menteri Pertahanan Berperan Besar?

Sebagai pembanding atas kasus Prabowo, ada baiknya kita melihat wabah Covid-19 yang tengah terjadi di India – negara yang juga memiliki masalah kepadatan penduduk seperti Indonesia.

Menariknya, di negara tersebut, Kementerian Pertahanan yang justru terlihat dalam menyiapkan tujuh fasilitas karantina tambahan untuk pasien COVID-19. Langkah itu sendiri ditempuh karena telah dipelajari bahwa akan terdapat 400 warga India yang diperkirakan akan kembali dari Iran ke Mumbai.

Sikap tanggap serupa juga dapat dilihat dari Menhan Inggris Ben Wallace yang menyatakan akan menyiapkan sampai 20 ribu pasukan untuk mengantisipasi meningkatnya skala krisis akibat wabah Covid-19, seperti terjadinya penjarahan toko. Tidak hanya itu, sampai saat ini, militer Inggris juga diketahui tengah disibukkan dengan upaya pemulangan warga Inggris dari berbagai negara, seperti dari Kuba, Jepang, dan Tiongkok.

Alex Ward dalam tulisannya di Vox juga menjabarkan bagaimana besarnya peran militer Amerika Serikat (AS) dalam menanggulangi ancaman non-militer, seperti wabah Covid-19. Menurut Ward, militer AS bahkan telah terlibat selama lebih dari seabad dalam menangani krisis medis di seluruh dunia.

Capaian itu memang tidak terlepas dari kapabilitas militer AS yang diketahui memiliki keahlian untuk membantu perawatan medis, membangun rumah sakit mobile army surgical hospital (MASH), menyediakan tempat tinggal dan makanan, peralatan medis, serta untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Pada kasus Covid-19, militer AS diketahui telah terjun ke berbagai daerah, seperti Georgia, Florida, dan New York untuk melakukan berbagai langkah penanggulangan.

Dalam keterangannya, Menhan AS Mark Esper bahkan telah menegaskan bahwa Pentagon akan memberikan berbagai bantuan, seperti menyediakan 2.000 ventilator dan 5 juta respirator, serta menawarkan laboratorium untuk menguji warga sipil terhadap Covid-19.

Covid-19 adalah PSYWAR?

Tidak hanya berperan dalam memberi bantuan logistik, nyatanya militer juga harus disiagakan penuh karena wabah Covid-19 dapat pula menjadi ancaman militer serius seperti Psychological Warfare (PSYWAR) atau peperangan psikologis.

Terkait hal tersebut, menariknya mantan perwira militer AS, Scott Bennet menyebutkan bahwa Covid-19 adalah fabrikasi operasi psikologis yang digabungkan dengan penyakit fisik untuk menyebarkan ketakutan, kepanikan, dan intimidasi di pasar ekonomi Tiongkok, serta membelah aliansi militer Tiongkok-Rusia-Iran.

Lanjutnya, wabah Covid-19 adalah operasi psikologis yang dieksploitasi dan dirancang untuk menimbulkan kepanikan sehingga membuka pintu bagi bantuan dan pengembangan vaksin. Terlebih lagi, dengan AS yang memiliki berbagai perusahaan farmasi besar, motif tersebut tentu sangat masuk akal.

Senada, Chua Mui Hoong dalam tulisannya Coronavirus: Fighting a Psychological Battle, membandingkan wabah Covid-19 dengan wabah-wabah sebelumnya – seperti severe acute respiratory syndrome (SARS) – menemukan bahwa, kendati tingkat penularan Covid-19 sangat tinggi, uniknnya, dengan tingkat kematian sebesar 2-3 persen, angka tersebut lebih kecil dari wabah-wabah sebelumnya.

Atas hal tersebut, Hoong menyebutkan bahwa Covid-19 telah menghadirkan peperangan psikologis, yang mana masyarakat tengah menghadapai prasangka, paranoid, dan kekhawatiran yang masif.

Menariknya, kendati mungkin PSYWAR terdengar seperti penemuan di perang modern, PSYWAR ternyata sama tuanya dengan perang itu sendiri. Itu misalnya terlihat ketika para prajurit Legiun Romawi yang memukul perisai dengan pedang mereka secara ritmis, yang mana itu menciptakan efek kejutan dan kekaguman yang dirancang untuk menimbulkan teror pada lawan-lawannya.

Konteks adanya dugaan bahwa Covid-19 adalah PSYWAR nampaknya memiliki korelasi dengan misteri postingan juru bicara Menhan Dahnil Anzar Simanjuntak di intagram pribadinya yang tiba-tiba menguplod foto dirinya bersama dengan Prabowo dengan caption bertuliskan: “Sebagian dari kita mengalami Blessing of Unknowing, sebagian lagi mengalami Suffering of Knowing. Filosofi kepemimpinan”.

Pertanyaannya, apakah mungkin Suffering of Knowing – penderitaan karena mengetahui – yang ditulis oleh Dahnil bermakna bahwa Prabowo tengah berjuang keras melawan PSYWAR yang diakibatkan oleh Covid-19?

Hal tersebut memang tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, jika benar demikian, mantan Danjen Kopassus tersebut tentu tengah disibukkan dengan persoalan tersebut.

Mengapa Prabowo Dicari?

Di luar persoalan Covid-19 adalah PSYWAR, sebenarnya terdapat suatu keganjilan terkait mengapa Prabowo tiba-tiba disorot di tengah meningkatnya kasus Covid-19.

Hal serupa juga dipertanyakan oleh pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi yang mengaku tiba-tiba diminta pandangan oleh berbagai media terkait mengapa peran Prabowo tidak terlihat di tengah kesibukan pemerintah mengatasi Covid-19.

Selain keanehan tersebut, Fahmi juga menegaskan bahwa ancaman non-militer, seperti wabah penyakit menular – yang dalam konteks ini adalah Covid-19 – sebenarnya bukanlah leading sector (sektor unggulan) dari Menhan.

Lalu, sorotan tersebut juga patut untuk dipertanyakan karena sedari awal militer memang telah terlibat dalam penanggulangan Covid-19.

Hal tersebut misalnya terlihat dari peran besar TNI dalam penjemputan WNI yang menjadi anak buah kapal (ABK) World Dream dan Diamond Princess. Pun begitu dengan proses penjemputan ratusan WNI dari Wuhan, Tiongkok. Tidak ketinggalan pula, TNI juga berperan dalam menyiapkan fasilitas karantina di Pulau Sebaru Kecil untuk menampung WNI yang menjadi ABK World Dream dan Diamond Princess.

Apalagi, jika mengacu pada aturan yang ada, terdapat Peraturan Menteri Pertahanan (Permenhan) Nomor 22 Tahun 2017 yang mengatur mengenai keterlibatan TNI dalam menanggulangi wabah penyakit menular.

Keterlibatan tersebut misalnya dengan TNI berperan dalam mengumpulkan data intelijen medis dan data peta geomedik yang kemudian ikut serta dalam melakukan sosialisasi pelaksanaan penanggulangan wabah. Dengan demikian, pelibatan TNI dalam menanggulangi Covid-19 sebenarnya adalah hal yang organik.

Pada titik ini, seperti yang dicurigai pula oleh Fahmi, boleh jadi terdapat upaya dalam melakukan pengalihan isu agar isu tertentu tidak mengkristal menjadi suatu masalah besar nantinya.

Sedikit melakukan spekulasi, mungkin dapat dipahami bahwa isu yang ingin dialihkan adalah peningkatan kasus Covid-19 yang tengah terjadi saat ini. Akan tetapi, benar tidaknya hal tersebut tentu tidak diketahui secara pasti.

Pada akhirnya, mungkin dapat dipahami bahwa tiba-tiba disorotnya Prabowo, nampaknya menyimpan segudang keganjilan – mulai dari momen, ataupun terkait adanya kesan pengabaian peran TNI dalam menanggulangi Covid-19. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.