Corona, Awal Turunnya Digdaya Tiongkok?

Corona, Awal Turunnya Digdaya Tiongkok?
Wabah corona disebut berikan dampak ekonomi yang besar bagi Tiongkok (Foto: en24.news)
7 minute read

Setelah dunia mengetahui berbahayanya virus corona, berbagai kebijakan preventif agar virus tersebut tidak menular telah diterapkan. Mulai dari penghentian penerbangan dari dan ke Tiongkok, penghentian impor barang dari Tiongkok, hingga pada timbulnya reaksi represif masyarakat di berbagai negara yang menolak berinteraksi secara langsung dengan orang Tiongkok. Dengan berbagai kebijakan dan reaksi tersebut, benarkah virus corona telah menjadi preseden buruk terhadap kehancuran ekonomi Tiongkok?


PinterPolitik.com 

Corona virus, atau lengkapnya novel corona virus 2019 atau 2019-nCoV benar-benar tengah menyedot perhatian dunia. Membandingkannya dengan kasus Severe Acute Respiratory Syndrome atau SARS pada 2002 di Tiongkok yang mencatatkan 305 kasus dalam 135 hari, terang saja membuat 2019-nCoV yang mencatatkan 7.921 kasus hanya dalam 30 hari membuat virus yang tengah heboh ini benar-benar memberi kesan yang jauh lebih menakutkan.

Dengan jumlah 20 ribu kasus dan kini 427 orang telah meninggal dunia, World Health Organization (WHO) lantas menetapkan wabah virus corona sebagai darurat global pada 30 Januari 2020 lalu.

Menariknya, di tengah “kondisi ketakutan” yang terjadi karena mewabahnya virus corona, dengan kecepatan penyebaran virus yang dinilai tidak normal, muncul spekulasi yang berasumsi bahwa virus tersebut kemungkinan merupakan senjata biologis yang bocor. Hingga saat ini belum bisa dipastikan apakah tuduhan tersebut bisa dibuktikan kebenarannya, atau hanya sekedar kabar bohong atau hoaks yang selalu muncul silih berganti.

Tidak hanya ditulis oleh berbagai media, bahkan platform sosial media berbagai video, TikTok juga menjadi tempat penyebaran informasi yang menyebutkan bahwa virus corona diciptakan oleh pemerintah Tiongkok untuk mengurangi jumlah penduduk.


Media-media pro-Kremlin (Rusia) bahkan secara spesifik menyebutkan bahwa virus corona adalah senjata biologi Amerika Serikat (AS) yang memang menempatkan Tiongkok sebagai target sasarannya. Menimbang pada perang dagang yang terjadi antara Tiongkok dan AS dalam beberapa tahun terakhir, narasi semacam itu tentu saja menjadi masuk akal untuk didengungkan.

Di tengah berbagai gempuran asumsi yang menyelimuti virus corona, hal apakah yang dapat dimaknai dari wabah tersebut?

Corona adalah Virus Politik?

Terkait berbagai tulisan yang menduga bahwa virus corona adalah senjata biologis, sebuah tulisan politikus Pakistan, Rehman Malik yang berjudul Coronavirus: Natural or Manmade Biological Warfare, memaparkan berbagai indikasi kuat yang membuat mengapa virus tersebut pantas dicurigai sebagai virus yang tidak alamiah.

Di awal tulisannya, Malik menyebutkan bahwa alur peristiwa penyebaran virus corona, benar-benar mirip dengan alur cerita film AS, “Contagion” yang dirilis pada 2011 lalu. Sama dengan wabah corona, film tersebut juga menceritakan tentang wabah virus yang memiliki gejala awal seperti flu, penyebarannya melalui kelelawar, dan terjadi di Hong Kong.

Selain memiliki kemiripan dengan film Contagion, Malik juga menyebut virus corona sebagai political virus atau virus politik karena kemampuannya dalam memberikan kerusakan secara politik dan ekonomi.

Menariknya, virus corona pertama kali diidentifikasi di kota Wuhan yang disebut sebagai jantung Tiongkok karena merupakan tempat persimpangan jalur kereta api yang menghubungkan semua kota-kota besar Tiongkok.

Konteks sentralnya Wuhan juga disoroti oleh Maggie Hiufu Wong dalam tulisannya, Wuhan: Inside the Chinese City at the Center of the Coronavirus Outbreak. Wong memaparkan berbagai poin yang menjelaskan bagaimana pentingnya Wuhan bagi Tiongkok.

Pertama, Wuhan memiliki peran utama dalam rencana pemerintah untuk meremajakan wilayah Tiongkok tengah selama lebih dari satu dekade terakhir.

Kedua, karena lokasinya yang menjadi tempat persimpangan jalur kereta api, Wuhan disebut sebagai “jiu sheng tong qu” atau yang berarti “jalan utama dari sembilan provinsi”.

Ketiga, Wuhan Tianhe International Airport adalah satu-satunya bandara di wilayah Tiongkok tengah yang memiliki penerbangan langsung ke lima benua yang berbeda.

Keempat, Wuhan adalah kota manufaktur besar yang fokus utamanya memproduksi mobil dan peralatan medis.

Kembali pada tulisan Rehman Malik, dengan fakta bahwa Wuhan adalah jantung dari Tiongkok, Malik menyimpulkan bahwa virus corona benar-benar adalah virus jenius karena menyasar daerah yang begitu strategis.

Konteks penyebaran virus corona melalui Wuhan juga membuat kita memahami mengapa penyebaran virus ini begitu cepat menimbang pada kota tersebut memiliki sarana transportasi yang strategis.

Lanjut Malik, karena kecepatan penyebarannya, terlebih lagi dengan cepatnya media massa memberitakan wabah ini, kemudian timbul berbagai reaksi dari berbagai negara yang memberikan kerugian secara politik dan ekonomi bagi Tiongkok. Bagaimana tidak, misalnya terdapat penghentian barang impor dari Tiongkok ataupun adanya penghentian penerbangan dari dan ke Tiongkok.

Lalu, tulisan Mokoto Rich yang berjudul As Corona Spread, So Does Anti-Chinese Sentiment, memaparkan bagaimana wabah corona benar-benar telah memberikan dampak politik yang destruktif bagi Tiongkok. Pasalnya, atas masifnya pemberitaan media massa atas wabah tersebut, sentimen anti-Tiongkok menjadi begitu masif terjadi di banyak negara.

Bahkan sebuah restoran sushi di Jepang yang kendati pembelinya 90 persen adalah orang Tiongkok, sampai menolak melayani pengunjung dari negara tersebut karena takut tertular virus corona.

Di luar perdebatan benar tidaknya virus corona adalah senjata biologis, satu hal yang pasti bahwa virus tersebut benar-benar memberikan dampak destruktif secara politik dan ekonomi bagi Tiongkok.

Kehancuran Ekonomi?

Sampai saat ini virus corona diketahui telah berimbas pada penurunan nilai tukar Yuan Tiongkok, khususnya terkait pariwisata dan perdagangan.

Mark Humphery-Jenner dalam tulisannya What We Know Suggests the Economic Impact of Wuhan Coronavirus will be Limited, memaparkan bahwa wabah corona kemungkinan besar tidak hanya akan berdampak pada ekonomi Tiongkok dalam jangka pendek, melainkan juga dalam jangka panjang karena menurutnya wabah tersebut lebih parah dari SARS pada 2002 lalu.

Tidak hanya mengacu pada SARS, Humphery-Jenner juga berkaca pada kasus-kasus pandemi lainnya yang pernah terjadi. Pada tahun 1918, terjadi kasus Flu Spanyol dan menurut Kantor Anggaran Kongres AS (The US Congressional Budget), jika kasus tersebut terjadi di AS pada 2006, maka itu dapat memangkas pertumbuhan ekonomi (PDB) AS sebesar 4,25 persen. Bahkan World Bank menaksir kasus tersebut dapat menurunkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 5 persen.

Lalu, ada pula pandemi Flu Asia yang terjadi pada tahun 1957-1958 yang menurut Kantor Anggaran Kongres (The Congressional Budget Office), diyakini bahwa pengulangan kasus tersebut dapat memotong pertumbuhan ekonomi AS sekitar 1 persen. World Bank juga turut menaksir akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi global antara 1 sampai 2 persen.

Senada dengan Humphery-Jenner, Peter S. Goodman dalam tulisannya SARS Stung the Global Economy. The Coronavirus Is a Greater Menace, juga menuturkan bahwa virus corona memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dari SARS, bahkan juga berpengaruh kepada ekonomi global.

Pada kasus SARS, pertumbuhan ekonomi Tiongkok diketahui turun sebesar 1,1 persen. Namun, pada kasus corona yang bahkan belum genap 3 bulan, sudah diperkirakan akan memberikan penurunan pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5 persen bagi Tiongkok tahun ini.

Menurut Oxford Economics, hal tersebut dapat membuat pertumbuhan ekonomi global menurun sebesar 0,2 persen, di mana itu adalah penurunan terbesar sejak terjadinya krisis ekonomi dunia satu dekade lalu.

Menurut Goodman, dengan terjadinya perpanjangan masa liburan Imlek karena wabah corona, itu membuat pabrik-pabrik produksi masih tutup. Apalagi, dengan diisolasinya Wuhan yang merupakan jantung Tiongkok dan juga merupakan salah satu pusat manufaktur, tentu saja membuat penurunan yang signifikan terhadap produksi barang.

Imbasnya, karena besarnya ketergantungan komponen berbagai pabrik di berbagai dunia terhadap Tiongkok, seperti pabrik mobil di Midwest, AS dan Meksiko hingga pabrik pakaian jadi di Bangladesh dan Turki, itu tentu memberikan dampak ekonomi yang benar-benar memukul.

Kendati terjadi perang dagang antara AS dan Tiongkok, nyatanya industri semikonduktor AS sangat mengakar di Tiongkok menimbang pada posisi negara tersebut yang merupakan pusat manufaktur utama dan pasar untuk produk-produknya. Pelanggan Intel di Tiongkok misalnya, bahkan menyumbang sekitar US$ 20 miliar atau sekitar Rp 274 triliun, yang merupakan 28 persen dari total pendapatan pada 2019.

Qualcomm, pembuat chip ponsel yang dominan juga begitu bergantung pada Tiongkok karena memperoleh 47 persen dari pendapatan tahunannya – hampir US$ 12 miliar atau sekitar 164 triliun – dari penjualannya di negara tersebut.

Lalu Indonesia, selaku negara yang 30 persen kuota impornya dipenuhi oleh Tiongkok dengan nilai mencapai US$ 44,5 miliar atau sekitar Rp 611 triliun tentu saja akan mendapatkan dampak ekonomi yang signifikan.

Dari berbagai data tersebut, satu hal yang dapat disimpulkan bahwa wabah corona sepertinya benar-benar dapat memberikan dampak kerusakan ekonomi yang besar, baik bagi Tiongkok, maupun negara-negara yang telah bergantung kepada negeri tirai bambu tersebut.

Konteks wabah corona ini, mungkin sedikit mengingatkan kita pada wabah black death di Eropa pada abad ke-14 yang benar-benar telah meremukkan perekonomian Eropa pada saat itu. Artinya, jika obat virus corona belum ditemukan dalam jangka waktu yang lama, tidak menutup kemungkinan bahwa kehancuran seperti yang diakibatkan oleh black death akan benar-benar terulang kembali. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.