Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > RUU HIP, PKS ‘Jadi’ Kancil?

RUU HIP, PKS ‘Jadi’ Kancil?


F46 - Tuesday, June 30, 2020 12:08
Anggota Baleg DPR RI Fraksi PKS Bukhori Yusuf. (Foto: Istimewa)

0 min read

“Political necessities sometimes turn out to be political mistakes” – George Bernard Shaw, Peraih nobel sastra Irlandia dan Inggris.


PinterPolitik.com

Rancangan Undang-undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) memang selalu menjadi daya tarik akhir-akhir ini. Tentang siapa yang benar-benar membuktikan daya tarik itu, kalian bisa tanyakan sendiri kepada PDIP yang paling merasakan gimana jadi daya tarik kemarahan publik. Juga, di sisi lain, tanyalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menuai daya tarik simpati publik.

Keduanya memang santer dibicarakan, dengan posisi berdiri yang saling berseberangan. PKS lewat politisinya bilang nih kalau RUU HIP banyak kejanggalannya. PDIP yang merasa kalau RUU HIP sebenarnya hasil rapat semua fraksi partai politik sejak rapat dengan Panitia Kerja (Panja) pun menyayangkan sikap PKS itu karena, barangkali, PDIP merasa dijebak.

Nah, saat semua mata amarah menuju PDIP, tiba-tiba muncul nih sebuah video yang menampilkan Anggota DPR RI F-PKS Bukhori Yusuf yang penggalannya berisi kalimat begini, “Pada dasarnya Fraksi PKS tidak keberatan (RUU HIP), tapi untuk kemudian disempurnakan terlebih dahulu, sehingga nanti setelah sempurna kita masukkan ke paripurna.”

Sontak saja mimin kaget, cuy. Secara, saat di depan publik yang gencar menolak. Pak Bukhori kala itu justru tegas berkata kalau “Sikap publik ini sejalan dengan sikap kami di awal yang telah menolak RUU HIP”

Nah lhogimana nih PKS? Sebenarnya menolak dari awal atau dari sejak sakit hati sebab nggak diakomodir tuntutannya sih? Mimin nggak bisa hitam-putih mengira-ngira.

Kalau boleh diterjemahkan dalam bentuk fabel, PKS hampir-hampir seperti fabel kancil yang punya banyak strategi mengibuli rivalnya. Secara, PKS di pusat ini kan terkenal berseberangan dengan Jokowi dan partai pemenangnya, yakni PDIP.

Makanya, sudah sejak awal mimin heran kok bisa-bisanya PDIP percaya sama PKS dalam membahas isu yang sensitif dan kemungkinan menimbulkan polemik antar keduanya. Lagian nih, soal Pancasila, kalau tidak salah, antar keduanya kan sudah berbeda dalam cara pandang masing-masing.

Soalnya, dalam buku berjudul  Ideologi Politik PKS: Dari Masjid Kampus ke Gedung Parlemen juga menjelaskan hal yang tidak jauh berbeda. Bahwa gerakan politik PKS salah satu acuhan utamanya ya menuru ikhwanunl muslimin (IM) yang mengadopsi pemikiran Sayid Qutb dan Hasan Al-Bana. Siapa mereka berdua? Mungkin pembaca bisa cek sendiri. Hehe.

Ini kalau nggak sebab kecerdikan PKS ya mungkin PDIP lagi khilaf dalam menganalisis permainan politik sih, cuy. Kalau benar yang kedua, maka sudah seharusnya nih PDIP mendengarkan nasihat Sinta Yudisia dalam novelnya The Road of Empire, bahwa “keramahan seorang tuan rumah yang jujur, lebih menyenangkan dibanding perwira-perwira tinggi bermuka dua.”

Hmm, PKS kok canggih banget ya merebut hati publik? Kecurigaan mimin sih mengarah pada asumsi kalau PKS nihspeak up menolak RUU HIP sebab mempertimbangkan publik yang mayoritas menolak. Jadi, semacam dapat durian runtuh gitu lhocuy. Sekaligus aji mumpung kan.

Tapi nih, PKS akhirnya klarifikasi juga lho. Katanya sih, Fraksi PKS kala itu nggak diberi kesempatan untuk menyampaikan penolakannya. Hmm, kayak para influencer yang salah ngomong aja sampai harus klarifikasi.

Ya, terlepas dari benar atau tidaknya manuver PKS ala kancil ini, mimin sih cuma mau bilang, sehebat-hebatnya kancil, akan kalah dengan siput – kalau kata dongeng sih. Jadi, mari kita saksikan saja tontonan politik yang semakin seru ini. Hehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait