Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Prabowo ‘Tidak Percaya’ KPK?

Prabowo ‘Tidak Percaya’ KPK?


F46 - Tuesday, July 21, 2020 7:15
Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto. (Foto: Antara)

0 min read

“Pimpin dari belakang dan biarkan orang lain percaya mereka ada di depan” – Nelson Mandela, Politikus dari Afrika Selatan


PinterPolitik.com

Dalam setiap film, ada karakter macam-macam, mulai protagonis, antagonis, sampai peran pendukung. Nah, cuy, terkadang satu orang bisa memerankan banyak karakter dalam beberapa plot. Kadang menjadi protagonis, pun bisa antagonis. Tergantung sudut pandang mana kita melihatnya.

Tengoklah Joker deh, cuy, atau Harley Quinn. Bagi orang yang merasa Joker mewakili kalangan marjinal, tentu saja dia laksana Spartacus yang menyelamatkan banyak budak Romawi. Plot yang menampilkan asumsi itu adalah saat ia berorasi secara tiba-tiba dalam sebuah acara talk show.

Namun, kalau dilihat oleh orang yang memiliki pandangan order atau keteraturan, maka jelas Joker adalah penjahat yang harus ditumpas. Terlepas dari ragam sudut pandang itu, tetap saja semua tindakan harus tetap diungkap di depan hukum supaya antar kelompok tidak asal klaim tentang citra seorang tokoh.

Mungkin, analogi yang serampangan itu sedikit cocok kali, cuy, kalau dikontekskan pada kasus yang akan mimin sentil ini, yakni tentang pernyataan yang dilemparkan oleh Hashim Djojohadikusumo, adik Pak Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, yang ber-statement soal sempat adanya mark-up di tubuh Kemenhan.

Untung saja, kata Pak Hashim, Pak Prabowo secara tegas membatalkan modus operandi pembegalan halus terhadap uang negara tersebut dengan kalimat, "Saya tidak mau terlibat korupsi," seperti yang ditirukan ngomongnya oleh Pak Hashim.

Wih, keren banget nggak sih cuy? Bayangin semua proyek yang dibatalkan Pak Prabowo tuh kalau dihitung mencapai US$ 50 juta (Rp 739,25 miliar), cuy.

Siapa coba yang nggak tergiur? Ada, ya Pak Prabowo ini nyatanya nggak tergiur.

Sebab, Pak Prabowo orangnya bersih pun cerdas oleh sebab paham betul bahwa harga belinya lho nggak sampai US$ 5 juta (Rp 73 miliar). Salut banget mimin sama Menhan satu ini. Tapi, sebentar, biar nggak 'salut buta', mimin perlu bertanya nih.

Pertama, perkataan Pak Hashim ini benar-benar riil atau hanya penggelembungan citra sang kakak, ya? Soalnya, ini yang ngomong politisi satu partai sekaligus satu klan, bro.

Kedua, kalau memang benar yang dikatakan Pak Hashim tersebut, lantas kenapa tidak diungkap ke jalur hukum saja ya? Kenapa kok cuma di depan kamera saja?

Mimin khawatir manakala niat baik untuk buka-bukaan justru melahirkan kegaduhan. Semua orang pasti bertanya-tanya: “Siapa ya kira-kira yang menyelundupkan proyek?” dan pertanyaan blablabla lainnya. Apalagi nih, Pak Hashim lho bilang bahwa usaha yang dilakukan Pak Prabowo itu jauh sebelum dilantik jadi Menhan.

Artinya kan sudah lama, toh? Lantas, kenapa kok nggak dilaporkan saja ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)?Selain itu merupakan sebentuk ancaman, juga mark-up pastilah memiliki modus operandi yang bisa saja berulang kembali. Minimal buat antisipasi sajalah.

Mimin coba ambil versi husnuzon saja ya atau prasangka baik bahwa statement Pak Hashim tuh benar. Ya,kalau begitu, mending Pak Prabowo segeralah limpahkan berkas ke KPK biar dilakukan penyidikan dan penyelidikan.

Jangan ditunggu berlarut-larut. Khawatirnya semakin gaduh nih. Atau, jangan-jangan Pak Prabowo nggak percaya ya dengan KPK? Hmm, gimana bisa percaya? Lha wong, publik aja semakin ke sini semakin tidak percaya dengan lembaga antirasuah itu. Uppss. Hehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait