Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Prabowo dan Bad Mood Mentan SYL

Prabowo dan Bad Mood Mentan SYL


F46 - Wednesday, July 15, 2020 12:00
Presiden Joko Widodo (Jokowi) (dua dari kanan) didampingi oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto (tiga dari kiri), Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (dua dari kiri), dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono (tiga dari kanan) ketika meninjau kawasan food estate di Kalimantan Tengah. (Foto: Fajar)

0 min read

“Untuk menjaga perdamaian dunia, tidak usah diskusi sana-sini tentang potensi konflik antar agama dan antar ideologi, mending fokus ke soal rasio ketersediaan pangan dan jumlah warga dunia” – Sujiwo Tejo, Budayawan asal Indonesia.


PinterPolitik.com

Dunia peran memang selalu menghadirkan ke-uwu-an demi ke-uwu-an ya, cuy. Nah, dari sekian banyak seni peran, baik film maupun teater yang mimin tahu, ada satu yang kayaknya cocok buat menggambarkan mengapa pangan menjadi satu dari sekian banyak sektor yang pengelolaannya tidak lepas dari tetek bengek politik.

Adalah film berjudul Bakoel Kosong yang digarap oleh Center For Indonesian Policy Studies (CIPS) membuat miminsadar kalau soal beras bukan sekadar tuai, garap, panen, jual, dan beli. Lebih dari itu, beras turut serta membawa ambisi, cinta, perhatian, pengorbanan, kekecewaan, serta belas kasih.

Coba saja resapi kalimat yang tertempel di cover film dokumenter ini, “Beras semakin langka. Empat pihak berebut keuntungan. Seorang ibu berduka.” Gimana, cuy? Benar kata mimin kan kalau beras ini kompleks. Dan, menurut mimin, kalau dikontekskan dengan kehidupan, nggak hanya beras saja, melainkan semua pangan juga.

Walhasil, film itu membawa penonton pada ruang politik pengelolaan pangan yang semakin liar. Ngeri dan sedih. Silakan ditonton sendiri. Hehe.

Nah, kalau di film ada Bakoel Kosong, maka di negara kita ada drama juga berjudul food estate. Setelah beberapa kali tarik ulur tentang siapa leading sector dalam pengelolaan proyek lumbung pangan nasional di Kalimantan itu, akhirnya mulai ada titik terang nih.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) secara mengejutkan justru memilih Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto untuk menjadi komandan pengurusan proyek pangan tersebut. Penunjukan ini memang aneh – mengingat masih ada sosok Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang mimin pikir ruang kerjanya pas gitu lhodengan babagan pangan.

Usut punya usut, ternyata Pak Jokowi punya alasan tersendiri dalam penunjukan Pak Prabowo, cuy, yakni sedari dulu ketahanan mencakup pangan juga, bukan hanya alutsista (alat utama sistem senjata).

Ah, tapi masak sih alasannya se-normatif itu? Kalau cuma normatif, kenapa kok nggak dari dulu saja Menhan suruh jagain lumbung pangan kecil-kecilan – nggak harus menjelang proyek food-estate. Apa jangan-jangan Pak Jokowi lumayan nggak percaya ya sama Mentan apabila dikasih tanggung jawab besar? Upps.

Ya, mimin ambil positifnya aja sih, cuy. Berkat keputusan Pak Jokowi tersebut, Mentan akhir-akhir ini jadi lebih tegas dalam bekerja. Bahkan doi nggak segan-segan membentak bawahannya yang kerjanya kurang total dan cenderung cari muka.

Apa yang mengharukan dalam aksi Mentan yang ditujukan kepada anak buahnya itu adalah kalimat Mentan berikut, "Saya mau jajaran saya, kau yang rencanakan, kau yang tanggung jawab, kau yang mengambil ini. Enggak usah cari muka di depan saya, enggak perlu. Karena itu, ketersediaan pangan menjadi satu hal yang sama. Kita punya feel yang sama, kita punya cita-cita yang sama, ini harus tercapai."

Biuh, kerasa nada tidak ikhlas gitu nggak sih, cuy? Hmm, apa Pak SYL lagi bad mood ya gara-gara pilihan presiden tidak jatuh pada beliau? Ya, mungkin, Pak SYL yang tahu perasaan beliau sebenarnya bagaimana.

Terlepas dari itu, kasihan lho bawahannya, bisa kecewa dan merana kena marah dari Bapak. Lagian ini kan soal politis, jadi urusannya 'elite with elite' bukan elite dengan bawahan. Begitu. Hehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait