Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > PDIP Ahli ‘Curigai’ Anies?

PDIP Ahli ‘Curigai’ Anies?


F46 - Monday, September 14, 2020 18:30
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. (Foto: Koran Tempo)

0 min read

“Saya curiga terhadap hal-hal yang tidak disampaikan secara terbuka karena di sanalah sumber segala kekacauan” – Jean Paul Sartre, filsuf asal Prancis


PinterPolitik.com

Gengs, jangan pernah berpikir bahwa prasangka kita pasti benarnya, ya. Pun juga jangan sampai terlalu lugu memandang realitas.

Dua hal itu penting lho perlu dipahami, terutama di era seperti sekarang ini, di mana manusia memiliki kebebasan beraktivitas di banyak ruang dengan menyimpan motif-motif yang nggak kelihatan.

Kita bisa belajar banyak deh lewat film Tilik (2018) yang mengisahkan dua sosok berbeda, yakni Bu Tedjo dan Yu Ning. Bu Tedjo yang sarkas dan gemar membicarakan orang alias gosip berhadapan dengan Yu Ning yang lugu dalam memandang realitas pergaulan anak muda.

Atau, kalau dipermudah, menjadi persinggungan antara orang yang curiga mulu vis-a-vis orang yang pandangannya positif terus.

Mimin sebenarnya tertarik bukan pada pertarungan kedua sudut pandang tokohnya, cuy, melainkan terkesima dengan moral value yang disampaikan film ini – bahwa orang kalau sudah curiga, mau bagaimana pun ya ujungnya tetap curiga. Sekalipun si orang yang dicuriga-in tersebut nggak pernah melakukan kesalahan kepadanya.

Sementara, orang kalau cetakannya netral dalam memandang sesuatu, maka bawaannya pasti positif terus – bahkan meski si orang yang di-omongin tuh ternyata nggak sebaik yang dipikirnya alias menyimpan motif tertentu.

Nah, karena Tilik merupakan gambaran dari realitas kehidupan, tentu punya kemiripan juga dong dengan lingkungan kita. Selain bisa kalian temui di desa-desa, ini juga bisa kalian jumpai di ibu kota lho, cuy.

Lihat saja nyinyiran Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono terhadap kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jilid II oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Kata Pak Gembong nih, kebijakan PSBB-nya Pak Anies sangat berbau politis.

Pasalnya, itu dilakukan di saat banyak pihak sedang berupaya mengintegrasikan aktivitas ekonomi lho. Pak Gembong berpikir bahwa sebenarnya angka keparahan Covid-19 Jakarta tuh bukan tergantung pada PSBB, melainkan keseriusan Pak Anies selama ini.

Bahkan, Pak Gembong berkeyakinan, mau di-terapin bagaimana pun, kalau Pak Anies loyo, yang ada bukan penurunan angka Covid-19, tapi justru penurunan aktivitas ekonomi saja tuh.

Wah, gengs, kok seakan apa yang dilakukan Pak Anies ini salah mulu ya di depan PDIP? Bukan cuma mimin doang lho yang bilang seperti itu. Adi Prayitno, seorang pengamat politik, juga beranggapan bahwa Pak Anies akan selalu salah di mata PDIP kok.

Mimin sih ngerasa-nya begitu. Secara, coba kalian pikir, cuy. Mana ada Gubernur yang pengen menghentikan roda aktivitas ekonomi hanya buat meningkatkan popularitas politisnya? Atau gini deh, kira-kira kebijakan apa selain PSBB yang bisa menghentikan kluster demi kluster Covid-19 di Jakarta? Susah kan jawabannya.

Makanya, karena sampai detik ini, PSBB merupakan ikhtiar alias usaha yang dinilai efektif. Alhasil, Pak Anies mengambil langkah demikian.

Jadi, maksud mimin, ayolah para politisi jangan hanya curiga mulu lho. Berpikirlah positif dalam menghadapi si biang kerok Covid-19. Lagian, dalam hal ini, kita dengerin lah kata para pakar – seperti Indef – yang menganggap kebijakan PSBB ini tepat.

Mimin sih yes sama Indef, sebab kesehatan badan lebih utama daripada makanan berlimpah di atas meja. Ye, kan? Hehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait