Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Menaker: Wasit Buruh vs Pengusaha

Menaker: Wasit Buruh vs Pengusaha


F46 - Tuesday, September 8, 2020 16:00
Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah ketika dipanggil ke Istana. (Foto: Antara)

0 min read

“Modal utama pengusaha adalah jangan cengeng, jangan mudah menyerah” – Chairul Tanjung, pengusaha asal Indonesia


PinterPolitik.com

Gengs, pernah nggak sih kalian berpikir andai nggak ada buku-buku yang berisi teori perjuangan kelas dalam dunia ekonomi dan politik, kira-kira bakal ada nggak ya demo-demo menuntut kenaikan upah? Mimin sering tuh berpikir begitu.

Emang sih kadang-kadang relasi ekonomi ini diperhatikan hanya dari sisi tuntutan buruh saja. Padahal, bukankah para pengusaha atau pemilik modal ini justru yang menjadi penentu para buruh itu bisa mendapatkan upah atau tidak.

Coba kita lihat film-film Hollywood tentang persinggungan dua kelas ini. Di film Spartacus dan American Factory, misalnya, kelihatan banget loh bahwa yang paling utama tuh sisi kemanusiaan yang harmonis, bukan egoisme antar golongan.

Tapi, mimin juga sadar sih, kalau mewujudkan hal itu sangat sulit. Mungkin ini efek doktrin teori kali ya? Upps.

Makanya, karena mengharapkan keduanya berdamai secara alamiah itu susah, di sinilah peran negara dibutuhkan segera. Ibarat pertandingan sepak bola, mengharap kedua tim menjalankan pertandingan secara fair hanya mungkin terjadi manakala ada wasit di tengahnya.

Kalau diterjemahkan, omongan mimin yang berbusa-busa penuh semangat 45 di atas bisa dilihat dalam konteks tuntutan kenaikan upah yang diminta oleh serikat buruh untuk tahun 2021.

Coba bayangin saja, sob, ini kondisinya masih pandemi loh, kok tiba-tiba ada keinginan upah buruh naik. Andai kalian jadi pengusaha, pusing nggak sih kira-kira? Udah pemasukan terganggu, eh ditambah masalah seperti ini.

Tentu saja para pengusaha jadi berkeluh kesah dengan tuntutan ini. Lagian soal Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kerja (UMK) kan sudah diatur di dalam PP 78/2015. Jadi mbok ya semua pihak nurut sama peraturan itu, bukan tambah koar-koar tanpa kejelasan.

Meski begitu ya mimin sadar sih, buruh juga nggak bisa total disalahkan karena mungkin alasannya tuh sama, yakni kebutuhan. Bedanya, kebutuhan pengusaha ada di sektor makro, sedang buruh pada sisi domestik, seperti keluarga.

Apabila sudah begini, mimin pengen deh Bu Ida Fauziyah selaku Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) segera turun tangan. Kan, Bu Ida punya kekuasaan mengatur warga negara, ya tinggal panggil aja tuh perwakilan buruh dan pengusaha.

Berikan penjelasan tentang kondisi ekonomi yang sedang sulit. Sedikit-dikit sampaikan teori trickle down economy sekalian, Buk, biar mereka paham, bahwa jika cash flow perusahaan stabil, kesejahteraan buruh pun ikut stabil. Sedang kondisi sekarang kan masih sama-sama sulit. Kalau perlu ceramahi juga tentang menahan diri dan sabar, ya. Kan Bu Ida harusnya lebih paham kan ya? Upps. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait