Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Megawati ‘Sindir’ Gibran-Bobby?

Megawati ‘Sindir’ Gibran-Bobby?


F46 - Friday, October 30, 2020 12:00
Calon Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka ketika berkunjung ke kediaman Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. (Foto: Dok. PDIP)

0 min read

“Kekuatan terbesar yang dimiliki dunia adalah generasi muda dan kecantikan seorang wanita” – Chanakya, penasihat kerajaan India


PinterPolitik.com

Gengs, di mana-mana orang tua itu harus mampu memberikan suntikan energi dan semangat kepada para generasi muda. Kalian nggak tahu tah bagaimana founding fathers melakukan segala upaya agar tenaga mudanya keren-keren?

Bahkan, saat tenaga muda kepalang berani sampai-sampai terkadang terlihat seolah gegabah, justru generasi tua nggak menghardiknya – malahan membiarkan sembari senyum-senyum tanda bangga.

Kalau nggak percaya tanya saja sama Soekarno dan Hatta yang pernah diculik sama Anak Muda Menteng pimpinan Soekarni itu. Dalam peristiwa yang kita kenal dengan nama Peristiwa Rengasdengklok tersebut, generasi muda benar-benar melakukan tindakan yang kepalang nekat.

Alih-alih para pemimpin tua marah, ternyata Soekarno-Hatta bangga karena generasi muda memiliki cita-cita luhur supaya Indonesia segera merdeka meski lewat cara mendesak keras begitu. Lha, buktinya segera tuh mereka berdua memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Kisah seperti itu mbok ya dipahami oleh generasi tua era sekarang dong. Jangan mentang-mentang ngerasa paling pengalaman lantas nggak memaklumi segala hal yang diinisiasikan oleh anak muda. Lagian, di mana-mana dan di dalam zaman kapan saja, anak muda tuh karakternya sama, yakni bergelora dan masih idealis memandang sesuatu.

Makanya, pas kemarin Bu Megawati Soekarnoputri melontarkan kritik kepada para anak muda milenial yang dianggap bisanya cuma demonstrasi keras dan kurang memberi sumbangsih bagi negara tuh membuat hati mimin tersentil.

Pasalnya, kok bisa Bu Mega yang anak Soekarno itu tegas bilang seperti itu? Padahal, Soekarno itu punya quote begini lho, “aku lebih senang pemuda yang merokok & minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini daripada pemuda kutu buku yang hanya memikirkan diri sendiri.”

Dari kalimat sang ayah saja seharusnya Bu Mega memahami dong pemuda tuh paling ideal ya yang kritis terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Demonstrasi kan menjadi salah satu bukti cinta itu, Bu.

Lagian, kalau toh ada yang bertindak keras bahkan sampai anarkis, ya itu memang salah. Namun, kan nggak bisa dipukul rata begitu seolah semua anak muda milenial anarkis.

Mimin heran deh. Masa Bu Mega nggak pernah demo saat masih muda di kala Indonesia dipimpin Orde Baru. Upps.

Selain itu, Bu Mega seharusnya nggak melabeli anak muda milenial dengan sebutan ‘kurang kontribusi’. Sebab, anak muda milenial banyak yang berkontribusi kok buat negara ini.

Nggak percaya? Tuh mas Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) merupakan anak muda milenial juga kok. Para wakil menteri pun banyak yang masih muda.

Ada lagi loh, Mas Gibran Rakabuming dan Mas Bobby Nasution yang jelas sebagai generasi milenial yang mendapat rekomendasi dari partai yang dipimpin ibu. Jadi tolonglah, jangan gebyak uyah to, Bu.

Khawatirnya jika kalimat Bu Mega ini menyinggung anak muda, terus mereka pada sakit hati, dan memutuskan berhenti mengkritisi negeri ini kan repot jadinya. Siapa yang menjalankan roda demokrasi dong?

Terus, efeknya muncul pemuda apolitis, dan akhirnya berdampak pada partai Bu Mega sendiri yang bisa saja nggak dapat kader muda yang fresh dan giat bekerja. Emang Bu Mega mau itu terjadi? Hehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait