Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Laga Asing di Balik Luhut-Agus

Laga Asing di Balik Luhut-Agus


F46 - Wednesday, September 23, 2020 6:00
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan ketika bertemu dengan Menteri Lingkungan Hidup Jepang Yoshiaki Harada pada Juni 2019 lalu. (Foto: Kemenko Maritim)

0 min read

“Penting meninggalkan kepentingan pribadi, karena rakyat menanti pembuktian janji” – Najwa Shihab, jurnalis asal Indonesia


PinterPolitik.com

Pemanasan global itu benar-benar ada, cuy – bukan sekadar bualan cerita orang-orang pintar. Kalau nggak percaya coba tanya sama sutradara film The Day after Tomorrow Roland Emerich.

Kalian sudah pernah nonton film yang digarap tahun 2004 itu kan? Kalau belum, mimin cerita-in dikit. Begini, seorang ahli iklim dan cuaca – kalau di Indonesia mungkin Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lah ya – bernama Jack Hall punya ramalan bakalan ada pendinginan global pada bumi.

Sebelum sampai pada asumsinya tersebut, Jack jalan-jalan dulu ke Atlantik Utara yang terkenal banyak gunung esnya tuh. Di sana, ia menemukan fenomena menurunnya suhu air dalam skala besar.

"Pemanasan global-lah yang mengakibatkan ini semua," pikirnya saat itu. Dan tatkala pemanasan global berlangsung masif, maka suhu bumi akan mengalami pembalikan berupa pendinginan global.

Setelah mantap dengan analisisnya tersebut, ia presentasi di depan publik, cuy. Namun, sayang banget. Apa yang dilakukannya tuh nggak digubris oleh presiden pun wakil presiden Amerika Serikat (AS).

Sedih nggak sih, gengs? Walhasil, ternyata teorinya Jack tersebut benar-benar terjadi. Kelabakanlah akhirnya orang-orang AS tuh. Hadeuh, dibilang-in sama ahlinya ngeyel sih.

Lagian, kan, secara logis aja sudah bisa ditebak bahwa penggunaan bahan bakar dalam jumlah besar akan memanaskan suhu bumi, terus mencairkan es di kutub, dan akhirnya hawa es menyebar ke seluruh dunia: dingin dan beku. Mbok ya jangan diremehkan soal beginian.

Untungnya, di Indonesia pejabat pemerintahnya – sebagian lho ya – nggak ngeyelan dengan isu climate change, cuy. Makanya, pada bulan lalu, Indonesia melalui Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyatakan komitmen Indonesia terkait hal ini dengan menjalin kerjasama dengan Norwegia Soal pengurangan emisi.

Namun, sayang sekali, sob, kalau kita mengamati perilaku dan kebijakan yang akan diambil Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Rasanya harapan pengurangan emisi gas rumah kaca itu kayak nggak ada bekasnya, cuy.

Bagaimana nggak? Lha wong tiba-tiba Pak Agus ini merencanakan relaksasi pajak mobil baru yang berimplikasi pada penurunan harga mobil sampai 50%. Memang secara sekilas nggak ada dampak mencekam terhadap urusan lingkungan hidup sih.

Namun, coba dipikir, kalau benar jadi direlaksasi, pastinya pembeli mobil bisa ugal-ugalan, cuy. Apabila, sudah begitu, bahan bakar yang dikeluarkan buat kebutuhan mobil-mobil tuh kan juga naik sih. Nah, apa nggak tambah bikin pemanasan global tuh? Hadeuhh.

Lagian nih, kalau melihat alasan dari Pak Agus ini juga aneh loh. Lah gimana, sob? Menurut Pak Agus, ini bertujuan untuk meningkatkan penjualan mobil yang kemarin ini anjlok.

Namun, apa Pak Agus nih nggak memperkirakan situasi ya? Saat pandemi begini, meski masyarakat punya uang banyak, itu juga lebih memilih untuk membeli kebutuhan pokok daripada membeli mobil. Ekonomi bisa disebut para ahli sedang menjadi ekonomi berbasis kebutuhan.

Apa jangan-jangan memang sengaja mau menguntungkan industri mekanik dan permobilan nih? Kan, Pak Agus punya warisan relasi dari sang ayah, Ginanjar Kartasasmita, yang menjabat sebagai advisor bagi Japan International Cooperation Agency (JICA), terkait kerja sama perindustrian dengan Jepang yang terkenal sebagai negara produsen otomotif untuk pasaran Indonesia.

Ini bukan karena bapak habis di-lobby sama elite Jepang kan Pak? Please, jangan sampai ada dusta di antara kita ya pak. Apalagi, Pak Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan kemarin habis “dimarahin” Jepang karena mendorong industri mobil listrik. Upps. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait