Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Ketika Ma’ruf Amin Jadi ‘Ban Serep’

Ketika Ma’ruf Amin Jadi ‘Ban Serep’


A43 - Thursday, November 19, 2020 8:00
Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin ketika ditemui di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta pada tahun 2017 silam. (Foto: Beritagar.id)

0 min read

“그러니까 답을 찾지 말고 선택을 해요. 무슨 선택을 하든 욕은 먹습니다.” – Han Ji-pyeong, Start-Up (2020)


PinterPolitik.com

Sedia payung sebelum hujan. Pepatah ini merupakan pepatah yang bisa dibilang memiliki nilai yang penting. Sebagian besar dari kita pasti mengakui dan pernah mendengar pepatah satu ini.

Tidak hanya di kala hujan, “payung” yang dibutuhkan untuk berjaga-jaga juga berlaku lho di bidang-bidang lain. Ketika akan berpergian menggunakan mobil pribadi, misalnya, kondisi kendaraan juga harus diperhatikan.

Kondisi ban, misalnya, juga perlu diamati dengan saksama. Bila situasi buruk terjadi pada ban, bukan nggak mungkin kita juga perlu ban serep atau ban cadangan dong.

Uniknya, istilah “ban serep” ini tampaknya tidak hanya digunakan di dunia otomotif, melainkan juga di dunia politik. Beberapa waktu lalu, Institute for Developments of Economics and Finance (INDEF) mengularkan sebuah hasil riset lho terkait isu dan tokoh politik yang banyak diperbincangkan oleh publik.

Dalam riset yang dilakukan pada Juli hingga November 2020 tersebut, Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin dianggap tidak populer sama sekali lho di publik – khususnya soal sikap, kebijakan, dan kiprahnya. Bahkan, riset itu menyebutkan bahwa Pak Kiai Ma’ruf ini bagaikan ‘ban serep’ yang biasa disematkan pada istilah wapres di era Orde Baru.

Hmm, istilah ini sebenarnya mengemuka di era Orde Baru sih. Kala itu, Presiden Soeharto selama menjabat banyak memiliki figur wapres yang berganti-ganti – seakan-akan jabatan itu hanya pelengkap bagaikan ban cadangan.

Ya, kalau dibandingkan dengan menteri-menteri Kabinet Indonesia Maju, Pak Kiai Ma’ruf ini kalah jauh sih. Pasalnya, banyak menteri seperti Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto, Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi, dan kawan-kawan lebih banyak menjadi buah bibir publik.

Menanggapi riset INDEF tersebut, Kantor Wapres pun angkat bicara. Kata Juru Bicara Wapres Masduki Baidlowi, Pak Kiai Ma’ruf tidak ingin ada matahari kembar di pemerintahan di samping Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri. Pernyataan seperti ini juga sebelumnya pernah diungkapkan lho oleh Pak Wapres pada Januari 2020 lalu.

Wah, kalau gitu alasannya, Pak Kiai Ma’ruf ini bisa belajar ke salah satu tokoh anime yang bernama Sasuke Uchiha deh. Soalnya, karena merasa lemah dan melihat Naruto Uzumaki lebih dominan sebagai Hokage, Sasuke akhirnya berkelana meninggalkan Desa Konoha.

Padahal tuh, kalau menurut Boruto Uzumaki, Sasuke juga pantas lho buat jadi Hokage. Ya, mungkin, mirip Pak Kiai Ma’ruf, Sasuke juga nggak ingin tuh ada matahari kembar di Desa Konoha.

Hmm, tapi nih ya, Sasuke kan masih didengar tuh oleh Naruto saran-sarannya. Kalau Pak Kiai Ma’ruf gimana ya? Kan, dengar-dengar, Pak Wapres pengaruhnya menjadi minim karena jarang dilibatkan oleh Presiden Jokowi. Sampai-sampai, Pak Jokowi sempat lupa menyapa Pak Kiai Ma’ruf. Hehe.

Ya, kalau gitu, kembali lagi sih pertanyaannya. Pak Kiai Ma’ruf ini tidak ingin ada matahari kembar atau emang jarang didengar ya sama Pak Jokowi?

Mungkin, Pak Kiai Ma’ruf perlu nih belajar dengan Nam Do-san di seri Start-Up (2020-sekarang). Meskipun Do-san ini terbilang jenius, dia ternyata dikenal pemalu dan jarang memaparkan arah gagasan hidupnya dengan baik.

Jangan sampai lah Pak Kiai Ma’ruf seperti Do-san yang jadi kurang didengar meskipun punya gagasan-gagasan brilian. Barang kali, Pak Kiai Ma’ruf perlu tegas layaknya Han Ji-pyeong. Hehe. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait