Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Kecelakaan Mobil Dinas Sultan, Kebetulan?

Kecelakaan Mobil Dinas Sultan, Kebetulan?


A27 - Monday, October 16, 2017 9:25
gubernur-diy--101017-4||Kantor Gubernur DI Yogyakarta

0 min read

Tepat sehari setelah pelantikan, mobil dinas Sultan Hamengku Buwono X mengalami kecelakaan di Kulon Progo Kamis siang (12/10). Pertanda apa? Kebetulan?






PinterPolitik.com

 

[dropcap size=big]B[/dropcap]agi sebagian orang tiap kejadian yang baik atau buruk punya arti tersendiri. Tak ada sesuatu terjadi tanpa makna di belakangnya. Begitu pula untuk sebagian warga Yogyakarta dan Jawa Tengah pada umumnya.

Jika benar demikian, maka peristiwa kecelakaan yang terjadi di hari pertama bertugas, punya pesan-pesan khusus. Mistik dan terkesan konspiratif memang, dan sulit untuk tidak berpikir demikian. Mengapa? Sebelum ‘tragedi’ terjadi, ada hal-hal yang ‘jadi’ pemicunya.

Begini, sehari sebelumnya sang Sultan dilantik sebagai Gubernur DIY periode 2017 – 2022, kan. Ada yang agak janggal di sana, yaitu ketidakhadiran para rayi atau keluarga inti keraton yang merupakan keturunan Sultan HB IX. Bahkan, si adik tiri Sultan HB X bilang jika dirinya tak diundang sama sekali ke acara pelantikan. Bukankah menggaet restu keluarga adalah cara hakiki menempuh kenyamanan karir dan hidup? Pasti yang mulia Sultan tahu itu.

[caption id="attachment_14397" align="aligncenter" width="1024"] Kantor Gubenur DIY Yogyakarta (sumber: istimewa)[/caption]

Yang kedua adalah letak kantor Gubernur DIY Yogyakarta. Apakah kamu tahu di mana letak persis kantor Gubernur DIY Yogyakarta? Kalau dilihat secara ‘kejawen’, letak kantor Gubernur ini memunggungi Gunung Merapi. Hal itu sangatlah fatal, sebab dalam kepercayaan atau mitos kejawen Yogyakarta, seorang raja atau pemimpin Yogyakarta seharusnya menghadap Gunung Merapi. Rakyatlah yang memunggungi Merapi. Celaka jika sebaliknya yang terjadi.

Apakah benar karena letak kantor maka ‘tragedi’ itu terjadi? Hmm, bisa jadi. Namun, ini tak menutup kemungkinan ketiga yang paling mendekati. Mungkin ini bentuk ‘kebosanan’ leluhur sebab sang Sri Sultan HB X sudah lebih dari satu dekade memimpin Yogyakarta. Ya, mau bagaimana lagi namanya juga daerah istimewa kerajaan, harus dipimpin raja terus, dong.

Maka dari itu, apakah ini kebetulan? Tentu tidak. Tragedi ini pasti punya pesan khusus di belakangnya. Bagaimana tidak, si Raja 10 punya banyak hutang penjelasan soal gesekan dengan penghuni asrama Papua, petani Kulonprogo, warga yang bertetangga engan hotel-hotel, keluarga Tionghoa miskin yang tak punya tanah, atau seteru adik-adiknya soal tahta.

Soal Paduka Raja Hamengkubuwono juga jadi soal warga “serambi Madinah” di seantero Jogja. Tapi tanpa sang Raja, negeri ini tetap berdenyut hidup karena masih ada kamu dan kamu yang ngomel-ngomel di dalamnya. Kebetulan? (A27)

Berita Terkait