Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Jangan Ada Rain Yang Lain

Jangan Ada Rain Yang Lain


R24 - Monday, January 29, 2018 18:28
Domestik Violence||Pernikahan Anak

0 min read

Kesadaran akan pencegahan KDRT di NTB mulai bergeliat. Di beberapa desa, pernikahan di bawah usia 19 tahun mulai dilarang.






PinterPolitik.com

[dropcap]U[/dropcap]sia Rizal sudah menginjak 28 tahun, saat keluarganya membawa Rain yang masih berusia 16 tahun, sebagai calon istrinya. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), usia Rain yang masih duduk di kelas satu SMA, telah dianggap cukup untuk dinikahkan.

Sebagai pria yang usianya di atas 25 tahun, Rizal sudah dianggap “terlalu tua” untuk terus membujang. Meski Rizal sendiri sudah pernah mengecap pendidikan tinggi dan kini berprofesi sebagai fotografer lepas, namun ia tetap tak mampu mengelak dari perjodohan yang dilakukan oleh orangtuanya.

Di Kabupaten Lombok Barat, keluarga Rizal memiliki reputasi  yang cukup baik. Sementara Rain, merupakan putri dari keluarga biasa di kampungnya. Beban hutang yang cukup membelit, membuat keluarga Rain bersedia menyodorkan putrinya sebagai “pelunas” saat orangtua Rizal memintanya untuk dinikahkan dengan putra mereka.

Sementara di mata Rain, Rizal hanyalah pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya tanpa rencana. Tak heran, bila gadis cantik dan periang yang memiliki banyak teman ini syok dengan keputusan orangtuanya. Pernikahan bagi Rain, bagaikan badai besar yang meluluhlantakkan impian-impiannya.

Tanpa cinta, tanpa persiapan, keduanya kini harus mengarungi kehidupan bersama. Tautan usia yang begitu jauh pun membuat Rain melihat Rizal sebagai sosok yang “menakutkan”. Sehingga apa yang diharapkan sebagai kebahagiaan di awal-awal pernikahan, hanyalah mimpi buruk dan neraka bagi keduanya.



Sikap Rain yang masih kekanak-kanakan, tidak terampil dengan pekerjaan rumah dan sebagai seorang istri, membuat Rizal kerap merasa kesal. Amarah di dalam dirinya atas keputusan sepihak keluarganya pun, semakin lama semakin membuncah. Hingga akhirnya, “bom waktu” di dalam dirinya itu pun kerap meledak.

Kata-kata kasar yang sering ia lemparkan pada Rain, semakin lama semakin sering dan tak jarang disertai dengan tamparan, tempelengan, bahkan cambukan. Satu dua kali, Rain hanya bisa menangis dan mengurung diri, namun lama kelamaan Rain mulai berani melarikan diri, pulang ke rumah orangtuanya.

Beberapa kali, keluarga Rain dan Rizal berupaya menyatukan pernikahan mereka kembali. Namun Rain terus berkeras menolak. Pertikaian dua keluarga ini pun, kemudian menjadi bahan omongan masyarakat. Para tetua kampung ikut turun tangan, termasuk salah satu teman kuliah Rizal dulu.

Adalah Yoni, teman Rizal yang kini aktif di sebuah lembaga swadaya masyarakat, mengajaknya untuk berbincang-bincang mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Dari Yoni, Rizal mulai paham bahwa apa yang ia lakukan itu salah. Walau bagaimana pun, kini Rain adalah istrinya. Tanggung jawabnya lah untuk menjadikan rumah tangga mereka bahagia.

Bersama Yoni pula, kini Rizal memiliki tujuan hidup lain, yaitu berupaya mencegah apa yang ia alami ikut dirasakan oleh orang lain. Bersama-sama LSM di desanya, Rizal membayar kesalahannya dengan memberikan kesadaran akan akibat dari pernikahan dini. Dan berkat perannya pula, kini di NTB tindakan KDRT telah mampu di tekan. (R24)

Berita Terkait