Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Djarot, Drama, dan Labuan Bajo

Djarot, Drama, dan Labuan Bajo


A27 - Tuesday, October 17, 2017 17:56
14351791508052629f4a-pelepasan-djarot-dari-gubernur-dki||Djarot-sesando

0 min read

Di tengah gempita pelantikan Gubernur DKI Jakarta yang baru serta kisruh pidatonya, Djarot fokus liburan di Labuan Bajo.






PinterPolitik.com

[dropcap size=big]S[/dropcap]ungguh enak jadi Djarot. Tak perlu ikut-ikutan berlarut dalam pesta yang sedetik kemudian berubah jadi bahan gunjingan sebab Gubernur DKI Jakarta yang baru itu, terindikasi ehem rasis. Lihat saja, hingga saat ini masih banyak pihak yang mengulik-ngulik pidato Gubernur itu.

Yasudah lah, biar dia jadi masalah Jakarta yang baru. Mungkin itu respon yang terucap oleh Pak Djarot jika melihat media sosial saat ini. Atau bahkan ia tak tahu menahu sama sekali sebab enggan menengok dunia maya, istilahnya, “I am bussy enjoying my life, darling”.

[caption id="attachment_14492" align="alignright" width="300"] Djarot Saiful (sumber: Detik)[/caption]

Pak Djarot memang butuh liburan. Tak sekedar itu, tapi liburan bersama orang-orang tercinta, yakni istri dan ketiga anak perempuannya. Bagaimana tidak, setahun terakhir berdiri di kantor Gubernur DKI Jakarta, drama dan air mata sudah banyak tumpah. Mulai dari pergantian Ahok menjadi Gubernur, melewati masa kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017 bersama Ahok, pemenjaraan Ahok, hingga dirinya yang kebagian memimpin di sisa-sisa waktu.

Ya, walau sebentar di atas ‘panggung’, tapi pergolakan yang dialami Pak Djarot sungguh berliku dan panjang. Demi mengembalikan ketenangan jiwa raga dan dunia akhirat, waktu bercengkrama bersama keluarga di Labuan Bajo, NTT memang obatnya. Benar begitu kan, Pak Djarot?

Tak wajib hukumnya mengikuti segala intrik dan drama politik tak berkesudahan. Lebih baik menikmati cakrawala pantai Labuan Bajo sambil menikmati gurame asam manis dan ikan tongkol bakar. Sorenya, sembari menunggu matahari tenggelam, jagung bose sebagai cemilan layak dicoba.

Itu saja? Tentu tidak. Malam harinya, nasi Kolo, sambal ikan teri, serta tumisan bunga papaya, menunggu untuk mendamaikan hati Pak Djarot dan keluarga. Sungguh sedap. Bila dibandingkan dengan masa bertugas di periode lalu, tentu pengalamannya jauh. Sejauh langit dengan cacing tanah.

Tak usah peduli dengan kebijakan-kebijakan yang Bapak buat mendekati garis finish pemerintahan. Mulai dari pelarangan motor di beberapa titik di Jakarta, garasi mobil, hingga masuk Ancol gratis. Mau berhasil atau tidak, tak jadi soal. Yang penting sekarang sudah lepas beban.

Digosipkan karena tak hadir di acara sertijab dan pelantikan? EGP (Emang Gua Pikirin) saja, Pak. Liburan bersama orang terkasih lebih utama, kok. Sungguh Bapak telah mengambil langkah bijak nan tepat.

Tapi ingat, Pak. Sekembalinya dari Labuan Bajo, kuda-kuda strategi politik harus kembali dikencangkan lho. Tak bisa beralih dari liburan bisa gawat, Pak. Kalau ngeyel, Mama akan mengomel. Hiy, tak ada yang mau berurusan dengan sang Mama, lho. Maka dari itu, nikmatilah waktu di Labuan Bajo seoptimal mungkin. Kalau bisa nikmati jus susu jagung sampai kembung. Siapa tahu semua bisa jadi modal ‘vitamin’, menghadapi drama politik lainnya di masa depan. (A27)

Berita Terkait