Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > Apesnya Nasib Duo Jagoan Jabar

Apesnya Nasib Duo Jagoan Jabar


Z19 - Friday, December 29, 2017 16:05
Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar

0 min read

“Lagi pula, setiap manusia ditakdirkan untuk saling menyakiti. Betapa beruntungnya mereka yang tidak terlahir. Bahagia dalam ketiadaan.”






PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]erasaan ditinggalkan dan dikhianati adalah momen paling menyakitkan. Namun dalam dunia perpolitikan ada sebuah pengecualian dan pembenaran atas nasib yang memilukan itu.

Alasannya ialah karena dunia politik sangat dinamis, maka partai pun mudah untuk jatuh hati atau untuk berpaling sekalipun. Hmmm, partai memang susah untuk setia ya weleeeh weleeeh.

Itulah yang setidaknya terjadi pada Dedi Mizwar alias Kang Demiz dan Ridwan Kamil alias Kang Emil. Dari segi hitung-hitungan politik, keduanya punya kans untuk melenggang merebut kursi Gubernur Jawa Barat. Apalah daya tangan tak sampai. Hanya kisah pilu yang mereka dapatkan.

Kedua memiliki kesamaan nasib: sama-sama ditinggalkan. Weleeeeh weleeeh sedih juga ya. Tapi ya mau gimana lagi, dinikmati sajalah.

Kepiluan ini diawali oleh Kang Demiz yang dicabut dukungannya dari Gerindra dan disusul lagi dengan bubarnya Koalisi Zaman Now yang didalamnya ada PKS dan PAN.

Gerindra, PKS dan PAN sedang tersenyum karena sudah resmi mengusung Sudrajat-Syaikhu. Tapi mereka tersenyum di atas penderitaan Kang Demiz. Tega sekali ya weleeeh weleeeh.

Padahal, sebagai petahana Kang Demiz akan lebih mudah memenangkan pertarungan, entah apa yang menjadi dasar pertimbangannya? Hmmm. Sabar dan tabah ya Kang weleeeeh weleeeh.

Kedua, nasib pilu pun dialami Kang Emil. Sang Walikota Bandung ini mengalami pencabutan dukungan dari Partai Golkar. Alasannya, pasca berganti Ketua Umum, si Beringin berpaling ke Dedi Mulyadi.

Tapi, dari keduanya mengapa ditinggalkan partai ya? Nasibnya kok malah memilukan. Seharusnya duo primadona mendapatkan tempat yang nyaman untuk memenangkan kontestasi dengan mudah.

Tapi sayangnya aral melintang diantara kedua primadona ini.

Akhirnya, Pilgub Jawa Barat akan menantikan kisah duo primadona yang tak dimanfaatkan partai untuk mudah memenangkan konstestasi.

Tapi justru partai lebih memilih bekerja lebih keras dan lama untuk mengusung calon alternatif.

Hmmmm, daripada capek - capek ngusung yang baru mendingan usung aja salah satu primadona jadi lebih menghemat tenaga.

Partai politik, masih mau membuka hati untuk dua primadona ini? (Z19)

Berita Terkait