Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Celoteh > 'Ahok' Kecil Jangan Dibully

'Ahok' Kecil Jangan Dibully


A27 - Wednesday, November 1, 2017 13:44
20170203waduh-anak-anak-sd-serbu-ahok-saat-kampanye-di-lubang-buaya_20170203_161024||_98553294_e271b209-4569-4df6-aaf7-3763a52907f2

0 min read

Bapak dan ibu guru, serta polisi sekalian, anak SD ditusuk pakai pulpen dan diejek sebagai ‘Ahok kecil’ bukanlah kenakalan anak biasa.






PinterPolitik.com 

[dropcap]B[/dropcap]ocah kelas 4 SD itu sudah tak sudi menginjakan kakinya ke sekolah. Bagaimana tidak? Tak salah apa-apa, tangannya ditusuk pulpen oleh teman sekelasnya. Katanya, itu karena dia mirip ‘Ahok’. Walahdalah! Dari mana bocah SD belajar jadi haters sampai segitunya?

Untung saja Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Bapak Polisi sudah turun tangan. Tapi kok ya masih ngenes? Kenapa? Ya, guru-gurunya itu ke mana, lho? Kok ya, pihak sekolah nggak melindungi dan menindaklanjuti aksi bully itu terlebih dahulu? Atau apakah memang sudah ada usaha, tapi kurang tawakal-nya?

Tapi apapun itu, berpikir kalau bully yang dialami bocah malang itu adalah buah kenakalan ‘biasa’ anak kecil, ya salah besar. Kenapa salah? Karena itu tanda kita memaklumi kekerasan dan tak memahami dampak panjang yang dialami korban dan pelaku bully. Ingat lho, bapak-bapak dan ibu-ibu, ini masih kelas 4 SD.

[caption id="attachment_15365" align="aligncenter" width="660"]Anak SD Mirip Ahok, Jangan Bully JSZ (tengah), bersama Ayah dan polisi. (foto: Tribun)[/caption]

Si korban bisa rentan terkena trauma, sementara pelakunya tak menutup kemungkinan bakal jadi tukang pukul profesional di masa depan. Mau selesaikan masalah apapun, solusinya bak, buk, bak, buk. Ini skenario terburuknya, lho. Nah, kalau sudah begitu, tak ada lagi manfaat bermaklum-maklum ria. Ini adalah ekses kebencian sisa remah-remah Pilkada Jakarta 2017 yang naudzubillah membelah masyarakat.

Bayangkan saja, dari mana si anak mempelajari perilaku kasar terhadap anak yang memiliki agama dan penampilan fisik berbeda dengan mayoritas murid lainnya? Dari orang tuanya? Dari gurunya? Dari media sosial? Dari televisi? Hayo, yang mana?

Tentu kasus (dan kasus-kasus serupa sebelumnya), wajib menjadi pembelajaran bersama bagi sekolah maupun Dinas Pendidikan. Bapak dan Ibu guru jangan sampai kebangetan untuk tak memperhatikan masalah kekerasan anak di sekolah. Sebab selain mengajar dan memberi pekerjaan rumah, tugas para elemen di sekolah, ya wajib membangun sekolah yang ramah pada anak.

Mau memperkuat nilai-nilai kebangsaan serta keragaman? Halah, silakan mimpi. Jalan akan terus mampet kalau perangkat pendidik dan pelindung masyarakatnya cuek bebek dan malas peduli. (A27)

Berita Terkait